Ciri Dasar Pendidikan Karakter

            Menurut Foerster, pencetus pendidikan karakter dan pedagog jerman, ada empat cirri dasar dalam pendidikan karakter. Pertama, keteraturan interior dimana setiap tindakan diukur berdasar hierarki nilai. Nilai menjadi pedoman normative setiap tindakan. Kedua, koherensi yang member keberanian, membuat seseorang teguh pada prinsip, tidak mudah terombang ambing pada situasi baru atau dekat resiko. Koherensi merupakan dasar yang membangun rasa percaya satu sama lain. Tidak adanya koherensi meruntuhkan kredibilitas seseorang. Ketiga, otonomi. Di situ seseorang menginternalisasikan aturan dari luar sampai menjadu nilai-nilai bagi pribadi. Ini dapat dilihat lewat penilaian atas keputusan pribadi tanpa terpengaruh atau desakan pihak lain. Keempat, keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan merupakan daya tahan seseorang guna mengingini apa yang dipandang baik, dan kesetiaan merupakan dasar bagi penghormatan atas komitmen yang dipilih.[7]

Gambar: Ciri dasar pendidikan Karakter

Kematangan keempat karakter ini, lanjut Foerster. Memungkinkan manusia melewati tahap individualitas menuju personalitas.”orang-orang modern sering mencampuradukkan individualitas dan personalitas, antara aku alami dan aku rohani, antara independensi eksterior dan interior’’. Karakter inilah yang menentukan performa seorang pribadi dalam segala tindakannya.

            Dalam praktiknya, Lickona dkk menemukan sebelas prinsip agar pendidikan karakter dapat berjalan evektif kesebelas prinsip tersebut sebagai berikut[8]

1)      Kembangkan nilai-nilai etika inti dan nilai-nilai kinerja pendukungnya sebagai fondasi karakter yang baik

2)      Devinisikan ‘karakter’ secara komperehensif, yang mencakup pikiran, perasaan, dan perilaku

3)      Gunakan pendekatan yang komprehensif, disengaja, dan proaktif dalam pengembangan karakter

4)      Ciptakan komunitas sekolah yang penuh perhatian

5)      Beri siswa kesempatan untuk melakukan tindakan moral

6)      Buat kurikulum akademik yang bermakna dan menantang yang menghormati semua peserta didik, mengembangkan karakter, dan membantu siswa untuk berhasil

7)      Usahakan mendorong motivasi diri siswa

8)      Libatkan staf sekolah sebagai komunitas pembelajaran dan moral yang berbagi tanggung jawab dalam pendidikan karakter dan upaya untuk mematuhi nilai-nilai inti yang sama yang membimbing pendidikan siswa

9)      Tumbuhkan kebersamaan dalam kepemimpinan moral dan dukungan jangka panjang bagi inisiatif pendidikan karakter

10)  Libatkan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam upaya pembangunan karakter

11)  Evaluasi karakter sekolah, fungsi staf sekolah sebagai pendidik karakter, dan sejauh mana siswa memanifestasikan karakter yang baik.

Dalam pendidikan karakter sangat penting dikembangkan nilai-nilai etika inti seperti kepedulian, kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan rasa hormat terhadap diri dan orang lain bersama dengan nilai-nilai kinerja pendukungnya seperti ketekunan, etos kerja yang tinggi, dan kegigihan sebagai basis karakter yang baik. Sekolah harus berkomitmen untuk mengembangkan karakter peserta didik berdasarkan nilai-nilai dimaksud, mendevinisikannya dalam bentuk perilaku yang dapat diamati dalam kehidupan sekolah sehari-hari. Selain itu, sekolah harus mencontohkan nilai-nilai itu, mengkaji dan mendiskusikannya, menggunakannya sebagai dasar dalam hubungan antarmanusia, dan mengapresiasi manifestasi nilai-nilai tersebutdisekolah dan masyarakat

sumber :

http://blog.dinamika.ac.id/arya/2020/06/07/download-kinemaster-pro-apk/