Definisi Tasawuf, Tujuan dan Manfaatnya

Definisi Tasawuf, Tujuan dan Manfaatnya

Definisi Tasawuf, Tujuan dan Manfaatnya
Definisi Tasawuf, Tujuan dan Manfaatnya

Definisi Tasawuf

Pada definisi ini terdapat perbedaan pendapat diantaranya :

  • Sufi : orang yang memiliki interaksi dengan Allah
  • Suf : wol pakaian yang terbuat dari bulu domba
  • Suffah : sekelompok sahabat nabi yang hidup sederhana dan setiap sholat ia selalu perada pada barisan pertama.
  • Sufinah : sejenis kayu yg timbul di padang arab.

Menurut Bisyru bin Harits orang sufi adalah orang yang suci hatinya karena Allah. Adapun menurut istilah tasawuf adalah semacam ilmu syarat yg timbul kemudian di dalam agama, yang muncul karena ketekunan dalam beribadah dan memutuskan hubunngan kecuali dengan Allah SWT. Hidupnya hanya dihadapkan oleh Allah semata, menolak hiasan” dunia, serta membenci perkaran yang menipu orang banyak, kelezatan harta dan kemegahan hanya untuk taqorub,khalaf, dan beribadah kepada Allah.

Tujuan Tasawuf

  • Ma’rifat billah : melihat tuhan dengan hati secara jelas dan nyata dan segala kebesarannya dengan sebuah cahaya yang dipancarkan Tuhan kepada hambanya sehingga mampu melihat Allah dengan sebenar-benarnya
  • Insane Kamil : dimana seorang sudah mencapai maqam terdekat disisi Allah dan layak member petunjuk dan menyempurnakan bahwa hamba Allah yg ilmunya dari Allah SWT, dan pedoman moral dalam kehidupan.
  • Amar Ma’ruf Nahi Munkar : menjalankan kebaikan dan menjauhi kemunkaran, yaitu seseorang yang akan menjaga dirinya dari perbuatan” keji dan kemunkaran yang mereka akan selalu berbuat kebaikan

Manfaat Tasawuf

Sebagai sarana untuk mendidik hati dari mengetahui alam-alam ghaib menuju pembentuk sebuah jiwa yang dermawan, hati yang tenag dan budi pekerti yang baik dengan seluruh makhluk hidup.

Tasawuf juga bermanfaat dalam menyempurnakan dan memperindah bagi ilmu lain karena pada dasarnya antara ilmu yang satu dengan yang lain saling berhubungan dan bertujuan untuk menghadapkan diri kepada Allah dengan sarana selalu berdzikir kepadaNya.

Tasawuf disebut sebagai ungkapan النصوف وا لصو ف karena sufi dinisbat pada orang-orang ( ulama) yang selalu berada di shaf paling depan ketika sholat.

Tasawuf di sebut dengan ءصفا yaitu bersihnya hati dan jiwa maka perbuatan suci.

Sufi : orang yang memiliki interaksi yang suci dengan Allah sehingga member kesucian berupa karamah, dikatakan suci karena selalu berada pada shaf terdepan dalam hadapan Allah.

صف : karena memiliki kedekatan dengan sifat” ahlu suffah
Ahlu suffah : orang yang tidak mempunyai tempat tinggal dan mereka tinnggal di serambi masjid.

صوف : berarti wol. Dikarenakan memakai baju dari bulu domba, yang merupakan lawan kata pakaian dari sutra (halus)

Sejarah, latar belakangnya disebut sufi

Pada masa Rasulullah hingga khulafau Rasyidin tidak ada sebutan yang selain sebutan Sahabiy. Karena pada waktu itu belum ada disiplin ilmu tersendiri dan hanya Rasulullah yang menjadi sumber dari segala hal.
Hal ini muncul setelah islam berhasil menyebar luas kenegara-negara lain selain Arab. Dan setelah itu mulailah muncul ilmu-ilmu baru karena pada saat itu terjadi pertikaian apalagi setelah muncul konflik pada masa kekuasaan Ali bin Abi Thalib yang pada saat itu berseru dengan Muawiyah.

Pada masa Bani Umayyah pada waktu itu terjadi pembagian ulama. Ulama yang dekat dengan penguasa dan ulama yang dekat dengan masyarakat, ulama yang dekat dengan pengusaha maka ia akan mendapatkan fasilitas lengkap sedangkan ulama yang dekat dengan masyarakat mereka hidup dengan kesulitan sehingga mengakibatkan ejekan sinis kepada mereka.

Istilah sufi ini keluar karena ejekan terhadap mereka seorang ulama yang dekat dengan rakyat, kemudian mereka melakukan pembelaan dengan berkata bahwa “ saya bukan sufi, tetapi suffah yang jernih hati dan selalu ada dihadapan Allah pada barisan pertama.

Contoh ulama yang dekat dengan masyarakat pada waktu itu adalah Imam Ahmad bin Hambal ketika beliau ditanya “ apakah al-qur’an itu makhluk atau kalamullah ?” Ahmad bin Hambal pada waktu itu menjawab kalamullah, lalu beliau langsung dipenjara, karena pada saat itu pemimin mereka adalah seorang yang beraliran mu’tazilah.

Fenomena ini muncul pada abad ke 1 H akhir yang dipeloporioleh seorang sufi pertama Jabir bin Hayan. Beliu merupakan seorang sufi peratma yang pada saat itu ia ditanyai oleh seorang mujtahid yaitu sofyan at-Tsauri (murid zainal abidin) mengenai “ ا لا خلا ص فا ا لر يا ء? Lalu beliau mejawab “ mengambil segala segala sesuatu yang benar dan yang benar itu dari Allah dan berpaling dari manusia.

5. Relasi antara tasawuf dengan ilmu kalam dan falsafah

o Ketiganya berusaha menemukan apa yang disebut Kebenaran (al-haq).
o Kebenaran dalam Tasawuf berupa tersingkapnya (kasyaf) Kebenaran Sejati (Allah) melalui mata hati.
o Kebenaran dalam Ilmu Kalam berupa diketahuinya kebenaran ajaran agama melalui penalaran rasio lalu dirujukkan kepada nash (al-Qur’an & Hadis).
o Kebenaran dalam Filsafat berupa kebenaran spekulatif tentang segala yang ada (wujud).

Bersandar kepada pendapat Abbas Mahmud ‘Aqqad dalam al-Tafkir : Faridlah Islamiyah :

فالتعمق في طلب الأسرار صفة مشتركة بين الصوفية وفلاسفة التفكير الذين يغوصون على الحقائق البعيدة وعلماء النفس الذين ينقبون عن ودائع الوعي الباطن وغرائب السريرة الإنسانية

Maka ketiganya mendalami pencarian segala yang bersifat rahasia (gaib) yang dianggap sebagai ‘kebenaran terjauh’ dimana tidak semua orang dapat melakukannya.

Sumber: https://www.catatanmoeslimah.com/