Sinergi Kegiatan Budaya Melalui Platform “Indonesiana”

Sinergi Kegiatan Budaya Melalui Platform “Indonesiana”

Sinergi Kegiatan Budaya Melalui Platform “Indonesiana”

Sinergi Kegiatan Budaya Melalui Platform “Indonesiana”
Sinergi Kegiatan Budaya Melalui Platform “Indonesiana”

 

 

Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid mengatakan tata kelola kebudayaan menjadi poin penting yang perlu mendapatkan perhatian khusus. Karena itu ia mengajak seluruh pemangku kepentingan bidang kebudayaan untuk bersama-sama memperbaiki dan meningkatkan kualitas tata kelola kebudayaan, baik dari sisi kualitas, manajemen, maupun tindakan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan membentuk sebuah platform yang diberi nama Indonesiana.

“Indonesiana adalah sebuah platform kegiatan kebudayaan yang nantinya

akan digarap bersama-sama antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah,” ujar Hilmar Farid di hadapan peserta Lokakarya (Workshop) Platform Indonesiana, di Jakarta, Selasa (20/2/2018). Lokakarya Platform Indonesiana dihadiri oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) di lingkungan Direktorat Jenderal Kebudayaan dan perwakilan dinas kebudayaan dari berbagai provinsi. Hilmar menyebutkan, tata kelola yang baik akan mempermudah kebudayaan bergerak dan membangun kesadaran masyarakat.

“Di Indonesiana ini kita mencoba untuk memperbaiki, meningkatkan kualitas tata kelola kita melalui tindakan. Ini ditekankan karena semangat kita bukan hanya melaksanakan kegiatan. Kita sering bilang kegiatan-kegiatan kita bisa mendunia. Namun kalau hanya terus berkutat di lingkungan sendiri dan senang pada kegiatan sendiri hanya akan jadi katak dalam tempurung. Harus tumbuh kesadaran bahwa ada dunia yang besar di luar sana. Jadi semangat kita bukan sedang berlomba-lomba membuat festival,” katanya.

Ia menuturkan, tata kelola tersebut bertujuan untuk menyinergikan pemangku

kepentingan, yakni antarkementerian, lembaga hingga komunitas-komunitas untuk duduk bersama dan saling terkoneksi satu sama lain. Hasil akhirnya ialah membentuk budaya masyarakat yang mandiri.

“Ini ibarat kita sedang menanam sesuatu. Kadang-kadang tumbuhnya itu di luar dugaan, mekar dengan cepat. Bahkan ketika masyarakat sudah melebihi kemampuan kita untuk mengurusnya dan berdaya menjalankan kegiatan itulah keberhasilannya. Sehingga kita para birokrat ini tinggal duduk, memfasilitasi, melihat bagaimana itu tumbuh dan sesekali turun untuk mengairi. Karena apa? Kebudayaan itu lahir di dalam masyarakat. Tugas kita tidak lain adalah untuk memperlancar dan mempermudah orang untuk bertindak,” ujarnya.

Saat ini Direktorat Jenderal Kebudayaan tengah menyiapkan platform

Indonesiana untuk menemukan rumusan-rumusan yang tepat dalam meningkatkan tata kelola festival budaya di kawasan yang menjadi titik lokasi. Tak hanya itu, fokus utamanya ialah peningkatan kualitas manajemen, perluasan akses dan penguatan jejaring budaya, serta menyusun skema dan mekanisme sebagai acuan kerja pemerintah di bidang kebudayaan.

 

Baca Juga :

 

 

Mendikbud: Indonesia Butuh SMK dengan Bidang Keahlian Produksi Garam

Mendikbud Indonesia Butuh SMK dengan Bidang Keahlian Produksi Garam

Mendikbud: Indonesia Butuh SMK dengan Bidang Keahlian Produksi Garam

Mendikbud Indonesia Butuh SMK dengan Bidang Keahlian Produksi Garam
Mendikbud Indonesia Butuh SMK dengan Bidang Keahlian Produksi Garam

Kemendikbud — Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy menilai Pulau Madura, Jawa Timur, merupakan daerah yang tepat untuk mendirikan sekolah menengah kejuruan (SMK) yang memiliki bidang keahlian Produksi atau Budidaya Garam. Ia mengatakan, hal itu sesuai dengan potensi alam Madura, sekaligus untuk membantu mengatasi ketergantungan impor Indonesia akan garam.

Hal tersebut diungkapkan Mendikbud saat berkunjung ke Kantor Radar Madura Perwakilan Sampang, Jawa Timur, Senin (12/2/2018).

Indonesia memiliki garis pantai terpanjang nomor tiga di dunia, dan dua per

tiga wilayah Indonesia merupakan lautan. Namun, hingga saat ini Indonesia masih melakukan impor garam. Tingkat produksi garam di Indonesia belum mampu memenuhi kebutuhan domestik, dan sekitar 90 persen produksi ada di Pulau Madura.

Mendikbud mengatakan, pendirian SMK Garam di Pulau Madura merupakan langkah yang sangat tepat dan strategis untuk mencetak tenaga terampil di bidang produksi garam. Diharapkan, tenaga terampil SMK bisa memodernisasi teknik produksi garam.

“Kalau nanti bisa membuat kita swasembada garam, itu sudah prestasi luar biasa,” katanya.

Menurutnya, siapa saja bisa bermitra dengan Kemendikbud dalam pendirian

SMK yang memiliki bidang keahlian produksi garam. Yang penting, ada pihak yang bisa menyediakan tanah untuk gedung sekolah.

“Tenaga pengajarnya yang menyediakan Kemendikbud. Jika perlu kita sekolahkan ke luar negeri,” katanya.

Dalam kunjungannya ke Kabupaten Sampang, Mendikbud bersilaturahmi ke

Pondok Pesantren Darussalam Torjun yang diasuh K.H. Abu Ahmad M. Dhoveir Shah. Kehadiran Mendikbud disambut dengan alunan nada Thala’al Badru oleh ratusan santri. Mendikbud juga bersilaturahmi ke Pondok Pesantren Al Ihsan, Omben, Sampang, asuhan K.H. Mahrus Malik. Pada kesempatan itu Mendikbud menerima pernyataan taisiyah alim ulama Sampang terkait pendidikan. (AH)

 

Sumber :

https://www.kaskus.co.id/thread/5d2e2d6f018e0d73cd7336bf/

Pusbangfilm Kemendikbud Upayakan Peningkatan Kompetensi Asesor Bidang Perfilman

Pusbangfilm Kemendikbud Upayakan Peningkatan Kompetensi Asesor Bidang Perfilman

Pusbangfilm Kemendikbud Upayakan Peningkatan Kompetensi Asesor Bidang Perfilman

Pusbangfilm Kemendikbud Upayakan Peningkatan Kompetensi Asesor Bidang Perfilman
Pusbangfilm Kemendikbud Upayakan Peningkatan Kompetensi Asesor Bidang Perfilman

Kemendikbud — Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Pusat Pengembangan Perfilman (Pusbangfilm) terus berupaya meningkatkan kompetensi sumber daya manusia (SDM) bidang perfilman. Salah satu jenis keahlian yang didorong untuk dimiliki insan perfilman adalah asesor bidang perfilman.

Sebagai upaya meningkatkan kompetensi asesor perfilman, Pusbangfilm menyelenggarakan Pelatihan Asesor Kompetensi Bidang Perfilman, tanggal 1 sampai dengan 7 Maret 2018 di Hotel Mirah Bogor. Kegiatan ini diikuti 24 peserta hasil seleksi yang dilakukan sebelumnya.

Asesor bidang perfilman sangat penting untuk proses sertifikasi tenaga perfilman. Dalam Undang-Undang (UU) Nomor 33 Tahun 2009 tentang Perfilman pasal 74 ayat 1 dan 2 dinyatakan bahwa setiap insan perfilman harus memenuhi standar kompetensi. Standar kompetensi yang dimaksud dilakukan melalui sertifikasi.

Sertifikasi ini juga merujuk pada UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Sertifikasi, dimana sertifikat kompetensi yang dikeluarkan oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) melalui pemberian lisensi kepada Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP). Salah satu persyaratan dalam pendirian LSP tersebut adalah tersedianya tenaga asesor yang mempunyai tugas melakukan uji kompetensi terhadap peserta.

Peserta pelatihan asesor ini melalui proses seleksi dengan beberapa

persyaratan antara lain: a. kompeten di bidang perfilman; b. pernah mendapatkan penghargaan di bidang perfilman dan/atau sarjana di bidang perfilman; c. profesional di salah satu bidang profesi perfilman dan/atau pengajar di bidang perfilman.

Kepala Pusbangfilm, Maman Wijaya, mengatakan tujuan penilaian (assessment) di bidang perfilman adalah meningkatkan kompetensi SDM bidang perfilman agar mampu bersaing di era pasar bebas. “Terlebih lagi dengan diberlakukannya Masyarakat Ekonomi Asean, kita butuh SDM bidang perfilman yang kompeten dan memiliki sertifikat kompetensi,” kata Maman Wajaya, Senin (5/3/2018).

Asrizal Tatang, pembicara dari BNSP mengatakan kondisi saat ini ada ribuan

tenaga kerja profesional di bidang perfilman, namun belum memiliki sertifikasi kompetensi. “Hal ini bukan karena mereka, pekerja film itu, tidak kompeten, namun karena belum ada lembaga sertifikasi profesi atau LSP ruang lingkup perfilman yang dikeluarkan oleh BNSP melalui lisensi,” ujar Asrizal.

Dalam pelatihan selama tujuh hari ini, peserta memperoleh materi yang

lengkap tentang penilaian kompetensi bidang perfilman. Selain mendapatkan materi terkait penilaian, peserta juga melakukan role play atau praktek penilaian yang dipandu langsung oleh master asesor dari BNSP.

Setelah pelatihan, dilakukan ujian sertifikasi. Dari 24 peserta, 18 peserta dinyatakan lulus sebagai asesor bidang perfilman dan memperoleh sertifikat asesor. (Nur Widiyanto)

 

Sumber :

http://ejournal.upi.edu/index.php/WapFi/comment/view/15816/0/115984

Wujud dan komponen Kebudayaan Lengkap

Wujud dan komponen Kebudayaan Lengkap

Wujud dan komponen Kebudayaan Lengkap

Wujud dan komponen Kebudayaan Lengkap

Wujud dan komponen

Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga: gagasan, aktivitas, dan artefak.

Gagasan (Wujud ideal)
Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak; tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau di alam pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut.

Aktivitas (tindakan)
Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan didokumentasikan.

Artefak (karya)
Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret di antara ketiga wujud kebudayaan. Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia.

Komponen

Berdasarkan wujudnya tersebut, Budaya memiliki beberapa elemen atau komponen, menurut ahli antropologi Cateora, yaitu :

Kebudayaan material
Kebudayaan material mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata, konkret. Termasuk dalam kebudayaan material ini adalah temuan-temuan yang dihasilkan dari suatu penggalian arkeologi: mangkuk tanah liat, perhisalan, senjata, dan seterusnya. Kebudayaan material juga mencakup barang-barang, seperti televisi, pesawat terbang, stadion olahraga, pakaian, gedung pencakar langit, dan mesin cuci.

Kebudayaan nonmaterial
Kebudayaan nonmaterial adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke generasi, misalnya berupa dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tarian tradisional.

Lembaga social
Lembaga social dan pendidikan memberikan peran yang banyak dalam kontek berhubungan dan berkomunikasi di alam masyarakat. Sistem social yang terbantuk dalam suatu Negara akan menjadi dasar dan konsep yang berlaku pada tatanan social masyarakat. Contoh Di Indonesia pada kota dan desa dibeberapa wilayah, wanita tidak perlu sekolah yang tinggi apalagi bekerja pada satu instansi atau perusahaan. Tetapi di kota – kota besar hal tersebut terbalik, wajar seorang wanita memilik karier

Sistem kepercayaan
Bagaimana masyarakat mengembangkan dan membangun system kepercayaan atau keyakinan terhadap sesuatu, hal ini akan mempengaruhi system penilaian yang ada dalam masyarakat. Sistem keyakinan ini akan mempengaruhi dalam kebiasaan, bagaimana memandang hidup dan kehidupan, cara mereka berkonsumsi, sampai dengan cara bagaimana berkomunikasi.

Estetika

Berhubungan dengan seni dan kesenian, music, cerita, dongeng, hikayat, drama dan tari –tarian, yang berlaku dan berkembang dalam masyarakat. Seperti di Indonesia setiap masyarakatnya memiliki nilai estetika sendiri. Nilai estetika ini perlu dipahami dalam segala peran, agar pesan yang akan kita sampaikan dapat mencapai tujuan dan efektif. Misalkan di beberapa wilayah dan bersifat kedaerah, setiap akan membangu bagunan jenis apa saj harus meletakan janur kuning dan buah – buahan, sebagai symbol yang arti disetiap derah berbeda. Tetapi di kota besar seperti Jakarta jarang mungkin tidak terlihat masyarakatnya menggunakan cara tersebut.

  • Bahasa
    Bahasa merupakan alat pengatar dalam berkomunikasi, bahasa untuk setiap walayah, bagian dan Negara memiliki perbedaan yang sangat komplek. Dalam ilmu komunikasi bahasa merupakan komponen komunikasi yang sulit dipahami. Bahasa memiliki sidat unik dan komplek, yang hanya dapat dimengerti oleh pengguna bahasa tersebu. Jadi keunikan dan kekomplekan bahasa ini harus dipelajari dan dipahami agar komunikasi lebih baik dan efektif dengan memperoleh nilai empati dan simpati dari orang lain.

Aritkel terkait ;

Pengertian Kebudayaan Serta Deifinisi Dan Unsurnya

Pengertian Kebudayaan Serta Deifinisi Dan Unsurnya

Pengertian Kebudayaan Serta Deifinisi Dan Unsurnya

Pengertian Kebudayaan Serta Deifinisi Dan Unsurnya

Definisi Budaya

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi.Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.

Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.

Beberapa alasan mengapa orang mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain terlihat dalam definisi budaya: Budaya adalah suatu perangkat rumit nilai-nilai yang dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung pandangan atas keistimewaannya sendiri.”Citra yang memaksa” itu mengambil bentuk-bentuk berbeda dalam berbagai budaya seperti “individualisme kasar” di Amerika, “keselarasan individu dengan alam” di Jepang dan “kepatuhan kolektif” di Cina.

Citra budaya yang bersifat memaksa tersebut membekali anggota-anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan dunia makna dan nilai logis yang dapat dipinjam anggota-anggotanya yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka.

Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain.

Pengertian kebudayaan

Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism.

Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic.

Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.

Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.

Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.

Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak.

Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.

Unsur-Unsur

Ada beberapa pendapat ahli yang mengemukakan mengenai komponen atau unsur kebudayaan, antara lain sebagai berikut:

  1. Melville J. Herskovits menyebutkan kebudayaan memiliki 4 unsur pokok, yaitu:
    • alat-alat teknologi
    • sistem ekonomi
    • keluarga
    • kekuasaan politik
  2. Bronislaw Malinowski mengatakan ada 4 unsur pokok yang meliputi:
    • sistem norma sosial yang memungkinkan kerja sama antara para anggota masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan alam sekelilingnya
    • organisasi ekonomi
    • alat-alat dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk pendidikan (keluarga adalah lembaga pendidikan utama)
    • organisasi kekuatan (politik)

Sumber : https://www.sekolahbahasainggris.co.id/

Hak Dan Kewajiban Individu dalam Masyarakat Serta Hubungannya

Hak Dan Kewajiban Individu dalam Masyarakat

Hak Dan Kewajiban Individu dalam Masyarakat Serta Hubungannya

Hak Dan Kewajiban Individu dalam Masyarakat

Hak Dan Kewajiban Individu dalam Masyarakat

Hak ialah suatu yang merupakan milik atau dapat dimiliki oleh seseorang sebagai manusia. Hak ini dapat dipenuhi dengan memenuhinya atau dapat juga hilang seandainya pihak yang berhak merasa rela apabila haknya tidak dipenuhi.

Kewajiban ialah hal-hal yang wajib dilakukan atau diadakan oleh seorang dari luar dirinya untuk memenuhi hak dari pihak yang lain.Yang dapat menentukan individu memiliki hak dan kewajiban adalah norma yang dianut, adat istiadat yang mentradisi dan agama yang diyakini.

Ada dua bentuk hak yang sangat mendasar, yang dapat dimiliki oleh individu :

  1. Hak asasi yang bersifat natural, seperti hak untuk hidup, hak untuk merdeka, hak untuk mendapatkan kehormatan. Hak-hak tersebut yang menyebabkan manusia memperoleh kebebasan pada kurun waktu yang panjang
  2. Hak asasi yang bersifat umum, yaitu hak persamaan. Diperlukan seorang individu dalam kedudukannya sebagai individu dalm suatu masyarakat. Dalam hak persamaan tidak terdapat sifat diskriminasi golongan, jenis, bahasa, agama, pandangan politik, asal negara, tingkat sosial, kelahiran.

Adapun kewajiban individu didalam masyarakat adalah melaksanakan apa yang menjadi kewajibannya dengan cara menghormati hak-hak masyarakat. Jika seseorang memiliki hak untuk dihargai, dirinya juga harus menghargai orang lain. Jika seseorang memiliki hak untuk hidup tenang, dirinya juga harus menjaga ketenangan, demikian seterusnya.

HUBUNGAN INDIVIDU, KELUARGA DAN MASYARAKAT

Individu barulah dikatakan sebagai individu apabila pada perilakunya yang khas dirinya itu diproyeksikan pada suatu lingkungan sosial yang disebut masyarakat. Satuan-satuan lingkungan sosial yang mengelilingi individu terdiri dari keluarga, lembaga, komunitas dan masyarakat.

1. Hubungan individu dengan keluarga

Individu memiliki hubungan yang erat dengan keluarga, yaitu dengan ayah, ibu, kakek, nenek, paman, bibi, kakak, dan adik. Hubungan ini dapat dilandasi oleh nilai, norma dan aturan yang melekat pada keluarga yang bersangkutan.

Dengan adanya hubungan keluarga ini, individu pada akhirnya memiliki hak dan kewajiban yang melekat pada dirinya dalam keluarga.

2. Hubungan individu dengan lembaga

Lembaga diartikan sebagai sekumpulan norma yang secara terus-menerus dilakukan oleh manusia karena norma-norma itu memberikan keuntungan bagi mereka.

Individu memiliki hubungan yang saling mempengaruhi dengan lembaga yang ada disekelilingnya. Lingkungan pekerjaan dapat membentuk individu dalam membentuk kepribadian. Keindividuan dalam lingkungan pekerjaan dapat berperan sebagai direktur, ketua dan sebagainya. Jika individu bekerja, ia akan dipengaruhi oleh lingkungan pekerjaannya.

3. Hubungan individu dengan komunitas

Komunitas dapat diartikan sebagai satuan kebersamaan hidup sejumlah orang banyak yang memiliki teritorial terbatas, memiliki kesamaan terhadap menyukai sesuatu hal dan keorganisasian tata kehidupan bersama.

Komunitas mencakup individu, keluarga dan lembaga yang saling berhubungan secara independen.

4. Hubungan individu dengan masyarakat

Hubungan individu dengan masyarakat terletak dalam sikap saling menjungjung hak dan kewajiban manusia sebagai individu dan manusia sebagai makhluk sosial. Mana yang menjadi hak individu dan hak masyarakat hendaknya diketahui dengan mendahulukan hak masyarakat daripada hak individu. Gotong royong adalah hak masyarakat, sedangkan rekreasi dengan keluarga, hiburan, shopping adalah hak individu yang semestinya lebih mengutamakan hak masyarakat.

 

Sumber : https://www.dosenpendidikan.co.id/

Perbandingan Quran dan Hadits

Perbandingan Quran dan Hadits

Perbandingan Quran dan Hadits

Perbandingan Quran dan Hadits
Perbandingan Quran dan Hadits

Pengertian Perbandingan Quran dan Hadits

Perbandingan dimaksud adalah persamaan dan perbedaan keduanya dari berasalnya dan kedudukannya sebagai sumber ajaran Islam, yaitu:

Persamaannya

Tentang persamaan Al Quran dan Hadits adalah sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa Hadits dan Al-Quran adalah sama-sama sumber ajaran Islam, dan bahkan pada hakikatnya keduanya adalah sama-sama wahyu dari Allah SWT.

Perbedaannya

Meskipun Hadits dan Al-Quran adalah sama-sama sumber ajaran Islam dan dipandang sebagai wahyu yang berasal dari Allah SWT, keduanya tidaklah persis sama, melainkan terdapat beberapa perbedaan al Quran dan Hadits itu sendiri. Untuk mengetahui perbedaannya, perlu dikemukakan terlebih dahulu pengertian dan karakteristik dari Al-Quran, sebagaimana halnya dengan Hadits.

Kata Al-Quran dalam bahasa Arab adalah bentuk mashdar dari kata qara’a, yang berarti “bacaan” (al-qira’ah). Di dalam QS Al-Qiyamah [75]: 17 disebutkan:
“Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.”

Selanjutnya, kata Qur’an secara umum lebih dikenal sebagai nama dari sekumpulan tertentu dari Kalam Allah yang selalu dibaca hamba-Nya. (Wahbah Al Zuhayli, Ushul al-Fiqh al-Islami; Beirut Dar Al Fikr, 1986, juz. 1 hal. 420).

Pengertian Al-Qur’an

Dengan demikian, secara terminologis Al-Quran berarti:
“Dia (Al-Quran itu) adalah Kalam Allah yang diturunkan kepada Rasulullah SAW dengan bahasa Arab, mengandung mukjizat meskipun dengan suratnya yang terpendek, terdapat di dalam mushhaf yang diriwayatkan secara mutawatir, membacanya merupakan ibadah, dimulai dengan surai Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat Al-Nas”.

Shubhi al-Shalih memilih definisi yang lebih ringkas, yang menurutnya telah disepakati oleh para ahli Ushul Fiqh, para Fuqaha, dan Ulama bahasa Arab yaitu sebagai berikut :
“Kalam Allah yang mengandung mukjizat, diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, terdapat di dalam mushhaf, yang diriwayatkan dari Nabi SAW secara mutawatir, serta membacanya merupakan ibadah”.

Dari definisi di atas jelas terlihat kekhususan dan perbandingan antara Al-Quran dengan Hadits, yaitu:

Bahwa Al Quran adalah Kalam Allah dan bersifat mukjizat. Kemukjizatan Al-Quran tersebut di antaranya terletak pada ketinggian balaghah (kandungan sastra)-nya yang mencapai tingkatan di luar batas kemampuan manusia, sehingga masyarakat Arab khususnya dan manusia pada umumnya tidak mampu untuk menandinginya. Dari segi ini terlihat perbedaan yang nyata antara Al-Quran dengan Hadits, yaitu bahwa Hadits maknanya bersumber dari Allah (Hadits Qudsi), atau dari Rasul SAW sendiri berdasarkan hidayah dan bimbingan dari Allah (Hadits Nabawi), dan lafadznya berasal dari Rasul SAW serta tidak bersifat mukjizat, sedangkan Al-Quran makna dan lafadznya sekaligus berasal dari Allah SWT, dan bersifat mukjizat.”(Al-Zuhayli, Ushul al-Fiqh; juz. I, hal.421-422)

Membaca Al-Quran hukumnya adalah ibadah, dan sah membacai ayat-ayatnya di dalam shalat, sementara tidak demikian halnya dengan Hadits. Keseluruhan ayat Al-Quran diriwayatkan oleh Rasul SAW periwayatan yang menghasilkan ilmu yang pasti dan yakin keautentikannya pada setiap generasi dan waktu. Ditinjau dari segi periwayatannya tersebut, maka nash-nash Al-Quran adalah bersifat pasti wujudnya atau qath’i al-tsubut. Akanalnya Hadits, sebagian besar adalah bersifat ahad dan zhanni al-wurud, yaitu tidak diriwayatkan secara wutawatir. Kalaupun ada, hanya sedikit sekali yang mutawatir lafadz dan maknanya sekaligus.

Demikian uraian tentang pesamaan quran dan hadits serta perbedaan quran dan hadits semoga dapat bermanfaat. Amiin.

Baca Juga: 

Fase Pengumpulan dan Penulisan Hadits

Fase Pengumpulan dan Penulisan Hadits

Fase Pengumpulan dan Penulisan Hadits

Fase Pengumpulan dan Penulisan Hadits
Fase Pengumpulan dan Penulisan Hadits

Sejarah dan Periodisasi penghimpunan Hadits mengalami masa yang lebih panjang dibandingkan dengan yang dialami oleh Al-Qur’an, yang hanya memerlukan waktu relatif lebih pendek, yaitu sekitar 15 tahun saja. Penghimpunan dan pengkodifikasian Hadits memerlukan waktu sekitar tiga abad.

Yang dimaksud dengan Periodisasi penghimpunan Hadits di sini adalah: “fase-fase yang telah ditempuh dan dialami dalam sejarah pembinaan dan perkembangan Hadits, sejak Rasulullah SAW masih hidup sampai terwujudnya kitab-kitab yang dapat disaksikan dewasa ini.” (Syuhudi Ismail, Pengantar Ilmu Hadits (Bandung: Angkasa, 1991), h. 69; T.M. Hasbi Ash- Shiddieqy, Sejarah Perkembangan Hadits (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), h. 14.)

Para Ulama dan ahli Hadits, secara bervariasi membagi periodisasi penghimpunan dan pengkodifikasian Hadits tersebut berdasarkan perbedaan pengelompokan data sejarah yang mereka miliki serta tujuan yang hendak mereka capai.

Mohammad Mustafa Azami, yang secara garis besar hanya berkonsentrasi pada pengumpulan dan penulisan Hadits pada abad pertama dan kedua Hijriah, yang dinamainya dengan Pre-Classical “Hadith” Literature (masa sebelum puncak kematangan pengkodifikasian Hadits), membagi periodisasi penghimpunan Hadits menjadi empat fase,( M.M. Azmi, Studies in Early Hadith Literature (Indianapolis, Indiana: American Trust Pub- lications, 1978), h. 28-182.) yaitu:

1. Fase pengumpulan dan penulisan Hadits oleh para Sahabat

Pada fase ini tercatat sebanyak 50 orang Sahabat yang menuliskan Hadits yang mereka terima dari Rasul SAW. Di antara Sahabat yang menuliskan Hadits Rasul SAW tersebut adalah Abu Ayyub al-Anshari (w. 52 H), Abu Bakar al-Shiddiq, khalifah pertama (w. 13 H), Abu Sa’id al-Khudri (w. 74 H), Abd Allah ibn Abbas (w. 68 H), Abd Allah ibn Amr ibn al-Ash (w. 63 H), Abd Allah ibn Mas’ud (w. 32 H), Abd Allah ibn TJmar ibn al-Khaththab ( w. 74 H), dan lain-lain.

2. Fase pengumpulan dan penulisan Hadits oleh para Tabi’in di abad pertama Hijriah

Azami mencatat sejumlah 49 Tabi’in pada fase ini yang mencatat dan menuliskan Hadits Rasul SAW. Di antara mereka adalah ‘Abran ibn Utsman (w. 105 H), ‘Abd al- Rahman ibn ‘Abd Allah ibn Mas’ud (w. 79 H), Umar ibn ‘Abd al-‘Aziz (w. 101 H), TJrwah ibn al-Zubair (w. 93 H), dan lain-lain.

3. Fase pengumpulan dan penulisan Hadits pada akhir abad pertama Hijriah dan awal abad kedua Hijriah

Pada fase ini tercatat sejumlah 87 orang Tabi’in dan Tabi’it Tabi’in yang mempunyai koleksi dan tulisan tentang Hadits Nabi SAW, seperti ‘Abd al-‘Aziz ibn Sa’id ibn Sa’d ibn Ubadah (w. 110 H), Ali ibn ‘Abd Allah ibn ‘Abbas (w. 117 H), ‘Amr ibn Dinar al-Makki (w. 126 H), Hisyam ibn Urwah (w. 146 H), Muhammad ibn Muslim ibn Syihab al-Zuhri (w. 124 H), dan lain-lain.

4.Fase pengumpulan dan penulisan Hadits pada abad kedua Hijriah

Pada fase ini terdapat sejumlah 251 orang ulama yang menghimpun dan menuliskan Hadits. Di antara yang menuliskan Hadits tersebut adalah Aban ibn Abu ‘Ayyasy (w. 138 H), ‘Abd Allah ibn Lahiyah (w. 174 H), ‘Abd al-Rahman ibn ‘Amr al-Auza’i (w. 158 H), Malik ibn Anas (w. 179 H), Nu’man ibn Tsabit, Al-Imam Abu Hanifah (w. 150 H) dan lain-lain.

Demikianlah empat fase pengumpulan dan penulisan Hadits versi Mohammad Mustafa Azami. Sebagaimana yang telah dikemukakan di atas, bahwa Azami di dalam bukunya yang berasal dari disertasi doktornya tersebut, hanya berkonsentrasi pada sejarah penulisan Hadits pada abad pertama dan kedua Hijriah. Hal tersebut adalah karena tesis utamanya dimaksudkan untuk merespons pendapat para orientalis, seperti Joseph Schacht yang mengklaim bahwa Hadits baru-ditulis menjelang atau awal abad kedua Hijriah.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/doa-sholat-dhuha-niat-dan-tata-caranya/

Tentang Malam Lailatul Qadar

Tentang Malam Lailatul Qadar

Tentang Malam Lailatul Qadar

Tentang Malam Lailatul Qadar
Tentang Malam Lailatul Qadar

Banyak ayat didalam Al-Qur’an yang menceritakan tentang barakahnya malam ini, dimana pada malam ini diturunkan Al-Quran. Banyak diantara orang menunggu kedatangan Lailatul Qadar dalam sepuluh hari terakhir, khususnya malam ganjilnya.

Sejarah Lailatul Qadar

Sejarah lailatul qadar yaitu, saat Lailatul Qadar atau malam 1.000 bulan itu Al-Qur’an diturunkan dari Lauhul Mahfuz ke langit dunia. Dimalam tersebut para malaikat-malaikat dan malaikat Jibril turun ke bumi dan memohon kepada Allah agar mengabulkan do’a-do’a hambaNya. Kemuliaan malam tersebut berakhir dengan terbitnya fajar.

Dalam Surat Al-Qadar Allah SWT menggambarkan tentang malam seribu bulan ini:
“Sesungguhnya kami telah menurunkannya pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu.?. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun Malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”.

Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa melakukan ibadah pada malam yang mulia dengan iman dan mengharapkan pahala maka dosa-dosanya yang telah lampau akan diampuni”. (HR. Bukhori & Muslim)

An-Nawawi berpendapat: barang siapa melakukan ibadah bertepatan dengan malam lailatul qodar atau tidak bertepatan dengan lailatul qodar maka tetap mendapatkan pahala seperti diatas. (Fathul Barri)

Allah merahasiakan waktu terjadinya malam seribu bulan (lailatul qodar) itu, sebagaimana Allah juga merahasiakan saa’atul ijabah (waktu terkabulnya do’a) pada hari Jum’at. Hal ini dimaksudkan agar setiap orang berusaha mencari dan mendapatkan lailatul qodar dengan cara mengaktifkan dan mengintensifkan berbagai amal ibadah selama satu bulan penuh, tidak terjebak mempeng ibadah pada hari-hari tertentu saja.

Gambaran yang lebih konkrit tentang kemungkinan besar waktu terjadinya malam 1.000 bulan adalah bahwa lailatul qodar terdapat dalam bulan Ramadhan, dari satu bulan Ramadhan kemungkinan besar terdapat dalam malam sepuluh hari terahir bulan Ramadhan, dan terlebih lagi pada malam yang ganjil. Pada malam tersebut dianjurkan untuk menyongsong dan menghidupkannya, dan sebisa mungkin menyertakan anak, istri dan keluarga yang lain.

Malam Lailatul Qodar adalah malam dimana amal ibadah yang bertepatan dengan malam tersebut nilainya lebih utama dari amal ibadah yang dikerjakan dalam masa seribu bulan (83 tahun 4 bulan) tanpa malam lailatul qodar. Shalat sunnah dua rokaat yang bertepatan dengan malam lailatul qodar nilainya lebih utama dari pada berperang dijalan Allah selama seribu bulan.

Sebagian ulama berpendapat, menghidupkan malam lailatul qadar dapat didefinisikan mengaktifkan ibadah pada malam yang berkemungkinan malam lailatul qodar.

1. Yang paling utama

Mengisi seluruh malam dengan berbagai ibadah, seperti Shalat sunnah, membaca Al-Qur an, membaca dzikir dan lain-lain.

2. Yang menengah

Mengisi sebagian besar malam dengan berbagai ibadah seperti diatas.

3. Yang paling rendah

Melakukan Shalat Isyak secara berjamaah, dan berniat melakukan Shalat Subuh secara berjamaah. Dalam sebuah Hadits marfu’ diberitakan, “Barang siapa melakukan Shalat Isyak dalam bulan Ramadhan dengan berjamaah, maka ia telah menemui lailatul qodar”.

Demikian sekilas tentang malam lailatul qadar semoga bermanfaat. Amiin.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/niat-sholat-fardhu/

Tak Kuat Di-Bully Selama 3 Tahun, Siswa Ini Ngadu ke Wali Kota

Tak Kuat Di-Bully Selama 3 Tahun, Siswa Ini Ngadu ke Wali Kota

Tak Kuat Di-Bully Selama 3 Tahun, Siswa Ini Ngadu ke Wali Kota

Tak Kuat Di-Bully Selama 3 Tahun, Siswa Ini Ngadu ke Wali Kota
Tak Kuat Di-Bully Selama 3 Tahun, Siswa Ini Ngadu ke Wali Kota

AA, seorang siswa SMAN 5 Pekanbaru mengadu ke Wali Kota Pekanbaru, Firdaus MT setelah selama tiga tahun menjalani pendidikan di sekolah tersebut mengaku menjadi korban perundungan atau bullying.

Remaja berusia 16 tahun itu datang ke kantor Wali Kota Pekanbaru pada

Selasa (25/7/2017), saat Firdaus sedang ada pertemuan rutin dengan jajarannya.

Dengan mengenakan seragam sekolah Pramuka, dia mengaku mendatangi kantor wali kota dengan berjalan kaki, yang sebenarnya jaraknya cukup jauh dari kediamannya. Remaja yang kini duduk dibangku kelas XII SMA 5 Pekanbaru itu sedikit berbicara saat ditanya awak media.

“Lama-lama tidak betah juga terus digitukan,” katanya pelan.

AA awalnya mengaku tidak pernah punya niat untuk melaporkan apa yang ia alami ke Wali Kota Pekanbaru. Namun, peristiwa perundungan yang dialaminya selama tiga tahun membuat dirinya tidak kuat.

Perundungan yang ia alami, lanjutnya, berupa ejekan. Dia mengaku sering

disebut tidak waras, atau kata-kata lainnya yang tidak pantas. Hal itu sering ia alami saat di luar jam belajar atau jam istirahat.

Akibatnya, dia mengaku banyak dijauhi oleh teman-temannya. Kerap mengalami kekerasan secara mental, bocah berambut pendek berkulit putih itu mengaku selalu sabar. Namun, kesabaran yang ia miliki ada batasnya.

“Secara fisik tidak ada. Awalnya saya selalu sabar, tapi saya tidak kuat lagi,” lanjutnya.

Mendapatkan kekerasan mental, dia mengaku sebelumnya telah berupaya

melaporkan ke orangtua dan gurunya. Pelaku perundungan juga pernah ditegur oleh pihak sekolah. Namun, tidak berselang lama, hal itu kembali terulang.

Dia berharap dapat bertemu Firdaus MT sehingga dapat memberikan sanksi kepada pelaku perundungan tersebut. Namun, dirinya juga tidak ingin kepada teman sekolah pelaku perundungan itu dikeluarkan.

 

Baca Juga :