Dasar-Dasar Perwujudan Diferensiasi Sosial

Dasar-Dasar Perwujudan Diferensiasi Sosial

Dasar-Dasar Perwujudan Diferensiasi Sosial
Dasar-Dasar Perwujudan Diferensiasi Sosial
  1. Ras

Ras merupakan anugrah dari Tuhan Yang Maha Esa. Manusia dijadikan berbangsa-bangsa adalah untuk saling membedakan dan saling mengenal. Dalam ras tidak ada ukuran tinggi rendah karena ras adalah identitas kodrat yang akan selalu dimiliki oleh manusia. Dabzhanzky dalam bukunya Herdity Race Society berpendapat rasa adalah populasi yang dapat dibedakan berdasarkan gen atau kategori individu berdasarkan individu secara turun temurun memiliki ciri fisik dan biologis tertentu.

Penggolongan ras dapat dibedakan berdasarkan ciri-ciri morfologis yang tampak (fenotif). Ciri-ciri ini dapat dibedakan dalam dua golongan yaitu:

1) Ciri kualitatif, yaitu warna kulit, bentuk rambut dan lain-lain

2) Ciri kuantitatif, yaitu bentuk badan, berat badan dan lain-lain

Peristiwa sejarah mencatat, kesalahpahaman dalam memahami pembedaan sosial di masyarakat yaitu menjadikan RAS sebagai ukuran tinggi rendahnya (stratifikasi sosial) status sosial masyarakat. Pada zaman perbudakan di Eropa dan Afrika, perbedaan masyarakat didasarkan pada warna kulit. Kulit Putih dianggap ras lebih unggul dibandingkan dengan ras kulit hitam. Perbedaan warna kulit ini, berdampak pula dalam perbedaan aspek-aspek kehidupan lainnya di bidang ekonomi, politik, sosial dan budaya. (http://bpbd.lampungprov.go.id/blog/contoh-teks-editorial/)

Ras adalah pengelompokan berdasarkan ciri-ciri biologis, bukan berdasarkan ciri-ciri sosiokultural. Contoh ras Negroid yang dimaksud bukanlah sifat kebudayaanya melainkan sifat ciri fisiknya. Ilmu yang mempelajari ras-ras manusia di dunia disebut  Somatologi.

  1. L Kroeber membuat klasifikasi ras di dunia menjadi lima yaitu:
  2. Suku Bangsa

Sebenarnya pemahaman suku dan bangsa berbeda, konsep bangsa lebih luas dibandingkan dengan suku. Suku bangsa adalah golongan manusia yang terikat oleh kesadaran akan kesatuan kebuadayaan, sedangkan kesadaran dan identitas tadi seringkali dikuatkan oleh kesatuan bahasa. Golongan sosial yang disebut bangsa memiliki ciri- ciri yang berkaitan dengan asal usul, tempat asal dan kebudayaan. Selain itu yang menjadi ciri-ciri mendasar suku bangsa ialah tipe fisik, bahasa yang digunakan, adat istiadat, kesenian dan kesadaran kolektif.

Suku bangsa menjadi dasar diferensiasi sosial, karena pembedaan antar suku bangsa secara mendasar, tidak menunjukan tingkat tinggi rendahnya. Sebagai contoh, suku Jawa dengan Suku Sunda merupakan dua suku yang berbeda, namun tidak dapat dibedakan suku mana yang lebih tinggi derajatnya. Ciri-ciri fisik yang dimiliki oleh setiap suku bangsa menjadi identitas masyarakat suku bangsa tersebut. Berdasarkan data, jumlah suku bangsa di Indonesia berjumlah 366 suku bangsa.

Menurut Van Vollenhoven, di Indonesia terdapat 19 lingkaran

hukum adat, yaitu: 19 Lingkaran hukum adat di Indonesia:

  1. Aceh                                                9.Gorontalo
  2. Gayo-Alas dan Batak                     10. Toraja

2a. Nias dan Batu                               11. Sulawesi Selatan

  1. Minangkabau                                  12. Ternate

3a. Mentawai                                      13. Ambon-Maluku

  1. Sumatera Selatan                            14. Papua (Irian)

4a. Enggano                                        15. Kepulauan Barat Daya

  1. Melayu                                            16. Timor
  2. Bangka dan Biliton                         17. Bali dan Lombok
  3. Kalimantan                                      18. Jawa Tengah dan Jawa Timur
  4. Sangir-Talaud                                  19. Surakarta dan Jogjakarta
  5. Bahasa

Kenapa setiap suku bangsa memiliki bahasa yang berbeda-beda? Salah satu dasar pembedaan diferensiasi sosial adalah bahasa. Seperti yang sudah dijelaskan bahwa bahasa termasuk kedalam ciri- ciri yang dimiliki oleh suku bangsa. Pembedaan suku bangsa dapat dilihat dari perbedaan bahasa yang dipakai oleh suku bangsa tersebut. Bahasa sebagai alat komunikasi antar sesama manusia memiliki ciri berbeda dan khas.

  1. Agama

Agama merupakan sistem keyakinan dan praktek keagamaan yang biasanya sudah dibakukan dan dirumuskan, dianut secara luas dan dipandang sebagai sesuatu yang benar. Agama termasuk kedalam perujudan diferensiasi sosial. Alasannya adalah keanekaragaman agama tidak menunjukan tingkatan tinggi rendah. Di dunia terdapat berbagai macam agama dan kepercayaan. Keberagaman agama di Indonesia dapat dilihat kebebasan memeluk dan menjalankan agama dilindungi oleh negara.

Agama yang secara resmi diakui oleh negara antara lain yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu dan Budha. Dalam perkembangan agama di dunia, agama sering dijadikan alasan terjadi konflik atau peperangan. Banyak peristiwa – peristiwa besar yang melibatkan agama sebagai sumber konflik. Dalam hal ini agama menjadi kekuatan sebagai pemersatu masyarakat dan sebagai kekuatan yang dinamis. Fungsi agama mencakup kurang lebih tiga jenis lingkup perhatian yaitu, pola keyakinan yang disebut doktrin, yang menentukan sifat hubungan antar manusia dengan sesamanya dan manusia dengan Tuhannya; ritual yang melambangkan doktrin yang mengingatkan manusia pada doktrin tersebut; dan  seperangkat norma tertentu yang konsisten dengan doktrin tersebut.

Para pemeluk agama sering menganggap agamanyalah yang paling benar. Setiap agama tidak hanya mempengaruhi masyarakat melalui etos budaya – nilai–nilai yang dominan yang dibangunnya. Dalam beberapa masyarakat yang sederhana agama dilembagakan, tetapi tidak diorganisasi. Dengan kata lain masyarakat memiliki lembaga agama— sistem kepercayaan dan praktek keyakinan yang dibakukan, diresmikan dan dipandang perlu dan penting oleh seluruh anggota masyarakatnya.

  1. Gender

Gender adalah perbedaan secara seks antara perempuan dan laki-laki. Secara biologis, perbedaannya yaitu karakteristik seks primer, seperti alat kelamin yang berbeda antara pria dan wanita dan karakteristik seks sekunder yang akan muncul seperti bentuk suara. Perbedaan ini bersifat kodrati, yaitu diciptakan oleh Tuhan yang Maha Esa untuk mengemban peranan yang berbeda pula. Perbedaan gender adalah cara berprilaku bagi pria dan wanita yang sudah ditentukan oleh kebudayaan dan kodratnya yang kemudian manjadi bagian dari kepribadian.

Peran gender yaitu pola-pola sikap dan tingkah laku yang dimasyarakat berdasarkan jenis kelamin, dibuat oleh masyarakat, dan diturunkan dari satu generasi ke generasi selanjutnya melalui agen-agen sosial, seperti keluarga, kelompok bermain dan media massa. Perbedaan jenis kelamin, sering diartikan sebagai perbedaan perlakuan masyarakat terhadap seseorang. Di setiap kebudayaan, lelaki dianggap lebih mulia. Lelaki diberi peran lebih besar dan menentukan. Misalnya, peran perempuan di masyarakat lebih kecil dibanding laki-laki. Contoh-contoh itu dapat diamati dalam kehidupan sehari-hari. Banyak bidang-bidang pekerjaan yang didominasi oleh laki-laki.

Akan tetapi, saat ini perempuan pun dapat memperoleh peran yang sejajar dengan laki-laki dalam struktur sosial di masyarakat. Sudah banyak perempuan yang memegang jabatan di pemerintahan, kepolisian, dan perusahaan.