4 NAMA ISTRI NABI MUHAMMAD SAW

4 NAMA ISTRI NABI MUHAMMAD SAW

4 NAMA ISTRI NABI MUHAMMAD SAW

4 NAMA ISTRI NABI MUHAMMAD SAW
4 NAMA ISTRI NABI MUHAMMAD SAW

Pernikahan-pernikahan Rasulullah SAW berikutnya dilatarbelakangi oleh beberapa hal namun tidak ada yang didasarkan pada hawa nafsu belaka. Berikut ini nama-nama istri Nabi Muhammad Rasulullah SAW menurut kronologi pernikahan mereka dengan Rasulullah SAW:

1. Khodijah binti Khuwailid RA. (556-619 M)

Status ketika menikah: Janda karena ditinggal wafat oleh 2 suami terdahulu, yaitu Abi Haleh Al Tamimy dan Oteaq Almakzomy

Periode menikah: Tahun 595M di Mekkah ketika usia Rasulullah SAW 25 tahun dan Khodijah 40 tahun.

Anak: Dari pernikahannya dengan Khodijah, Rasulullah SAW memiliki sejumlah anak laki-laki dan perempuan. Akan tetapi semua anak laki-laki beliau (Al-Qosim dan Abdullah) meninggal. Sedangkan yang anak-anak perempuan beliau adalah: Zainab, Ruqoyyah, Ummu Kultsum dan Fatimah.

Fakta penting: Khodijah RA adalah orang pertama yang mengakui kerasulan suaminya. Rasulullah SAW tidak menikah dengan wanita lain selama Khodijah masih hidup. Khodijah adalah istri yang paling dicintai Rasulullah SAW.

2. Saudah binti Zam’a RA. (596 – 674 M)

Status ketika menikah: Janda dari Sakran bin ‘Amr bin Abdi Syams yang turut berhijrah ke Habsyah (Abyssinia, Ethiopia)

Periode menikah: Tahun 631M ketika Saudah berusia 35 tahun.
Anak: tidak ada.

Fakta penting: Tujuan Rasulullah SAW menikahinya adalah untuk menyelamatkannya dari kekafiran akibat menjanda. Keluarga Saudah RA masih kafir dan dipastikan akan mempengaruhi kembali Saudah jika tidak diselamatkan.

3. Aisyah binti Abu Bakar RA. (614-678 M)

Status ketika menikah: Gadis. Aisyah RA berumur antara 6 hingga 9 tahun ketika Rasulullah menikahinya. Tetapi mereka baru bercampur setelah Aisyah cukup umur.

Periode menikah: bulan Syawal tahun kesebelas dari kenabian, setahun setelah beliau menikahi Saudah atau dua tahun dan lima bulan sebelum Hijrah.
Anak: tidak ada.

Fakta penting: Rasulullah SAW tidak pernah menikahi seorang gadis selain Aisyah. Tujuan Rasulullah SAW menikahinya adalah untuk mendekatkan hubungan dengan keluarga Abu Bakar (yang merupakan sahabat utama Rasulullah SAW dan merupakan khalifah pertama setelah Rasulullah SAW meninggal).

4. Hafsoh binti Umar bin Khatab RA. (607-antara 648 dan 665 M)

Status ketika menikah: Janda dari Khunais bin Hudzaifah yang gugur sebagai syahid dalam Perang Badar.

Periode menikah: tidak lama setelah Perang Badar usai, tahun ke-3 Hijriyah
Anak: tidak ada.

Fakta penting: Rasulullah SAW menikahinya untuk menghormati ayah Hafsoh, yaitu Umar bin Khatab RA yang kelak menjadi khalifah kedua setelah Rasulullah SAW meninggal.

Baca Juga: 

20 SIFAT WAJIB ALLAH DAN 20 SIFAT MUSTAHIL ALLAH

20 SIFAT WAJIB ALLAH DAN 20 SIFAT MUSTAHIL ALLAH

20 SIFAT WAJIB ALLAH DAN 20 SIFAT MUSTAHIL ALLAH

20 SIFAT WAJIB ALLAH DAN 20 SIFAT MUSTAHIL ALLAH
20 SIFAT WAJIB ALLAH DAN 20 SIFAT MUSTAHIL ALLAH

Sifat-Sifat Mustahil bagi Allah

Sifat Mustahil Bagi Allah artinya Sifat Yang Tidak Mungkin ada pada Allah Swt. Sifat Mustahil Allah merupakan Lawan Kata/Kebalikan dari Sifat Wajib Allah
Berikut dibawah ini adalah 20 sifat-sifat mustahil bagi Allah swt.
‘Adam, artinya tiada (bisa mati)
Huduth, artinya baharu (bisa di perbaharui)
Fana’, artinya binasa (tidak kekal/mati)
Mumathalatuhu Lilhawadith, artinya menyerupai akan makhlukNya
Qiyamuhu Bighayrih, artinya berdiri dengan yang lain (ada kerjasama)
Ta’addud, artinya berbilang – bilang (lebih dari satu)
‘Ajz, artinya lemah (tidak kuat)
Karahah, artinya terpaksa (bisa di paksa)
Jahl, artinya jahil (bodoh)
Maut, artinya mati (bisa mati)
Syamam, artinya tuli
‘Umy, artinya buta
Bukm, artinya bisu
Kaunuhu ‘Ajizan, artinya lemah (dalam keadaannya)
Kaunuhu Karihan, artinya terpaksa (dalam keadaannya)
Kaunuhu Jahilan, artinya jahil (dalam keadaannya)
Kaunuhu Mayyitan, artinya mati (dalam keadaannya)
Kaunuhu Asam, artinya tuli (dalam keadaannya)
Kaunuhu A’ma, artinya buta (dalam keadaannya)
Kaunuhu Abkam, artinya bisu (dalam keadaannya)

Baca Juga: Kalimat Syahadat

Rangkuman (Table Sifat-Sifat Wajib Allah dan Sifat-Sifat Mustahil Bagi Allah )

Tabel ini kami buat untuk memudahkan anda dalam menghafal dan memahaminya
No. Sifat Wajib Allah Tulisan Arab Arti Jenis Sifat Sifat Mustahil Allah Tulisan Arab Arti
1 Wujud
ﻭﺟﻮﺩ
Ada Nafsiah Adam
ﻋﺪﻡ
Tiada
2 Qidam
ﻗﺪﻡ
Terdahulu Salbiah Huduts
ﺣﺪﻭﺙ
Baru
3 Baqa
ﺑﻘﺎﺀ
Kekal Salbiah Fana
ﻓﻨﺎﺀ
Berubah-ubah (akan binasa)
4 Mukhalafatuhu lilhawadis
ﻣﺨﺎﻟﻔﺘﻪ ﻟﻠﺤﻮﺍﺩﺙ
Berbeda dengan makhluk-Nya Salbiah Mumathalatuhu lilhawadith
ﻣﻤﺎﺛﻠﺘﻪ ﻟﻠﺤﻮﺍﺩﺙ
Menyerupai sesuatu
5 Qiyamuhu binafsih
ﻗﻴﺎﻣﻪ ﺑﻨﻔﺴﻪ
Berdiri sendiri Salbiah Qiamuhu bighairih
ﻗﻴﺎﻣﻪ ﺑﻐﻴﺮﻩ
Berdiri-Nya dengan yang lain
6 Wahdaniyat
ﻭﺣﺪﺍﻧﻴﺔ
Esa (satu) Salbiah Ta’addud
ﺗﻌﺪﺩ
Lebih dari satu (berbilang)
7 Qudrat
ﻗﺪﺭﺓ
Kuasa Ma’ani Ajzun
ﻋﺟﺰ
Lemah
8 Iradat
ﺇﺭﺍﺩﺓ
Berkehendak (berkemauan) Ma’ani Karahah
ﻛﺮﺍﻫﻪ
Tidak berkemauan (terpaksa)
9 Ilmu
ﻋﻠﻢ
Mengetahui Ma’ani Jahlun
ﺟﻬﻞ
Bodoh
10 Hayat
ﺣﻴﺎﺓ
Hidup Ma’ani Al-Maut
ﺍﻟﻤﻮﺕ
Mati
11 Sama’
ﺳﻤﻊ
Mendengar Ma’ani Sami
ﺍﻟﺻمم
Tuli
12 Basar
ﺑﺼﺮ
Melihat Ma’ani Al-Umyu
ﺍﻟﻌﻤﻲ
Buta
13 Kalam
ﻛﻼ ﻡ
Berbicara Ma’ani Al-Bukmu
ﺍﻟﺑﻜﻢ
Bisu
14 Kaunuhu qaadiran
ﻛﻮﻧﻪ ﻗﺎﺩﺭﺍ
Keadaan-Nya yang berkuasa Ma’nawiyah Kaunuhu ajizan
ﻛﻮﻧﻪ ﻋﺎﺟﺰﺍ
Keadaan-Nya yang lemah
15 Kaunuhu muriidan
ﻛﻮﻧﻪ ﻣﺮﻳﺪﺍ
Keadaan-Nya yang berkehendak menentukan Ma’nawiyah Kaunuhu mukrahan
ﻛﻮﻧﻪ مكرها
Keadaan-Nya yang tidak menentukan (terpaksa)
16 Kaunuhu ‘aliman
ﻛﻮﻧﻪ ﻋﺎﻟﻤﺎ
Keadaan-Nya yang mengetahui Ma’nawiyah Kaunuhu jahilan
ﻛﻮﻧﻪ ﺟﺎﻫﻼ
Keadaan-Nya yang bodoh
17 Kaunuhu hayyan
ﻛﻮﻧﻪ ﺣﻴﺎ
Keadaan-Nya yang hidup Ma’nawiyah Kaunuhu mayitan
ﻛﻮﻧﻪ ﻣﻴﺘﺎ
Keadaan-Nya yang mati
18 Kaunuhu sami’an
ﻛﻮﻧﻪ ﺳﻤﻴﻌﺎ
Keadaan-Nya yang mendengar Ma’nawiyah Kaunuhu ashamma
ﻛﻮﻧﻪ ﺃﺻﻢ
Keadaan-Nya yang tuli
19 Kaunuhu bashiiran
ﻛﻮﻧﻪ ﺑﺼﻴﺭﺍ
Keadaan-Nya yang melihat Ma’nawiyah Kaunuhu a’maa
ﻛﻮﻧﻪ ﺃﻋﻤﻰ
Keadaan-Nya yang buta
20 Kaunuhu mutakalliman
ﻛﻮﻧﻪ ﻣﺘﻜﻠﻤﺎ
Keadaan-Nya yang berbicara Ma’nawiyah Kaunuhu abkam
ﻛﻮﻧﻪ ﺃﺑﻜﻢ
Keadaan-Nya yang bisu

Sifat Ja’iz Bagi Allah Swt

Sifat Jaiz bagi Allah artinya boleh bagi Allah Swt mengadakan sesuatu atau tidak mengadakan sesuatu atau di sebut juga sebagai “mumkin”. Mumkin ialah sesuatu yang boleh ada dan tiada.

Ja’iz artinya boleh-boleh saja, dengan makna Allah Swt menciptakan segala sesuatu, yakni dengan tidak ada paksaan dari sesuatupun juga, sebab Allah Swt bersifat Qudrat (kuasa) dan Iradath (kehendak), juga boleh – boleh saja bagi Allah Swt meniadakan akan segala sesuatu apapun yang ia mau.

Alhamdulillah selese juga akhirnya menulis artikel tentang 20 Sifat Wajib Allah dan 20 Sifat Mustahil Allah lengkap dengan dalil, arti dan penjelasannya.

HUKUMNYA SHALAT SAMBIL MENANGIS

HUKUMNYA SHALAT SAMBIL MENANGIS

HUKUMNYA SHALAT SAMBIL MENANGIS

HUKUMNYA SHALAT SAMBIL MENANGIS
HUKUMNYA SHALAT SAMBIL MENANGIS

Allah SWT berfirman, “Dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (QS. Maryam: 58).

Dalam hadits disebutkan, dari ‘Abdullah bin Asy-Syikkhir, ia berkata, “Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat, ketika itu beliau menangis. Dari dada beliau keluar rintihan layaknya air yang mendidih.” (HR. Abu Daud no. 904 dan Tirmidzi dalam Asy-Syamail Al-Muhammadiyah no. 322. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit keras, ada seseorang yang menanyakan imam shalat kemudian beliau bersabda, “Perintahkan pada Abu Bakr agar ia mengimami shalat.”

‘Aisyah lantas berkata, ”Sesungguhnya Abu Bakr itu orang yang sangat lembut hatinya. Apabila ia membaca Al-Qur’an, ia tidak dapat menahan tangisnya.” Namun beliau bersabda, “Tetap perintahkan Abu Bakr untuk menjadi imam.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 713 dan Muslim no. 418).

So, Sob, berdasarkan keterangan yang ada di hadits dan quran, menangis saat shalat kerena takut pada Allah SWT tidak membatalkan shalat.

Beberapa pandangan ulama madzhab soal hal ini,

Ulama Hanafiyah

berpandangan bahwa jika menangis dalam shalat dikarenakan sedih pada musibah, maka itu membatalkan shalat. Karena seperti itu dianggap sebagai kalam manusia (perkara di luar shalat, pen.). Namun jika karena mengingat surga dan takut pada neraka, shalatnya tidaklah batal. Seperti itu menunjukkan bertambahnya khusyuk. Sedangkan khusyuk adalah ruh dari shalat.

Ulama Malikiyah

berpandangan bahwa menangis dalam shalat bisa jadi dengan suara atau tanpa suara. Jika menangis tanpa suara, shalatnya tidak batal. Jika dengan suara, shalatnya batal. Sedangkan jika menangisnya dengan suara dan itu atas dasar pilihannya, shalatnya batal. Jika bukan atas pilihannya dan didasari karena sangat khusyuknya, shalatnya tidak batal walaupun banyak. Namun kalau bukan karena khusyuknya, shalatnya batal.

Ulama Syafi’iyah

berpendapat bahwa jika menangisnya keluar dua huruf, maka membatalkan shalat karena seperti itu meniadakan shalat. Meskipun ketika itu menangisnya karena takut akhirat. Ini pendapat yang paling kuat dalam madzhab Syafi’i, walau dalam madzhab Syafi’iyah sendiri ada yang menyelisihi pendapat tersebut.

Baca Juga: Sifat Allah

Ulama Hambali

berpendapat bahwa jika menangisnya terdiri dari dua huruf, itu muncul karena khasyah (rasa takut yang besar), atau bahkan sambil tersedu-sedu, tidaklah membatalkan shalat. Karena seperti karena terhanyut dalam dzikir. Begitu juga kalau seseorang tidak khusyuk lalu menangis dalam shalat, shalatnya batal.

Ibnul Qayyim mengatakan dalam Zadul Ma’ad, “Memaksakan diri untuk menangis disebut at-Tabaki, ada dua macam. Ada yang terpuji dan ada yang tercela. Memaksakan diri untuk nangis yang terpuji adalah berusaha menangis dalam rangka melembutkan hati dan agar takut kepada Allah, bukan karena riya atau sum’ah (pamer). Sementara memaksa nangis yang tercela adalah sok nangis untuk dilihat orang lain.” (Zadul Ma’ad, 1/175).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan, “Menangis dalam shalat jika karena takut pada Allah dan mengingat perkara akhirat, begitu pula karena merenung ayat yang dibaca seperti saat melewati ayat-ayat yang menyebutkan janji dan ancaman, maka tidak membatalkan shalat. Adapun jika menangis tersebut karena musibah yang menimpa atau semacamnya, maka membatalkan shalat. Bisa membatalkan karena menangis tersebut berkaitan dengan perkara di luar shalat.

Karenanya memikirkan perkara-perkara di luar shalat atau perkara lain mesti dihilangkan agar tidak membatalkan shalat. Intinya, memikiran berbagai macam hal yang tidak terkait dengan shalat berakibat kekurangan saja di dalam shalatnya.” (Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb, 9: 141). Allahu a’lam.

Tanda-tanda kenabian pada Nabi Muhammad Saw

Tanda-tanda kenabian pada Nabi Muhammad Saw

Tanda-tanda kenabian pada Nabi Muhammad Saw

Tanda-tanda kenabian pada Nabi Muhammad Saw
Tanda-tanda kenabian pada Nabi Muhammad Saw

Tanda-tanda kenabian

Sejak kecil Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam sudah memperlihatkan keistimewaan yang sangat luar biasa. Usia 5 bulan ia sudah pintar berjalan, usia 9 bulan ia sudah bisa berbicara. Pada usia 2 tahun ia sudah bisa dilepas bersama belum dewasa Halimah yang lain untuk menggembala kambing. Saat itulah ia berhenti menyusu dan karenanya harus dikembalikan lagi padaibunya.
melaluiataubersamaini berat hati Halimah terpaksa mengembalikan anak asuhnya yang sudah membawa berkah itu, sementara Aminah sangat senang melihat anaknya kembali dalam keadaan sehat dan segar.

Namun tak lama sehabis itu Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam kembali diasuh oleh Halimah lantaran terjadi wabah penyakit di kota Mekah. Dalam masa asuhannya kali ini, baik Halimah maupun anak-anaknya sering menemukan keajaiban di sekitar diri Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam. Anak-anak Halimah sering mendengar bunyi yang memdiberi salam kepada Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam, “Assalamu ‘Alaika ya Muhammad,” padahal mereka tidak melihat ada orang di situ.

Dalam peluang lain, Dimrah, anak Halimah, berlari-lari sambil menangis dan mengadukan bahwa ada dua orang bertubuh besar-besar dan berpakaian putih menangkap Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam. Halimah bergegas menyusul Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam. Saat ditanyai, Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam menjawaban, “Ada 2 malaikat turun dari langit. Mereka mempersembahkan salam kepadaku, membaringkanku, membuka bajuku, membelah dadaku, membasuhnya dengan air yang mereka bawa, kemudian menutup kembali dadaku tanpa saya merasa sakit.”

Halimah sangat besar hati melihat keajaiban-keajaiban pada diri Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam, namun lantaran kondisi ekonomi keluarganya yang semakin melemah, ia terpaksa mengembalikan Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam, yang ketika itu berusia 4 tahun, kepada ibu kandungnya di Mekah.

Baca Juga: Ayat Kursi

Nabi Muhammad di Usia 6 Tahun

Dalam usia 6 tahun, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam sudah menjadi yatim-piatu. Aminah meninggal lantaran sakit sepulangnya ia mengajak Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam berziarah ke makam ayahnya. Sesudah janjkematian Aminah, Abdul Muttalib mengambil alih tanggung jawaban merawat Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam. Namun kemudian Abdul Muttalib pun meninggal, dan tanggung jawaban pemeliharaan Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam beralih pada pamannya, Abi Thalib.
Ketika berusia 12 tahun, Abi Thalib mengabulkan seruan Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam untuk ikut serta dalam kafilahnya ketika ia memimpin rombongan ke Syam (Suriah). Usia 12 tahun sebenarnya masih terlalu muda untuk ikut dalam perjalanan menyerupai itu, namun dalam perjalanan ini kembali terjadi keajaiban yang ialah gejala kenabian Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam.

Segumpal awan terus menaungi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam sehingga gerah terik yang mengkremasi kulit tidak dirasakan olehnya. Awan itu seolah mengikuti gerak kafilah rombongan Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam. Bila mereka berhenti, awan itu pun ikut berhenti. Kejadian ini menarikdanunik perhatian seorang pendeta Katolik berjulukan Buhairah yang memperhatikan dari atas biaranya di Busra. Ia menguasai betul isi kitab Taurat dan Injil. Hatinya bergetar melihat dalam kafilah itu terdapat seorang anak yang terang benderang sedang mengendarai unta. Anak itulah yang terlindung dari sorotan sinar matahari oleh segumpal awan di atas kepalanya. “INI Roh Kebenaran yang dijanjikan itu,” pikirnya.

Pendeta itu pun berjalan menyongsong iring-ienteng kafilah itu dan mengundang mereka dalam suatu perjamuan makan. Sesudah bercengkrama-bincang dengan Abi Thalib dan Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam sendiri, ia semakin yakin bahwa anak yang berjulukan Muhammad yaitu calon nabi yang ditunjuk oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Keyakinan ini dipertegas lagi oleh kenyataan bahwa di belakang pundak Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam terdapat sebuah tanda kenabian.

Saat akan berpisah dengan para tamunya, pendeta Buhairah berpesan pada Abi Thalib, “Saya berharap Tuan berhati-hati menjaganya. Saya yakin dialah nabi kiamat yang sudah ditunggu-tunggu oleh seluruh umat manusia. Usahakan biar hal ini tidakboleh diketahui oleh orang-orang Yahudi. Mereka sudah membunuh nabi-nabi sebelumnya. Saya tidak mengada-ada, apa yang saya terangkan itu berdasarkan apa yang saya ketahui dari kitab Taurat dan Injil. Semoga tuan-tuan selamat dalam perjalanan.”
Apa yang dikatakan oleh pendeta Katolik itu membuat Abi Thalib segera mempercepat urusannya di Suriah dan segera pulang ke Mekah.

Wanita yang Haram di Nikahi

Wanita yang Haram di Nikahi

Wanita yang Haram di Nikahi

 

Wanita yang Haram di Nikahi
Wanita yang Haram di Nikahi

Allah SWT berfirman:

وَلَا تَنْكِحُوا مَا نَكَحَ آبَاؤُكُمْ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ ۚ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَمَقْتًا وَسَاءَ سَبِيلًا
“Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh)”. (QS. An-Nisaa:22).

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالَاتُكُمْ وَبَنَاتُ الْأَخِ وَبَنَاتُ الْأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلَائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا

“Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisaa:23).

وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۖ كِتَابَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ ۚ وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَٰلِكُمْ أَنْ تَبْتَغُوا بِأَمْوَالِكُمْ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ ۚ فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً ۚ وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا تَرَاضَيْتُمْ بِهِ مِنْ بَعْدِ الْفَرِيضَةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

“Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisaa:24).

Dalam tiga ayat diatas Allah SWT menyebutkan perempuan-perempuan yang haram dinikai. Dengan mencermati firman Allah tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa tahrim, pengharaman’ ini terbagi dua:

Pertama: Tahrim Muabbad

(pengharaman yang berlaku selama-lamanya), yaitu seorang perempuan tidak boleh menjadi isteri seorang laki-laki di segenap waktu.

Kedua: Tahrim Muaqqat

(pengharaman yang bersifat sementara), jika nanti keadaan berubah, gugurlah tahrim itu dan menjadi halal.
Sebab-sebab tahrim muaqqad (pengharaman selamanya) ada tiga:
Pertama karena nasab, kedua haram mushaharah (ikatan perkawinan) dan

ketiga karena penyusuan

Pertama: perempuan-perempuan yang haram dinikahi karena nasab adalah :
1. Ibu
2. Anak perempuan
3. Saudara perempuan
4. Bibi dari pihak ayah (saudara perempuan ayah)
5. Bibi dari pihak ibu (saudara perempuan ibu)
6. Anak perempuan saudara laki-laki (keponakan)
7. Anak perempuan saudara perempuan).

Kedua: perempuan-perempuan yang haram diwakin karena mushaharah adalah :
1. Ibu istri (ibu mertua), dan tidak dipersyaratkan tahrim ini suami harus dukhul “bercampur” lebih dahulu. Meskipun hanya sekedar akad nikah dengan puterinya, maka sang ibu menjadi haram dinikahi atas menantu tersebut.

2. Anak perempuan dari isteri yang sudah didukhul (dikumpul), oleh karena itu, manakala akad nikah dengan ibunya sudah dilangsungkan namun belum sempat (mengumpulinya), maka anak perempuan termasuk halal bagi mantan suami ibunya itu. Hal ini didasarkan pada firman Allah, ”Tetapi kalian belum bercampur dengan isteri kalian itu (dan sudah kalian campur), maka tidak berdosa kalian menikahinya.” (An-Nisaa:23).

3. Isteri anak (menantu perempuan), ia menjadi haram dikawini hanya sekedar dilangsungkannya akad nikah.

4. Isteri bapak (ibu tiri) diharamkan atas anak menikahi isteri bapak dengan sebab hanya sekedar terjadinya akad nikah dengannya.

Baca Juga: 

Rukun dan Syarat Sah Nikah

Rukun dan Syarat Sah Nikah

Rukun dan Syarat Sah Nikah

Rukun dan Syarat Sah Nikah
Rukun dan Syarat Sah Nikah

 

Akad nikah tidak akan sah kecuali jika terpenuhi rukun-rukun yang enam perkara ini :

1. Ijab-Qabul

Islam menjadikan Ijab (pernyataan wali dalam menyerahkan mempelai wanita kepada mempelai pria) dan Qabul (pernyataan mempelai pria dalam menerima ijab) sebagai bukti kerelaan kedua belah pihak. Al Qur-an mengistilahkan ijab-qabul sebagai miitsaaqan ghaliizhaa (perjanjian yang kokoh) sebagai pertanda keagungan dan kesucian, disamping penegasan maksud niat nikah tersebut adalah untuk selamanya.

Baca Juga: Rukun Iman

Syarat ijab-qabul adalah :

a. Diucapkan dengan bahasa yang dimengerti oleh semua pihak yang hadir.
b. Menyebut jelas pernikahan & nama mempelai pria-wanita

2. Adanya mempelai pria

Syarat mempelai pria adalah :
a. Muslim & mukallaf (sehat akal-baligh-merdeka )
b. Bukan mahram dari calon isteri
c. Tidak dipaksa.
d. Orangnya jelas.
e. Tidak sedang melaksanakan ibadah haji.

3. Adanya mempelai wanita.

Syarat mempelai wanita adalah :
a. Muslimah (atau beragama samawi, tetapi bukan kafirah/musyrikah) & mukallaf
b. Tidak ada halangan syar’i (tidak bersuami, tidak dalam masa ‘iddah & bukan mahram dari calon suami).
c. Tidak dipaksa.
d. Orangnya jelas.
e. Tidak sedang melaksanakan ibadah haji.

4. Adanya wali.

Syarat wali adalah :
a. Muslim laki-laki & mukallaf (sehat akal-baligh-merdeka).
b. Adil
c. Tidak dipaksa.
d. Tidak sedang melaksanakan ibadah haji.

Tingkatan dan urutan wali adalah sebagai berikut:
a. Ayah
b. Kakek
c. Saudara laki-laki sekandung
d. Saudara laki-laki seayah
e. Anak laki-laki dari saudara laki – laki sekandung
f. Anak laki-laki dari saudara laki – laki seayah
g. Paman sekandung
h. Paman seayah
i. Anak laki-laki dari paman sekandung
j. Anak laki-laki dari paman seayah.
k. Hakim

5. Adanya saksi (2 orang pria).

Meskipun semua yang hadir menyaksikan aqad nikah pada hakikatnya adalah saksi, tetapi Islam mengajarkan tetap harus adanya 2 orang saksi pria yang jujur lagi adil agar pernikahan tersebut menjadi sah. Syarat saksi adalah :
a. Muslim laki-laki & mukallaf (sehat akal-baligh-merdeka).
b. Adil
c. Dapat mendengar dan melihat.
d. Tidak dipaksa.
e. Memahami bahasa yang dipergunakan untuk ijab-qabul.
f. Tidak sedang melaksanakan ibadah haji.

6. Mahar.

Beberapa ketentuan tentang mahar :

a. Mahar adalah pemberian wajib (yang tak dapat digantikan dengan lainnya) dari seorang suami kepada isteri, baik sebelum, sesudah maupun pada saat aqad nikah. Firman Allah dalam surat An-Nisaa ayat 4:

وَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً ۚ فَإِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَرِيئًا

“Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.” (QS. An-Nisaa:4)

b. Mahar wajib diterimakan kepada isteri dan menjadi hak miliknya, bukan kepada/milik mertua.
c. Mahar yang tidak tunai pada akad nikah, wajib dilunasi setelah adanya persetubuhan.
d. Mahar dapat dinikmati bersama suami jika sang isteri memberikan dengan kerelaan.
e. Mahar tidak memiliki batasan kadar dan nilai. Syari’at Islam menyerahkan perkara ini untuk disesuaikan kepada adat istiadat yang berlaku. Boleh sedikit, tetapi tetap harus berbentuk, memiliki nilai dan bermanfaat.

Pengertian Perkawinan dan Hukum Nikah dalam Islam

Pengertian Perkawinan dan Hukum Nikah dalam Islam

Pengertian Perkawinan dan Hukum Nikah dalam Islam

Pengertian Perkawinan dan Hukum Nikah dalam Islam
Pengertian Perkawinan dan Hukum Nikah dalam Islam

Pengertian Perkawinan

Perkawinan secara bahasa : kumpulan, bersetubuh, akad secara syar’i : dihalalkannya seorang lelaki dan untuk perempuan bersenang-senang, melakukan hubungan seksual, dll .

Kata nikah berasal dari bahasa Arab yang didalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan dengan perkawinan. Nikah menurut istilah syariat Islam adalah akad yang menghalalkan pergaulan antara laki – laki dan perempuan yang tidak ada hubungan mahram sehingga dengan akad tersebut terjadi hak dan kewjiban antara kedua insan.

Hubungan antara seorang laki – laki dan perempuan adalah merupakan tuntunan yang telah diciptakan oleh Allah SWT dan untuk menghalalkan hubungan ini maka disyariatkanlah akad nikah. Pergaulan antara laki-laki dan perempuan yang diatur dengan pernikahan ini akan membawa keharmonisan, keberkahan dan kesejahteraan baik bagi laki-laki maupun perempuan, bagi keturunan diantara keduanya bahkan bagi masyarakat yang berada disekeliling kedua insan tersebut.

Berbeda dengan pergaulan antara laki-laki dan perempuan yang tidak dibina dengan sarana pernikahan akan membawa malapetaka baik bagi kedua insan itu, keturunannya dan masyarakat disekelilingnya. Pergaulan yang diikat dengan tali pernikahan akan membawa mereka menjadi satu dalam urusan kehidupan sehingga antara keduanya itu dapat menjadi hubungan saling tolong menolong, dapat menciptkan kebaikan bagi keduanya dan menjaga kejahatan yang mungkin akan menimpa kedua belah pihak itu. Dengan pernikahan seseorang juga akan terpelihara dari kebinasaan hawa nafsunya.
Allah SWT berfirman dalam surat An – Nisa Ayat 3 sebagai berikut :

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَىٰ فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَلَّا تَعُولُوا

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”. (An-Nisa: 3).

Ayat ini memerintahkan kepada laki-laki yang sudah mampu untuk melaksanakan nikah. Adapun yang dimaksud adil dalam ayat ini adalah adil didalam memberikan kepada istri berupa pakaian, tempat, giliran dan lain-lain yang bersifat lahiriah. Ayat ini juga menerangkan bahwa Islam memperbolehkan poligami dengan syarat-syarat tertentu.

Baca Juga: Rukun Islam

Hukum Nikah

Para fuqaha mengklasifikasikan hukum nikah menjadi 5 kategori yang berpulang kepada kondisi pelakunya :

Wajib, bila nafsu mendesak, mampu menikah dan berpeluang besar jatuh ke dalam zina.

Sunnah, bila nafsu mendesak, mampu menikah tetapi dapat memelihara diri dari zina.

Mubah, bila tak ada alasan yang mendesak/mewajibkan segera menikah dan/atau alasan yang mengharamkan menikah.

Makruh, bila nafsu tak mendesak, tak mampu memberi nafkah tetapi tidak merugikan isterinya.

Haram, bila nafsu tak mendesak, tak mampu memberi nafkah sehingga merugikan isterinya.

Perbandingan Quran dan Hadits

Perbandingan Quran dan Hadits

Perbandingan Quran dan Hadits

Perbandingan Quran dan Hadits
Perbandingan Quran dan Hadits

Pengertian Perbandingan Quran dan Hadits

Perbandingan dimaksud adalah persamaan dan perbedaan keduanya dari berasalnya dan kedudukannya sebagai sumber ajaran Islam, yaitu:

Persamaannya

Tentang persamaan Al Quran dan Hadits adalah sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa Hadits dan Al-Quran adalah sama-sama sumber ajaran Islam, dan bahkan pada hakikatnya keduanya adalah sama-sama wahyu dari Allah SWT.

Perbedaannya

Meskipun Hadits dan Al-Quran adalah sama-sama sumber ajaran Islam dan dipandang sebagai wahyu yang berasal dari Allah SWT, keduanya tidaklah persis sama, melainkan terdapat beberapa perbedaan al Quran dan Hadits itu sendiri. Untuk mengetahui perbedaannya, perlu dikemukakan terlebih dahulu pengertian dan karakteristik dari Al-Quran, sebagaimana halnya dengan Hadits.

Kata Al-Quran dalam bahasa Arab adalah bentuk mashdar dari kata qara’a, yang berarti “bacaan” (al-qira’ah). Di dalam QS Al-Qiyamah [75]: 17 disebutkan:
“Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.”

Selanjutnya, kata Qur’an secara umum lebih dikenal sebagai nama dari sekumpulan tertentu dari Kalam Allah yang selalu dibaca hamba-Nya. (Wahbah Al Zuhayli, Ushul al-Fiqh al-Islami; Beirut Dar Al Fikr, 1986, juz. 1 hal. 420).

Pengertian Al-Qur’an

Dengan demikian, secara terminologis Al-Quran berarti:
“Dia (Al-Quran itu) adalah Kalam Allah yang diturunkan kepada Rasulullah SAW dengan bahasa Arab, mengandung mukjizat meskipun dengan suratnya yang terpendek, terdapat di dalam mushhaf yang diriwayatkan secara mutawatir, membacanya merupakan ibadah, dimulai dengan surai Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat Al-Nas”.

Shubhi al-Shalih memilih definisi yang lebih ringkas, yang menurutnya telah disepakati oleh para ahli Ushul Fiqh, para Fuqaha, dan Ulama bahasa Arab yaitu sebagai berikut :
“Kalam Allah yang mengandung mukjizat, diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, terdapat di dalam mushhaf, yang diriwayatkan dari Nabi SAW secara mutawatir, serta membacanya merupakan ibadah”.

Dari definisi di atas jelas terlihat kekhususan dan perbandingan antara Al-Quran dengan Hadits, yaitu:

Bahwa Al Quran adalah Kalam Allah dan bersifat mukjizat. Kemukjizatan Al-Quran tersebut di antaranya terletak pada ketinggian balaghah (kandungan sastra)-nya yang mencapai tingkatan di luar batas kemampuan manusia, sehingga masyarakat Arab khususnya dan manusia pada umumnya tidak mampu untuk menandinginya. Dari segi ini terlihat perbedaan yang nyata antara Al-Quran dengan Hadits, yaitu bahwa Hadits maknanya bersumber dari Allah (Hadits Qudsi), atau dari Rasul SAW sendiri berdasarkan hidayah dan bimbingan dari Allah (Hadits Nabawi), dan lafadznya berasal dari Rasul SAW serta tidak bersifat mukjizat, sedangkan Al-Quran makna dan lafadznya sekaligus berasal dari Allah SWT, dan bersifat mukjizat.”(Al-Zuhayli, Ushul al-Fiqh; juz. I, hal.421-422)

Membaca Al-Quran hukumnya adalah ibadah, dan sah membacai ayat-ayatnya di dalam shalat, sementara tidak demikian halnya dengan Hadits. Keseluruhan ayat Al-Quran diriwayatkan oleh Rasul SAW periwayatan yang menghasilkan ilmu yang pasti dan yakin keautentikannya pada setiap generasi dan waktu. Ditinjau dari segi periwayatannya tersebut, maka nash-nash Al-Quran adalah bersifat pasti wujudnya atau qath’i al-tsubut. Akanalnya Hadits, sebagian besar adalah bersifat ahad dan zhanni al-wurud, yaitu tidak diriwayatkan secara wutawatir. Kalaupun ada, hanya sedikit sekali yang mutawatir lafadz dan maknanya sekaligus.

Demikian uraian tentang pesamaan quran dan hadits serta perbedaan quran dan hadits semoga dapat bermanfaat. Amiin.

Baca Juga: 

Fase Pengumpulan dan Penulisan Hadits

Fase Pengumpulan dan Penulisan Hadits

Fase Pengumpulan dan Penulisan Hadits

Fase Pengumpulan dan Penulisan Hadits
Fase Pengumpulan dan Penulisan Hadits

Sejarah dan Periodisasi penghimpunan Hadits mengalami masa yang lebih panjang dibandingkan dengan yang dialami oleh Al-Qur’an, yang hanya memerlukan waktu relatif lebih pendek, yaitu sekitar 15 tahun saja. Penghimpunan dan pengkodifikasian Hadits memerlukan waktu sekitar tiga abad.

Yang dimaksud dengan Periodisasi penghimpunan Hadits di sini adalah: “fase-fase yang telah ditempuh dan dialami dalam sejarah pembinaan dan perkembangan Hadits, sejak Rasulullah SAW masih hidup sampai terwujudnya kitab-kitab yang dapat disaksikan dewasa ini.” (Syuhudi Ismail, Pengantar Ilmu Hadits (Bandung: Angkasa, 1991), h. 69; T.M. Hasbi Ash- Shiddieqy, Sejarah Perkembangan Hadits (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), h. 14.)

Para Ulama dan ahli Hadits, secara bervariasi membagi periodisasi penghimpunan dan pengkodifikasian Hadits tersebut berdasarkan perbedaan pengelompokan data sejarah yang mereka miliki serta tujuan yang hendak mereka capai.

Mohammad Mustafa Azami, yang secara garis besar hanya berkonsentrasi pada pengumpulan dan penulisan Hadits pada abad pertama dan kedua Hijriah, yang dinamainya dengan Pre-Classical “Hadith” Literature (masa sebelum puncak kematangan pengkodifikasian Hadits), membagi periodisasi penghimpunan Hadits menjadi empat fase,( M.M. Azmi, Studies in Early Hadith Literature (Indianapolis, Indiana: American Trust Pub- lications, 1978), h. 28-182.) yaitu:

1. Fase pengumpulan dan penulisan Hadits oleh para Sahabat

Pada fase ini tercatat sebanyak 50 orang Sahabat yang menuliskan Hadits yang mereka terima dari Rasul SAW. Di antara Sahabat yang menuliskan Hadits Rasul SAW tersebut adalah Abu Ayyub al-Anshari (w. 52 H), Abu Bakar al-Shiddiq, khalifah pertama (w. 13 H), Abu Sa’id al-Khudri (w. 74 H), Abd Allah ibn Abbas (w. 68 H), Abd Allah ibn Amr ibn al-Ash (w. 63 H), Abd Allah ibn Mas’ud (w. 32 H), Abd Allah ibn TJmar ibn al-Khaththab ( w. 74 H), dan lain-lain.

2. Fase pengumpulan dan penulisan Hadits oleh para Tabi’in di abad pertama Hijriah

Azami mencatat sejumlah 49 Tabi’in pada fase ini yang mencatat dan menuliskan Hadits Rasul SAW. Di antara mereka adalah ‘Abran ibn Utsman (w. 105 H), ‘Abd al- Rahman ibn ‘Abd Allah ibn Mas’ud (w. 79 H), Umar ibn ‘Abd al-‘Aziz (w. 101 H), TJrwah ibn al-Zubair (w. 93 H), dan lain-lain.

3. Fase pengumpulan dan penulisan Hadits pada akhir abad pertama Hijriah dan awal abad kedua Hijriah

Pada fase ini tercatat sejumlah 87 orang Tabi’in dan Tabi’it Tabi’in yang mempunyai koleksi dan tulisan tentang Hadits Nabi SAW, seperti ‘Abd al-‘Aziz ibn Sa’id ibn Sa’d ibn Ubadah (w. 110 H), Ali ibn ‘Abd Allah ibn ‘Abbas (w. 117 H), ‘Amr ibn Dinar al-Makki (w. 126 H), Hisyam ibn Urwah (w. 146 H), Muhammad ibn Muslim ibn Syihab al-Zuhri (w. 124 H), dan lain-lain.

4.Fase pengumpulan dan penulisan Hadits pada abad kedua Hijriah

Pada fase ini terdapat sejumlah 251 orang ulama yang menghimpun dan menuliskan Hadits. Di antara yang menuliskan Hadits tersebut adalah Aban ibn Abu ‘Ayyasy (w. 138 H), ‘Abd Allah ibn Lahiyah (w. 174 H), ‘Abd al-Rahman ibn ‘Amr al-Auza’i (w. 158 H), Malik ibn Anas (w. 179 H), Nu’man ibn Tsabit, Al-Imam Abu Hanifah (w. 150 H) dan lain-lain.

Demikianlah empat fase pengumpulan dan penulisan Hadits versi Mohammad Mustafa Azami. Sebagaimana yang telah dikemukakan di atas, bahwa Azami di dalam bukunya yang berasal dari disertasi doktornya tersebut, hanya berkonsentrasi pada sejarah penulisan Hadits pada abad pertama dan kedua Hijriah. Hal tersebut adalah karena tesis utamanya dimaksudkan untuk merespons pendapat para orientalis, seperti Joseph Schacht yang mengklaim bahwa Hadits baru-ditulis menjelang atau awal abad kedua Hijriah.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/doa-sholat-dhuha-niat-dan-tata-caranya/

Tentang Malam Lailatul Qadar

Tentang Malam Lailatul Qadar

Tentang Malam Lailatul Qadar

Tentang Malam Lailatul Qadar
Tentang Malam Lailatul Qadar

Banyak ayat didalam Al-Qur’an yang menceritakan tentang barakahnya malam ini, dimana pada malam ini diturunkan Al-Quran. Banyak diantara orang menunggu kedatangan Lailatul Qadar dalam sepuluh hari terakhir, khususnya malam ganjilnya.

Sejarah Lailatul Qadar

Sejarah lailatul qadar yaitu, saat Lailatul Qadar atau malam 1.000 bulan itu Al-Qur’an diturunkan dari Lauhul Mahfuz ke langit dunia. Dimalam tersebut para malaikat-malaikat dan malaikat Jibril turun ke bumi dan memohon kepada Allah agar mengabulkan do’a-do’a hambaNya. Kemuliaan malam tersebut berakhir dengan terbitnya fajar.

Dalam Surat Al-Qadar Allah SWT menggambarkan tentang malam seribu bulan ini:
“Sesungguhnya kami telah menurunkannya pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu.?. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun Malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”.

Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa melakukan ibadah pada malam yang mulia dengan iman dan mengharapkan pahala maka dosa-dosanya yang telah lampau akan diampuni”. (HR. Bukhori & Muslim)

An-Nawawi berpendapat: barang siapa melakukan ibadah bertepatan dengan malam lailatul qodar atau tidak bertepatan dengan lailatul qodar maka tetap mendapatkan pahala seperti diatas. (Fathul Barri)

Allah merahasiakan waktu terjadinya malam seribu bulan (lailatul qodar) itu, sebagaimana Allah juga merahasiakan saa’atul ijabah (waktu terkabulnya do’a) pada hari Jum’at. Hal ini dimaksudkan agar setiap orang berusaha mencari dan mendapatkan lailatul qodar dengan cara mengaktifkan dan mengintensifkan berbagai amal ibadah selama satu bulan penuh, tidak terjebak mempeng ibadah pada hari-hari tertentu saja.

Gambaran yang lebih konkrit tentang kemungkinan besar waktu terjadinya malam 1.000 bulan adalah bahwa lailatul qodar terdapat dalam bulan Ramadhan, dari satu bulan Ramadhan kemungkinan besar terdapat dalam malam sepuluh hari terahir bulan Ramadhan, dan terlebih lagi pada malam yang ganjil. Pada malam tersebut dianjurkan untuk menyongsong dan menghidupkannya, dan sebisa mungkin menyertakan anak, istri dan keluarga yang lain.

Malam Lailatul Qodar adalah malam dimana amal ibadah yang bertepatan dengan malam tersebut nilainya lebih utama dari amal ibadah yang dikerjakan dalam masa seribu bulan (83 tahun 4 bulan) tanpa malam lailatul qodar. Shalat sunnah dua rokaat yang bertepatan dengan malam lailatul qodar nilainya lebih utama dari pada berperang dijalan Allah selama seribu bulan.

Sebagian ulama berpendapat, menghidupkan malam lailatul qadar dapat didefinisikan mengaktifkan ibadah pada malam yang berkemungkinan malam lailatul qodar.

1. Yang paling utama

Mengisi seluruh malam dengan berbagai ibadah, seperti Shalat sunnah, membaca Al-Qur an, membaca dzikir dan lain-lain.

2. Yang menengah

Mengisi sebagian besar malam dengan berbagai ibadah seperti diatas.

3. Yang paling rendah

Melakukan Shalat Isyak secara berjamaah, dan berniat melakukan Shalat Subuh secara berjamaah. Dalam sebuah Hadits marfu’ diberitakan, “Barang siapa melakukan Shalat Isyak dalam bulan Ramadhan dengan berjamaah, maka ia telah menemui lailatul qodar”.

Demikian sekilas tentang malam lailatul qadar semoga bermanfaat. Amiin.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/niat-sholat-fardhu/