3. Rukun –rukun Qiyas

3. Rukun –rukun Qiyas

Rukun Qiyas

Setiap Qiyas terdiri dari empat rukun yaitu:

1. Al-Ashlu

yaitu sesuatu yang ada nash hukumnya. Ia disebut juga al-maqish alaih (yang diqiyaskan kepadanya), mahmul ‘alaih (yang dijadikan pertanggungan), dan musyabbah bih (yang diserupakan dengannya).

2. Al-Far’u

yaitu sesuatu yang tidak ada nash hukumnya, ia juga disbut : al-maqis (yang diqiyaskan). Al-mahmul(yang dipertanggung jawabkan),dan al-musyabbah (yang diserupakan).

3. Hukum Ashl

yaitu : hukum syara’ yang ada nashnya pada al-ashl (pokok)nya, dan ia dimaksudkan untuk menjadi hukum pada al-far’u (cabangnya).

4. Al-‘Illat

yaitu : suatu sifat yang dijadikan dasar untuk membentuk hukum pokok, dan berdasarkan adanya keberadaan sifat itu pula cabang (far’),maka ia disamakan dengan pokoknya dari segi hukumnya.

Contoh Qiyas

Di bawah ini beberapa contoh penetapan hukum dengan qiyas:

1. Meminum khamar adalah kasus yang ditetapkan hukumnya oleh nash, yaitu pengharaman yang ditunjukkan Allah SWT dalam Q.S. Al-Ma’idah ayat 90:

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah Termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” Sedangkan narkoba belum jelas hukumnya. Maka antara narkoba dan khamr ditentukan ‘illatnya, yakni sama-sama memabukkan. ‘Illat tersebut kemudian dijadikan alasan umtuk menyamakan hukum narkoba dengan hukum khamr. Sehingga hukum mengkonsumsi narkoba sama dengan meminum khamr yakni haram. Dalam hal ini khamr merupakan al-ashl, arkoba merupakan al-far’u, haram merupakan hukum ashl, dan memabukkan merupakan ‘illat.

2. Kertas yang dibubuhi dengan tanda tangan diatasnya adalah kejadian yang hukumnya ditetapkan oleh nash, yaitu bahwa ia telah ditetapkan berdasarkan nash, yaitu bahwa ia menjadi hujjah atas pemberian tanda tangan, yang didasarkan dalil berupa : teks undang-undang berupa keperdataan, karena suatu ‘illat yaitu: bahwasanya pembubuhan tanda tangan oleh si-penanda tangan menunjukkan atas dirinya. Sedangkan kertas yang dicap dengan jari juga padanya ditemukan ‘illat ini, maka ia diqiyaskan dengan kertas yang ditanda tangani mengenai hukumnya, dan ia menjadi bukti atas pemberian cap jari itu.

Dalam semua contoh tersebut di atas, kejadian yang tidak ada nash hukumnya disamakan dengan kasus yang ada nash hukumnya mengenai hukum yang dinashkan itu, berdasarkan atas adanya persamaan keduanya dalam segi ‘illat hukum tersebut. Penyamaan antara dua kejadian dari segi hukumnya ini yang didasarkan atas persamaan ‘illat. Keduanya ini adalah qiyas dalam istilah para ahli ushul fiqh.

Sumber: https://www.wfdesigngroup.com/