Sejarah Kemunduran Kerajaan Safawi di Persia

Sejarah Kemunduran Kerajaan Safawi di Persia

Sejarah Kemunduran Kerajaan Safawi di Persia

Sejarah Kemunduran Kerajaan Safawi di Persia
Sejarah Kemunduran Kerajaan Safawi di Persia

Ismail safawi lahir di ardabil, 25 rajab 892h/17 juli 1487 m merupakan pendiri dan penguasa pertama dinasti safawi yang berkuasa di iran.
Sepeninggal Abbas 1 Kerajaan Safawi berturut-turut diperintah oleh enam raja, yaitu safi mirza (1628-1642 M), Abbas II (1642-1667 M), sulaiman (1667-1694 M), Husain (1694-1722 M), Tahmasp II (1722-1732 M), dan Abbas III (1733-1736 M). pada masa raja-raja tersebut kondisi kerajaan safawi tidak menunjukkan grafik naik dan berkembang, tetapi justru memperlihatkan kemunduran yang akhirnya membawa kepada kehancuran.
Adapun penyebab kemunduran kerjaan syafawi yaitu:

1. Kepemimpinan

Safi Mirza, cucu abbas I adalah seorang pemimpin yang lemah, ia sangat kejam terhadap pembesar-pembesar kerajaan karena sifat pencemburunya. Kemajuan yang pernah di capai oleh Abbas I segera menurun. Kota Qandahar (sekarang termasuk wilayah Afghanistan) lepas dari kekuasaan kerajaan safawi, diduduki oleh kerajaan mughol yang ketika itu di perintah oleh Sultan Syah Jehar, sementara Baghdad direbut oleh kerajaan Usmani.

Abbas II adalah raja yang suka minum-minuman keras sehingga ia jatuh sakit dan meninggal. Meskipun demikian, dengan bantuan wazir-wazirnya, pada masanya kota Qandahar dapat direbut kembali.

Sebagaimana Abbas II, sulaiman juga seorang pemabuk. Ia bertindak kejam terhadap para pembesar yang di curigainya. Akibatnya, rakyat bersikap masa bodoh terhadap pemerintah, ia diganti oleh Shah Husain Alim. Pengganti Sulaiman ini memberi kekuasaan yang besar kepada para ulama’ Syi’ah yang sering memaksakan pendapatnya terhadap penganut aliran Sunni. Sikap ini membangkitkan kemarahan golonhan Sunni Afganistan, sehingga mereka berontak dan berhasil mengakhiri kekuasaan dinasti Safawi.

Penyebab lainnya adalah dekadensi moral yang melanda sebagian para pemimpin kerajaan safawi. ini turut mempercepat proses kehancuran kerajaan tersebut. Sulaiman, disamping pecandu berat narkotik, juga menyenangi kehidupan malam beserta harem- haremnya selama tujuh tahun tanpa sekalipun menyempatkan diri menangani pemerintahan. Begitu juga Sultan Husein.
Tidak kalah penting dari sebab-sebab diatas adalah seringnya terjadi konflik intern dalam bentuk perebutan kekuasaan dikalangan keluarga istana.

2. Pemberontakan

Pemberontakan bangsa Afgan tersebut terjadi pertama kali pada tahun 1709 M di bawah pimpinan Mir Vays yang berhasil merebut wilayah Qandahar. Pemberontakan terjadi di heart, suku Ardabil Afghanistan berhasil menduduki Mashad. Mir Vays dig anti oleh Mir Mahmud sebagai penguasa Qandahar. Ia berhasil mempersatukan pasukannya dengan pasukan Ardabil. Dengan kekuatan gabungan ini, Mir Mahmud berusaha memperluas wilayah kekuasaannya dengan merebut negeri-negeri Afghan dari kekuasaan safawi. Ia bahkan berusaha menguasai Persia.

Karena desakan dan ancamanMir Mahmud, Shah Husein akhirnya mengakui kekuasaan Mir Mahmud dan mengangkatnya sebagai gubernur di Qandahar dengan gelar Husein Quli Khan (budak Husein). Dengan pengakuan ini Mir Mahmud menjadi lebih leluasa bergerak. Pada tahun 1721 M ia dapat merebut han, mengepungnya selama 6 bulan dan memaksa Shah Husein untuk menyerah tanpa syarat. Pada tanggal 12 Oktober 1722 M Shah Husein menyerah dan 25 Oktober Miir Mahmud memasuki kota Isfahan dengan penuh kemenangan.

3. Aliran

Diantara sebab-sebab kemunduran dan kehancuran kerajaan safawi ialah konflik berkepanjangan dengan Kerajaan Usmani. Bagi kerajaan Usmani berdirinya kerajaan Safawi yang beraliran Syi’ah merupakan ancaman langsung terhadap wilayah kekuasaannya. Konflik antara dua kerajaan tersebut berlangsung lama, meskipun pernah berhenti sejenak ketika tercapai perdamaian pada masa Shah Abbas I. namun tak lama kemudian Abbas meneruskan konflik tersebut, dan setelah itu dapat di katakan tidak ada lagi perdamaian antara dua kerajaan besar islam tersebut.

Penyebab penting lainnya adalah karena pasukan ghulam (budak-budak) yang dibentuk oleh abbas I tidak memiliki semangat perang yang tinggi seperti Qizilbash.Hal ini disebabkan karena pasukan tersebut tidak di siapkan secara terlatih dan tidak melalui proses pendidikan rohani seperti yang dialami oleh Qizilbash. Sementara itu, anggota Qizilbash yang baru ternyata tidak memiliki militansi dan semangat yang sama dengan anggota Qizilbash sebelumnya.

Baca Juga: 

Keterkaitan Perintah Allah dengan Hukum Kemasyarakatan (Pemimpin)‎

Keterkaitan Perintah Allah dengan Hukum Kemasyarakatan (Pemimpin)‎

Keterkaitan Perintah Allah dengan Hukum Kemasyarakatan (Pemimpin)‎

 

Keterkaitan Perintah Allah dengan Hukum Kemasyarakatan (Pemimpin)‎
Keterkaitan Perintah Allah dengan Hukum Kemasyarakatan (Pemimpin)‎

Dalam shahih Muslim diriwayatkan hadits dari Abu Dzarr

ان رسول الله ص.م. سئل : أي الكلام أفضل ؟ قال : “ما اصطفى الله لملا ئكته سبحان الله و بحمده
“Bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya: ‘Ucapan apa yang pahng baik?’ Beliaumenjawab: ‘Yaitu apa yang dipilih oleh Allah SWT bagi para Malaikat-Nya; Mahasuci Allah, segala puji bagi-Nya.”
Mengenai firman-Nya: قال اني اعلم ما لا تعلمون”Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. Qatadah mengatakan : “Allah SWT sudah mengetahui bahwa diantara khalifah itu akan ada para Nabi, Rasul, kaum yang shalih dan para penghuni surga.”

Al-Qurthubi dan ulama

lainnya menjadikan ayat ini sebagai dalil yang menunjukkan keharusan mengangkat pemimpin untuk memutuskan perkara di tengah-tengah ummat manusia, mengakhiri pertikaian mereka, menolong orang-orang teraniaya dari yang menzhalimi, menegakkan hukum, mencegah berbagai perbuatan keji, dan berbagai hal yang penting lainnya yang tidak mungkin ditegakkan kecuali dengan adanya pemimpin, dan “Sesuatu yang menjadikan suatu kewajiban tidak sempurna kecuali dengannya, maka sesuatu itu sendiri merupakan hal wajib pula.”

Imam itu diperoleh melalui nash

sebagaimana yang dikatakan oleh segolongan ulama Ahlus Sunnah terhadap kepemimpinan Abu Bakar. Atau melalui pengisyaratan menurut pendapat lainnya. Atau melalui penunjukan pada akhir masa jabatan kepada orang lain, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Abu Bakar ash-Shiddiq terhadap ‘Umar bin Khathab ra. Atau dengan menyerahkan permasalahan untuk dimusyawarahkan oleh orang-orang shalih, sebagaimana yang pernah dilakukan ‘Umar bin al-Khathab ra. Atau dengan kesepakatan bersama ahlulhalli wal ‘aqdi untuk membai’atnya, atau dengan bai’at salah seorang dari mereka kepadanya dan dengan demikian wajib diikuti oleh mayoritas anggota. Hal tersebut menurut Imam al-Haramain merupakan ijma’ (konsensus), Wallahu a’lam. Atau dengan memaksa seseorang menjadi pemimpin untuk selanjutnya ditaati. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi perpecahan dan perselisihan, sebagaimana dinyatakan oleh Imam asy-Syafi’i.

Baca Juga: Ayat Kursi

Pada dasarnya masyarakat dengan masing-masing pribadi yang ada di dalamnya haruslah memerintah dam memimpin diri sendiri (Hadis : “kullukum raain wa kullukum mas uulun ‘an raiyyatih”-Mutafaqun’Alaih). Oleh karena itu pemerintah haruslah merupakan kekuatan pimpinan yang lahir dari masyarakat sendiri. Pemerintah haruslah demokratis, berasal dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat, menjalankan kebijaksanaan atas persetujuan rakyat berdasarkan musyawarah dan dimana keadilan dan martabat kemanusiaan tidak terganggu. Kekuatan yang sebenarnya di dalam negara ada ditangan rakyat, dan pemerintah harus bertanggung jawab pada rakyat.

Perwujudan menegakkan keadilan yang terpenting dan berpengaruh adalah menegakkan keadilan dibidang ekonomi atau pembagian kekayaan diantara anggota masyarakat. Dalam masyarakat yang tidak menganal batas-batas individual, sejarah merupakan perjuangan dialektisyang berjalan tanpa kendali dari pertentangan-pertentangangolongan yang didorong oleh ketidak serasian antara pertumbuhan kekuatan produksi disatu pihak dan pengumpuln kekayaan oleh golongan-golongan kecil dengan hak-hak istimewa dilain pihak. Karena kemerdekaan tak terbatas mendorong timbulnya jurang-jurang pemisah antara kekayaan dan kemiskinan yang semakin dalam.bila sudah mencapai batas maksimal, pertentangan golongan itu akan menghancurkan sendi-sendi tatanan sosial dan membinasakan kemanusiaan dan peradabannya.

Dalam masyarakat yang tidak menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya tempat tunduk dan menyerahkan diri, manusia dapat diperbudak oleh harta benda. Tidak lagi pekerja menguasai hasil pekerjaannya, tetapi justru malah dikuasai oleh hasil pekerjaan itu. Kekayaan telah menggenggam dan memberikan sifat-sifat tertentu seperti keserakahan, ketamakan dan kebengisan. Oleh karena itu, menegakkan keadilan bukan saja dengan amar ma’ruf nahi munkar saja, tetapi juga melalui pendidikan yang intensif pribadi-pribadi agar tetap mencintai kebenaran dan menyadari secara mendalam akan adanya Tuhan.

Contoh-Contoh Hukum Azimah yang Mendapatkan Rukhsoh

Contoh-Contoh Hukum Azimah yang Mendapatkan Rukhsoh

Contoh-Contoh Hukum Azimah yang Mendapatkan Rukhsoh

Contoh-Contoh Hukum Azimah yang Mendapatkan Rukhsoh
Contoh-Contoh Hukum Azimah yang Mendapatkan Rukhsoh

Rukhsoh

Secara etimologi , rukhshoh berarti kemudahan, kelapangan dan kemurahan. Secara terminologis, menurut ulama ushul fiqh adalah :
الحكم ثابت على خلاف الدليل العذر
“Hukum yang ditetapkan berbeda dengan dalil karena adanya uzur.”
Kata-kata “hukum” merupakan jenis dalam definisi yang mencakup semua bentuk hukum. Kata-kata tsabit (berlaku tetap) mengandung arti bahwa rukhsah itu berdasarkan dalil yang ditetapkan pembuat hukum yang menyalahi dalil yan ditetapkan sebelumnya. Kata-kata “menyalahi dalil yang ada” merupakan sifat pembeda dalam definisi yang mengeluarkan dari lingkup pengertian rukhsah, suatu yang memang pada dasarnya sudah boleh melakukannya seperti makan dan minum. Kebolehan dalam makan dan minum memang sudah dari dulunya dan tidak menyalahi hukum yang sudah ada. Kata “dalil” yang maksudnya adalah dalil hukum, dinyatakan dalam defenisi ini agar mencakup rukhsah untuk melakukan perbuatan yang ditetapkan dengan dalil yang menghendaki hukum wajib, seperti berbuka puasa bagi orang yang musafir, atau yang menyalahi dalil yang menghendaki hukum sunnah, seperti meninggalkan shalat jamaah karena hujan dan lain sebagainya.

Hukum rukhsah dikecualikan dari hukum azimah yang umum hanya berlaku ketika ada udzur yang berat dan kadar yang diperlukan saja. Hukum rukhsoh datang setelah hukum azimah.

Ditegaskan dalm surat Al-Baqoroh, 2 : 173 yang berbunyi :
إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (173)
“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi Barangsiapa dalam Keadaan terpaksa (memakannya) sedang Dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Haram juga menurut ayat ini daging yang berasal dari sembelihan yang menyebut nama Allah tetapi disebut pula nama selain Allah.

Hukum Menggunakan Azimah dan Rukhsoh

Dari keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa hukum menggunakan azimah adalah diwajibkan atau diharuskan. Karena azimah sendiri adalah hukum yang disyari’atkan sejak semula berupa hukum-hukum umum. Sedangkan rukhsoh pada dasarnya adalah pembebasan seorang mukallaf dari melakukan tututan hukum azimah dalam keadaan darurat. Dengan sendirinya hukumnya boleh, baik dalam mengerjakan sesuatu yang terlarang atau meninggalkan sesuatu yang perintah. Namun dalam hal menggunakan hukum rukhsah bagi orang yang memenuhi syarat untuk itu terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama.

Jumhur ulama berpendapat bahwa hukum menggunakan rukhsah itu tergantung kepada bentuk uzur yang menyebabkan adanya rukhsah itu. Dengan demikian menggunakan hukum rukhsah itu dapat menjadi wajib seperti memakan bangkai bagi orang yang tidak mendapat makanan halal, sedangkan ia khawatir jika tidak menggunakan rukhsah akan membahayakan dirinya.

Dalam menentukan pilihan yang paling afdhol antara rukhshah dengan azimah terdapat perbedaan pendapat ulama ushl fiqh. Sebagian ulama ushul fiqh menyatakan bahwa yang paling afdhal adalah memilih azimah, sedangkan sebagian ulama lain menyatakan bahwa yang paling afdhal adalah memilih rukhshah.

Baca Juga: Sayyidul Istigfar

Contoh-Contoh Hukum Azimah yang Mendapatkan Rukhsoh

1. Memperpendek shalat lima waktu karena bepergian.
2. Membatalkan puasa karena musyafir.
3. Mengusap khuff lebih dari satu malam, karena menepuh perjalan yang panjang.
4. Dapat bertayamum walaupun air melimpah ruah, dengan udzur sakit.
5. Tidak batal puasanya karena makan dan minum pada siang hari sebab lupa.
6. Ketidaktahuan, seperti tidak tahu bahwa berdehem itu membatalkan shalat.
7. Kesulitan secara umum, seperti shalat dalam keadaan najis yang dibolehkan seperti darah luka, bisul, atau kusta.
8. Minum khamar atau hal-hal yang diharamkan karena terpaksa.
9. Memakan daging babi atau bangkai, sebab tidak ada lagi makanan selain itu dan apabila tidak memakan itu dapat menyebabkan kematian.
10. Kekurangan, ini juga termasuk jenis masyaqqah, karena jiwa ini dibuat untuk mencintai kesempurnaan, lalu disesuaikan dengan keringanan dalam taklif (pembebanan). Contohnya adalah seperti anak kecil dan orang gila yang tidak kena taklif, juga perempuan yang tidak kena taklif sebagian yang diwajibkan kepada lelaki seperti shalat berjamaah, shalat Jumat, berjihad, membayar jizyah, dan yang lainnya.

4 NAMA ISTRI NABI MUHAMMAD SAW

4 NAMA ISTRI NABI MUHAMMAD SAW

4 NAMA ISTRI NABI MUHAMMAD SAW

4 NAMA ISTRI NABI MUHAMMAD SAW
4 NAMA ISTRI NABI MUHAMMAD SAW

Pernikahan-pernikahan Rasulullah SAW berikutnya dilatarbelakangi oleh beberapa hal namun tidak ada yang didasarkan pada hawa nafsu belaka. Berikut ini nama-nama istri Nabi Muhammad Rasulullah SAW menurut kronologi pernikahan mereka dengan Rasulullah SAW:

1. Khodijah binti Khuwailid RA. (556-619 M)

Status ketika menikah: Janda karena ditinggal wafat oleh 2 suami terdahulu, yaitu Abi Haleh Al Tamimy dan Oteaq Almakzomy

Periode menikah: Tahun 595M di Mekkah ketika usia Rasulullah SAW 25 tahun dan Khodijah 40 tahun.

Anak: Dari pernikahannya dengan Khodijah, Rasulullah SAW memiliki sejumlah anak laki-laki dan perempuan. Akan tetapi semua anak laki-laki beliau (Al-Qosim dan Abdullah) meninggal. Sedangkan yang anak-anak perempuan beliau adalah: Zainab, Ruqoyyah, Ummu Kultsum dan Fatimah.

Fakta penting: Khodijah RA adalah orang pertama yang mengakui kerasulan suaminya. Rasulullah SAW tidak menikah dengan wanita lain selama Khodijah masih hidup. Khodijah adalah istri yang paling dicintai Rasulullah SAW.

2. Saudah binti Zam’a RA. (596 – 674 M)

Status ketika menikah: Janda dari Sakran bin ‘Amr bin Abdi Syams yang turut berhijrah ke Habsyah (Abyssinia, Ethiopia)

Periode menikah: Tahun 631M ketika Saudah berusia 35 tahun.
Anak: tidak ada.

Fakta penting: Tujuan Rasulullah SAW menikahinya adalah untuk menyelamatkannya dari kekafiran akibat menjanda. Keluarga Saudah RA masih kafir dan dipastikan akan mempengaruhi kembali Saudah jika tidak diselamatkan.

3. Aisyah binti Abu Bakar RA. (614-678 M)

Status ketika menikah: Gadis. Aisyah RA berumur antara 6 hingga 9 tahun ketika Rasulullah menikahinya. Tetapi mereka baru bercampur setelah Aisyah cukup umur.

Periode menikah: bulan Syawal tahun kesebelas dari kenabian, setahun setelah beliau menikahi Saudah atau dua tahun dan lima bulan sebelum Hijrah.
Anak: tidak ada.

Fakta penting: Rasulullah SAW tidak pernah menikahi seorang gadis selain Aisyah. Tujuan Rasulullah SAW menikahinya adalah untuk mendekatkan hubungan dengan keluarga Abu Bakar (yang merupakan sahabat utama Rasulullah SAW dan merupakan khalifah pertama setelah Rasulullah SAW meninggal).

4. Hafsoh binti Umar bin Khatab RA. (607-antara 648 dan 665 M)

Status ketika menikah: Janda dari Khunais bin Hudzaifah yang gugur sebagai syahid dalam Perang Badar.

Periode menikah: tidak lama setelah Perang Badar usai, tahun ke-3 Hijriyah
Anak: tidak ada.

Fakta penting: Rasulullah SAW menikahinya untuk menghormati ayah Hafsoh, yaitu Umar bin Khatab RA yang kelak menjadi khalifah kedua setelah Rasulullah SAW meninggal.

Baca Juga: 

20 SIFAT WAJIB ALLAH DAN 20 SIFAT MUSTAHIL ALLAH

20 SIFAT WAJIB ALLAH DAN 20 SIFAT MUSTAHIL ALLAH

20 SIFAT WAJIB ALLAH DAN 20 SIFAT MUSTAHIL ALLAH

20 SIFAT WAJIB ALLAH DAN 20 SIFAT MUSTAHIL ALLAH
20 SIFAT WAJIB ALLAH DAN 20 SIFAT MUSTAHIL ALLAH

Sifat-Sifat Mustahil bagi Allah

Sifat Mustahil Bagi Allah artinya Sifat Yang Tidak Mungkin ada pada Allah Swt. Sifat Mustahil Allah merupakan Lawan Kata/Kebalikan dari Sifat Wajib Allah
Berikut dibawah ini adalah 20 sifat-sifat mustahil bagi Allah swt.
‘Adam, artinya tiada (bisa mati)
Huduth, artinya baharu (bisa di perbaharui)
Fana’, artinya binasa (tidak kekal/mati)
Mumathalatuhu Lilhawadith, artinya menyerupai akan makhlukNya
Qiyamuhu Bighayrih, artinya berdiri dengan yang lain (ada kerjasama)
Ta’addud, artinya berbilang – bilang (lebih dari satu)
‘Ajz, artinya lemah (tidak kuat)
Karahah, artinya terpaksa (bisa di paksa)
Jahl, artinya jahil (bodoh)
Maut, artinya mati (bisa mati)
Syamam, artinya tuli
‘Umy, artinya buta
Bukm, artinya bisu
Kaunuhu ‘Ajizan, artinya lemah (dalam keadaannya)
Kaunuhu Karihan, artinya terpaksa (dalam keadaannya)
Kaunuhu Jahilan, artinya jahil (dalam keadaannya)
Kaunuhu Mayyitan, artinya mati (dalam keadaannya)
Kaunuhu Asam, artinya tuli (dalam keadaannya)
Kaunuhu A’ma, artinya buta (dalam keadaannya)
Kaunuhu Abkam, artinya bisu (dalam keadaannya)

Baca Juga: Kalimat Syahadat

Rangkuman (Table Sifat-Sifat Wajib Allah dan Sifat-Sifat Mustahil Bagi Allah )

Tabel ini kami buat untuk memudahkan anda dalam menghafal dan memahaminya
No. Sifat Wajib Allah Tulisan Arab Arti Jenis Sifat Sifat Mustahil Allah Tulisan Arab Arti
1 Wujud
ﻭﺟﻮﺩ
Ada Nafsiah Adam
ﻋﺪﻡ
Tiada
2 Qidam
ﻗﺪﻡ
Terdahulu Salbiah Huduts
ﺣﺪﻭﺙ
Baru
3 Baqa
ﺑﻘﺎﺀ
Kekal Salbiah Fana
ﻓﻨﺎﺀ
Berubah-ubah (akan binasa)
4 Mukhalafatuhu lilhawadis
ﻣﺨﺎﻟﻔﺘﻪ ﻟﻠﺤﻮﺍﺩﺙ
Berbeda dengan makhluk-Nya Salbiah Mumathalatuhu lilhawadith
ﻣﻤﺎﺛﻠﺘﻪ ﻟﻠﺤﻮﺍﺩﺙ
Menyerupai sesuatu
5 Qiyamuhu binafsih
ﻗﻴﺎﻣﻪ ﺑﻨﻔﺴﻪ
Berdiri sendiri Salbiah Qiamuhu bighairih
ﻗﻴﺎﻣﻪ ﺑﻐﻴﺮﻩ
Berdiri-Nya dengan yang lain
6 Wahdaniyat
ﻭﺣﺪﺍﻧﻴﺔ
Esa (satu) Salbiah Ta’addud
ﺗﻌﺪﺩ
Lebih dari satu (berbilang)
7 Qudrat
ﻗﺪﺭﺓ
Kuasa Ma’ani Ajzun
ﻋﺟﺰ
Lemah
8 Iradat
ﺇﺭﺍﺩﺓ
Berkehendak (berkemauan) Ma’ani Karahah
ﻛﺮﺍﻫﻪ
Tidak berkemauan (terpaksa)
9 Ilmu
ﻋﻠﻢ
Mengetahui Ma’ani Jahlun
ﺟﻬﻞ
Bodoh
10 Hayat
ﺣﻴﺎﺓ
Hidup Ma’ani Al-Maut
ﺍﻟﻤﻮﺕ
Mati
11 Sama’
ﺳﻤﻊ
Mendengar Ma’ani Sami
ﺍﻟﺻمم
Tuli
12 Basar
ﺑﺼﺮ
Melihat Ma’ani Al-Umyu
ﺍﻟﻌﻤﻲ
Buta
13 Kalam
ﻛﻼ ﻡ
Berbicara Ma’ani Al-Bukmu
ﺍﻟﺑﻜﻢ
Bisu
14 Kaunuhu qaadiran
ﻛﻮﻧﻪ ﻗﺎﺩﺭﺍ
Keadaan-Nya yang berkuasa Ma’nawiyah Kaunuhu ajizan
ﻛﻮﻧﻪ ﻋﺎﺟﺰﺍ
Keadaan-Nya yang lemah
15 Kaunuhu muriidan
ﻛﻮﻧﻪ ﻣﺮﻳﺪﺍ
Keadaan-Nya yang berkehendak menentukan Ma’nawiyah Kaunuhu mukrahan
ﻛﻮﻧﻪ مكرها
Keadaan-Nya yang tidak menentukan (terpaksa)
16 Kaunuhu ‘aliman
ﻛﻮﻧﻪ ﻋﺎﻟﻤﺎ
Keadaan-Nya yang mengetahui Ma’nawiyah Kaunuhu jahilan
ﻛﻮﻧﻪ ﺟﺎﻫﻼ
Keadaan-Nya yang bodoh
17 Kaunuhu hayyan
ﻛﻮﻧﻪ ﺣﻴﺎ
Keadaan-Nya yang hidup Ma’nawiyah Kaunuhu mayitan
ﻛﻮﻧﻪ ﻣﻴﺘﺎ
Keadaan-Nya yang mati
18 Kaunuhu sami’an
ﻛﻮﻧﻪ ﺳﻤﻴﻌﺎ
Keadaan-Nya yang mendengar Ma’nawiyah Kaunuhu ashamma
ﻛﻮﻧﻪ ﺃﺻﻢ
Keadaan-Nya yang tuli
19 Kaunuhu bashiiran
ﻛﻮﻧﻪ ﺑﺼﻴﺭﺍ
Keadaan-Nya yang melihat Ma’nawiyah Kaunuhu a’maa
ﻛﻮﻧﻪ ﺃﻋﻤﻰ
Keadaan-Nya yang buta
20 Kaunuhu mutakalliman
ﻛﻮﻧﻪ ﻣﺘﻜﻠﻤﺎ
Keadaan-Nya yang berbicara Ma’nawiyah Kaunuhu abkam
ﻛﻮﻧﻪ ﺃﺑﻜﻢ
Keadaan-Nya yang bisu

Sifat Ja’iz Bagi Allah Swt

Sifat Jaiz bagi Allah artinya boleh bagi Allah Swt mengadakan sesuatu atau tidak mengadakan sesuatu atau di sebut juga sebagai “mumkin”. Mumkin ialah sesuatu yang boleh ada dan tiada.

Ja’iz artinya boleh-boleh saja, dengan makna Allah Swt menciptakan segala sesuatu, yakni dengan tidak ada paksaan dari sesuatupun juga, sebab Allah Swt bersifat Qudrat (kuasa) dan Iradath (kehendak), juga boleh – boleh saja bagi Allah Swt meniadakan akan segala sesuatu apapun yang ia mau.

Alhamdulillah selese juga akhirnya menulis artikel tentang 20 Sifat Wajib Allah dan 20 Sifat Mustahil Allah lengkap dengan dalil, arti dan penjelasannya.

HUKUMNYA SHALAT SAMBIL MENANGIS

HUKUMNYA SHALAT SAMBIL MENANGIS

HUKUMNYA SHALAT SAMBIL MENANGIS

HUKUMNYA SHALAT SAMBIL MENANGIS
HUKUMNYA SHALAT SAMBIL MENANGIS

Allah SWT berfirman, “Dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (QS. Maryam: 58).

Dalam hadits disebutkan, dari ‘Abdullah bin Asy-Syikkhir, ia berkata, “Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat, ketika itu beliau menangis. Dari dada beliau keluar rintihan layaknya air yang mendidih.” (HR. Abu Daud no. 904 dan Tirmidzi dalam Asy-Syamail Al-Muhammadiyah no. 322. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit keras, ada seseorang yang menanyakan imam shalat kemudian beliau bersabda, “Perintahkan pada Abu Bakr agar ia mengimami shalat.”

‘Aisyah lantas berkata, ”Sesungguhnya Abu Bakr itu orang yang sangat lembut hatinya. Apabila ia membaca Al-Qur’an, ia tidak dapat menahan tangisnya.” Namun beliau bersabda, “Tetap perintahkan Abu Bakr untuk menjadi imam.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 713 dan Muslim no. 418).

So, Sob, berdasarkan keterangan yang ada di hadits dan quran, menangis saat shalat kerena takut pada Allah SWT tidak membatalkan shalat.

Beberapa pandangan ulama madzhab soal hal ini,

Ulama Hanafiyah

berpandangan bahwa jika menangis dalam shalat dikarenakan sedih pada musibah, maka itu membatalkan shalat. Karena seperti itu dianggap sebagai kalam manusia (perkara di luar shalat, pen.). Namun jika karena mengingat surga dan takut pada neraka, shalatnya tidaklah batal. Seperti itu menunjukkan bertambahnya khusyuk. Sedangkan khusyuk adalah ruh dari shalat.

Ulama Malikiyah

berpandangan bahwa menangis dalam shalat bisa jadi dengan suara atau tanpa suara. Jika menangis tanpa suara, shalatnya tidak batal. Jika dengan suara, shalatnya batal. Sedangkan jika menangisnya dengan suara dan itu atas dasar pilihannya, shalatnya batal. Jika bukan atas pilihannya dan didasari karena sangat khusyuknya, shalatnya tidak batal walaupun banyak. Namun kalau bukan karena khusyuknya, shalatnya batal.

Ulama Syafi’iyah

berpendapat bahwa jika menangisnya keluar dua huruf, maka membatalkan shalat karena seperti itu meniadakan shalat. Meskipun ketika itu menangisnya karena takut akhirat. Ini pendapat yang paling kuat dalam madzhab Syafi’i, walau dalam madzhab Syafi’iyah sendiri ada yang menyelisihi pendapat tersebut.

Baca Juga: Sifat Allah

Ulama Hambali

berpendapat bahwa jika menangisnya terdiri dari dua huruf, itu muncul karena khasyah (rasa takut yang besar), atau bahkan sambil tersedu-sedu, tidaklah membatalkan shalat. Karena seperti karena terhanyut dalam dzikir. Begitu juga kalau seseorang tidak khusyuk lalu menangis dalam shalat, shalatnya batal.

Ibnul Qayyim mengatakan dalam Zadul Ma’ad, “Memaksakan diri untuk menangis disebut at-Tabaki, ada dua macam. Ada yang terpuji dan ada yang tercela. Memaksakan diri untuk nangis yang terpuji adalah berusaha menangis dalam rangka melembutkan hati dan agar takut kepada Allah, bukan karena riya atau sum’ah (pamer). Sementara memaksa nangis yang tercela adalah sok nangis untuk dilihat orang lain.” (Zadul Ma’ad, 1/175).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan, “Menangis dalam shalat jika karena takut pada Allah dan mengingat perkara akhirat, begitu pula karena merenung ayat yang dibaca seperti saat melewati ayat-ayat yang menyebutkan janji dan ancaman, maka tidak membatalkan shalat. Adapun jika menangis tersebut karena musibah yang menimpa atau semacamnya, maka membatalkan shalat. Bisa membatalkan karena menangis tersebut berkaitan dengan perkara di luar shalat.

Karenanya memikirkan perkara-perkara di luar shalat atau perkara lain mesti dihilangkan agar tidak membatalkan shalat. Intinya, memikiran berbagai macam hal yang tidak terkait dengan shalat berakibat kekurangan saja di dalam shalatnya.” (Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb, 9: 141). Allahu a’lam.

Tanda-tanda kenabian pada Nabi Muhammad Saw

Tanda-tanda kenabian pada Nabi Muhammad Saw

Tanda-tanda kenabian pada Nabi Muhammad Saw

Tanda-tanda kenabian pada Nabi Muhammad Saw
Tanda-tanda kenabian pada Nabi Muhammad Saw

Tanda-tanda kenabian

Sejak kecil Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam sudah memperlihatkan keistimewaan yang sangat luar biasa. Usia 5 bulan ia sudah pintar berjalan, usia 9 bulan ia sudah bisa berbicara. Pada usia 2 tahun ia sudah bisa dilepas bersama belum dewasa Halimah yang lain untuk menggembala kambing. Saat itulah ia berhenti menyusu dan karenanya harus dikembalikan lagi padaibunya.
melaluiataubersamaini berat hati Halimah terpaksa mengembalikan anak asuhnya yang sudah membawa berkah itu, sementara Aminah sangat senang melihat anaknya kembali dalam keadaan sehat dan segar.

Namun tak lama sehabis itu Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam kembali diasuh oleh Halimah lantaran terjadi wabah penyakit di kota Mekah. Dalam masa asuhannya kali ini, baik Halimah maupun anak-anaknya sering menemukan keajaiban di sekitar diri Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam. Anak-anak Halimah sering mendengar bunyi yang memdiberi salam kepada Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam, “Assalamu ‘Alaika ya Muhammad,” padahal mereka tidak melihat ada orang di situ.

Dalam peluang lain, Dimrah, anak Halimah, berlari-lari sambil menangis dan mengadukan bahwa ada dua orang bertubuh besar-besar dan berpakaian putih menangkap Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam. Halimah bergegas menyusul Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam. Saat ditanyai, Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam menjawaban, “Ada 2 malaikat turun dari langit. Mereka mempersembahkan salam kepadaku, membaringkanku, membuka bajuku, membelah dadaku, membasuhnya dengan air yang mereka bawa, kemudian menutup kembali dadaku tanpa saya merasa sakit.”

Halimah sangat besar hati melihat keajaiban-keajaiban pada diri Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam, namun lantaran kondisi ekonomi keluarganya yang semakin melemah, ia terpaksa mengembalikan Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam, yang ketika itu berusia 4 tahun, kepada ibu kandungnya di Mekah.

Baca Juga: Ayat Kursi

Nabi Muhammad di Usia 6 Tahun

Dalam usia 6 tahun, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam sudah menjadi yatim-piatu. Aminah meninggal lantaran sakit sepulangnya ia mengajak Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam berziarah ke makam ayahnya. Sesudah janjkematian Aminah, Abdul Muttalib mengambil alih tanggung jawaban merawat Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam. Namun kemudian Abdul Muttalib pun meninggal, dan tanggung jawaban pemeliharaan Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam beralih pada pamannya, Abi Thalib.
Ketika berusia 12 tahun, Abi Thalib mengabulkan seruan Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam untuk ikut serta dalam kafilahnya ketika ia memimpin rombongan ke Syam (Suriah). Usia 12 tahun sebenarnya masih terlalu muda untuk ikut dalam perjalanan menyerupai itu, namun dalam perjalanan ini kembali terjadi keajaiban yang ialah gejala kenabian Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam.

Segumpal awan terus menaungi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam sehingga gerah terik yang mengkremasi kulit tidak dirasakan olehnya. Awan itu seolah mengikuti gerak kafilah rombongan Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam. Bila mereka berhenti, awan itu pun ikut berhenti. Kejadian ini menarikdanunik perhatian seorang pendeta Katolik berjulukan Buhairah yang memperhatikan dari atas biaranya di Busra. Ia menguasai betul isi kitab Taurat dan Injil. Hatinya bergetar melihat dalam kafilah itu terdapat seorang anak yang terang benderang sedang mengendarai unta. Anak itulah yang terlindung dari sorotan sinar matahari oleh segumpal awan di atas kepalanya. “INI Roh Kebenaran yang dijanjikan itu,” pikirnya.

Pendeta itu pun berjalan menyongsong iring-ienteng kafilah itu dan mengundang mereka dalam suatu perjamuan makan. Sesudah bercengkrama-bincang dengan Abi Thalib dan Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam sendiri, ia semakin yakin bahwa anak yang berjulukan Muhammad yaitu calon nabi yang ditunjuk oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Keyakinan ini dipertegas lagi oleh kenyataan bahwa di belakang pundak Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam terdapat sebuah tanda kenabian.

Saat akan berpisah dengan para tamunya, pendeta Buhairah berpesan pada Abi Thalib, “Saya berharap Tuan berhati-hati menjaganya. Saya yakin dialah nabi kiamat yang sudah ditunggu-tunggu oleh seluruh umat manusia. Usahakan biar hal ini tidakboleh diketahui oleh orang-orang Yahudi. Mereka sudah membunuh nabi-nabi sebelumnya. Saya tidak mengada-ada, apa yang saya terangkan itu berdasarkan apa yang saya ketahui dari kitab Taurat dan Injil. Semoga tuan-tuan selamat dalam perjalanan.”
Apa yang dikatakan oleh pendeta Katolik itu membuat Abi Thalib segera mempercepat urusannya di Suriah dan segera pulang ke Mekah.

Wanita yang Haram di Nikahi

Wanita yang Haram di Nikahi

Wanita yang Haram di Nikahi

 

Wanita yang Haram di Nikahi
Wanita yang Haram di Nikahi

Allah SWT berfirman:

وَلَا تَنْكِحُوا مَا نَكَحَ آبَاؤُكُمْ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ ۚ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَمَقْتًا وَسَاءَ سَبِيلًا
“Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh)”. (QS. An-Nisaa:22).

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالَاتُكُمْ وَبَنَاتُ الْأَخِ وَبَنَاتُ الْأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلَائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا

“Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisaa:23).

وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۖ كِتَابَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ ۚ وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَٰلِكُمْ أَنْ تَبْتَغُوا بِأَمْوَالِكُمْ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ ۚ فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً ۚ وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا تَرَاضَيْتُمْ بِهِ مِنْ بَعْدِ الْفَرِيضَةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

“Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisaa:24).

Dalam tiga ayat diatas Allah SWT menyebutkan perempuan-perempuan yang haram dinikai. Dengan mencermati firman Allah tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa tahrim, pengharaman’ ini terbagi dua:

Pertama: Tahrim Muabbad

(pengharaman yang berlaku selama-lamanya), yaitu seorang perempuan tidak boleh menjadi isteri seorang laki-laki di segenap waktu.

Kedua: Tahrim Muaqqat

(pengharaman yang bersifat sementara), jika nanti keadaan berubah, gugurlah tahrim itu dan menjadi halal.
Sebab-sebab tahrim muaqqad (pengharaman selamanya) ada tiga:
Pertama karena nasab, kedua haram mushaharah (ikatan perkawinan) dan

ketiga karena penyusuan

Pertama: perempuan-perempuan yang haram dinikahi karena nasab adalah :
1. Ibu
2. Anak perempuan
3. Saudara perempuan
4. Bibi dari pihak ayah (saudara perempuan ayah)
5. Bibi dari pihak ibu (saudara perempuan ibu)
6. Anak perempuan saudara laki-laki (keponakan)
7. Anak perempuan saudara perempuan).

Kedua: perempuan-perempuan yang haram diwakin karena mushaharah adalah :
1. Ibu istri (ibu mertua), dan tidak dipersyaratkan tahrim ini suami harus dukhul “bercampur” lebih dahulu. Meskipun hanya sekedar akad nikah dengan puterinya, maka sang ibu menjadi haram dinikahi atas menantu tersebut.

2. Anak perempuan dari isteri yang sudah didukhul (dikumpul), oleh karena itu, manakala akad nikah dengan ibunya sudah dilangsungkan namun belum sempat (mengumpulinya), maka anak perempuan termasuk halal bagi mantan suami ibunya itu. Hal ini didasarkan pada firman Allah, ”Tetapi kalian belum bercampur dengan isteri kalian itu (dan sudah kalian campur), maka tidak berdosa kalian menikahinya.” (An-Nisaa:23).

3. Isteri anak (menantu perempuan), ia menjadi haram dikawini hanya sekedar dilangsungkannya akad nikah.

4. Isteri bapak (ibu tiri) diharamkan atas anak menikahi isteri bapak dengan sebab hanya sekedar terjadinya akad nikah dengannya.

Baca Juga: 

Rukun dan Syarat Sah Nikah

Rukun dan Syarat Sah Nikah

Rukun dan Syarat Sah Nikah

Rukun dan Syarat Sah Nikah
Rukun dan Syarat Sah Nikah

 

Akad nikah tidak akan sah kecuali jika terpenuhi rukun-rukun yang enam perkara ini :

1. Ijab-Qabul

Islam menjadikan Ijab (pernyataan wali dalam menyerahkan mempelai wanita kepada mempelai pria) dan Qabul (pernyataan mempelai pria dalam menerima ijab) sebagai bukti kerelaan kedua belah pihak. Al Qur-an mengistilahkan ijab-qabul sebagai miitsaaqan ghaliizhaa (perjanjian yang kokoh) sebagai pertanda keagungan dan kesucian, disamping penegasan maksud niat nikah tersebut adalah untuk selamanya.

Baca Juga: Rukun Iman

Syarat ijab-qabul adalah :

a. Diucapkan dengan bahasa yang dimengerti oleh semua pihak yang hadir.
b. Menyebut jelas pernikahan & nama mempelai pria-wanita

2. Adanya mempelai pria

Syarat mempelai pria adalah :
a. Muslim & mukallaf (sehat akal-baligh-merdeka )
b. Bukan mahram dari calon isteri
c. Tidak dipaksa.
d. Orangnya jelas.
e. Tidak sedang melaksanakan ibadah haji.

3. Adanya mempelai wanita.

Syarat mempelai wanita adalah :
a. Muslimah (atau beragama samawi, tetapi bukan kafirah/musyrikah) & mukallaf
b. Tidak ada halangan syar’i (tidak bersuami, tidak dalam masa ‘iddah & bukan mahram dari calon suami).
c. Tidak dipaksa.
d. Orangnya jelas.
e. Tidak sedang melaksanakan ibadah haji.

4. Adanya wali.

Syarat wali adalah :
a. Muslim laki-laki & mukallaf (sehat akal-baligh-merdeka).
b. Adil
c. Tidak dipaksa.
d. Tidak sedang melaksanakan ibadah haji.

Tingkatan dan urutan wali adalah sebagai berikut:
a. Ayah
b. Kakek
c. Saudara laki-laki sekandung
d. Saudara laki-laki seayah
e. Anak laki-laki dari saudara laki – laki sekandung
f. Anak laki-laki dari saudara laki – laki seayah
g. Paman sekandung
h. Paman seayah
i. Anak laki-laki dari paman sekandung
j. Anak laki-laki dari paman seayah.
k. Hakim

5. Adanya saksi (2 orang pria).

Meskipun semua yang hadir menyaksikan aqad nikah pada hakikatnya adalah saksi, tetapi Islam mengajarkan tetap harus adanya 2 orang saksi pria yang jujur lagi adil agar pernikahan tersebut menjadi sah. Syarat saksi adalah :
a. Muslim laki-laki & mukallaf (sehat akal-baligh-merdeka).
b. Adil
c. Dapat mendengar dan melihat.
d. Tidak dipaksa.
e. Memahami bahasa yang dipergunakan untuk ijab-qabul.
f. Tidak sedang melaksanakan ibadah haji.

6. Mahar.

Beberapa ketentuan tentang mahar :

a. Mahar adalah pemberian wajib (yang tak dapat digantikan dengan lainnya) dari seorang suami kepada isteri, baik sebelum, sesudah maupun pada saat aqad nikah. Firman Allah dalam surat An-Nisaa ayat 4:

وَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً ۚ فَإِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَرِيئًا

“Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.” (QS. An-Nisaa:4)

b. Mahar wajib diterimakan kepada isteri dan menjadi hak miliknya, bukan kepada/milik mertua.
c. Mahar yang tidak tunai pada akad nikah, wajib dilunasi setelah adanya persetubuhan.
d. Mahar dapat dinikmati bersama suami jika sang isteri memberikan dengan kerelaan.
e. Mahar tidak memiliki batasan kadar dan nilai. Syari’at Islam menyerahkan perkara ini untuk disesuaikan kepada adat istiadat yang berlaku. Boleh sedikit, tetapi tetap harus berbentuk, memiliki nilai dan bermanfaat.

Pengertian Perkawinan dan Hukum Nikah dalam Islam

Pengertian Perkawinan dan Hukum Nikah dalam Islam

Pengertian Perkawinan dan Hukum Nikah dalam Islam

Pengertian Perkawinan dan Hukum Nikah dalam Islam
Pengertian Perkawinan dan Hukum Nikah dalam Islam

Pengertian Perkawinan

Perkawinan secara bahasa : kumpulan, bersetubuh, akad secara syar’i : dihalalkannya seorang lelaki dan untuk perempuan bersenang-senang, melakukan hubungan seksual, dll .

Kata nikah berasal dari bahasa Arab yang didalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan dengan perkawinan. Nikah menurut istilah syariat Islam adalah akad yang menghalalkan pergaulan antara laki – laki dan perempuan yang tidak ada hubungan mahram sehingga dengan akad tersebut terjadi hak dan kewjiban antara kedua insan.

Hubungan antara seorang laki – laki dan perempuan adalah merupakan tuntunan yang telah diciptakan oleh Allah SWT dan untuk menghalalkan hubungan ini maka disyariatkanlah akad nikah. Pergaulan antara laki-laki dan perempuan yang diatur dengan pernikahan ini akan membawa keharmonisan, keberkahan dan kesejahteraan baik bagi laki-laki maupun perempuan, bagi keturunan diantara keduanya bahkan bagi masyarakat yang berada disekeliling kedua insan tersebut.

Berbeda dengan pergaulan antara laki-laki dan perempuan yang tidak dibina dengan sarana pernikahan akan membawa malapetaka baik bagi kedua insan itu, keturunannya dan masyarakat disekelilingnya. Pergaulan yang diikat dengan tali pernikahan akan membawa mereka menjadi satu dalam urusan kehidupan sehingga antara keduanya itu dapat menjadi hubungan saling tolong menolong, dapat menciptkan kebaikan bagi keduanya dan menjaga kejahatan yang mungkin akan menimpa kedua belah pihak itu. Dengan pernikahan seseorang juga akan terpelihara dari kebinasaan hawa nafsunya.
Allah SWT berfirman dalam surat An – Nisa Ayat 3 sebagai berikut :

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَىٰ فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَلَّا تَعُولُوا

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”. (An-Nisa: 3).

Ayat ini memerintahkan kepada laki-laki yang sudah mampu untuk melaksanakan nikah. Adapun yang dimaksud adil dalam ayat ini adalah adil didalam memberikan kepada istri berupa pakaian, tempat, giliran dan lain-lain yang bersifat lahiriah. Ayat ini juga menerangkan bahwa Islam memperbolehkan poligami dengan syarat-syarat tertentu.

Baca Juga: Rukun Islam

Hukum Nikah

Para fuqaha mengklasifikasikan hukum nikah menjadi 5 kategori yang berpulang kepada kondisi pelakunya :

Wajib, bila nafsu mendesak, mampu menikah dan berpeluang besar jatuh ke dalam zina.

Sunnah, bila nafsu mendesak, mampu menikah tetapi dapat memelihara diri dari zina.

Mubah, bila tak ada alasan yang mendesak/mewajibkan segera menikah dan/atau alasan yang mengharamkan menikah.

Makruh, bila nafsu tak mendesak, tak mampu memberi nafkah tetapi tidak merugikan isterinya.

Haram, bila nafsu tak mendesak, tak mampu memberi nafkah sehingga merugikan isterinya.