Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Birokrasi

Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Birokrasi

Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Birokrasi

Keyakinan bahwa kelembagaan ini merupakan hal pertama yang harus diperbaharui dikarenakan kelembagaan ini apabila diperbaharui sekaligus ditunjang dengan sistem yang tepat maka pembaharuan prilaku SDM dari aparatur pegawai bisa dilakukan. Oleh karena itu strategi pertama yang harus memperoleh perhatian adalah kelembagaan aparatur birokrasi pemerintah ini. Kelembagaan terdiri dari kultur dan struktur.

Kultur merupakan perpaduan tata nilai, kepercayaan dan kebiasaan yang diyakini kebenaranya untuk diperjuangkan. Kultur inilah yang nantinya akan membentuk suatu boundary  yang membedakan suatu pemerintahan itu dengan pemerintahan lainnya.

Kendala dalam sektor ini khususnya adalah yang berkaitan dengan kultur  dan tradisi dalam masyarakat yang berpengaruh dalam kinerja birokrasi. Kinerja birokrasi juga sangat dipengaruhi oleh budaya dan sistem sosial yang hidup di tengah masyarakat diantaranya :

  1. Mentalitas Pegawai

Mentalitas pegawai pada umumnya kondusif dalam mendorong birokrasi bekerja optimal. Diantara beberapa sikap itu adalah :

  1. Sikap mental yang berorientasi membelanjakan daripada menghasilkan
  2. Sikap mental dilayani, bukan melayani
  3. Motivasi birokrat pada umumnya keliru (tidak memahami dan tidak sesuai dengan fitrah dasar tugas insitusi birokrasi)

Kesemua sikap mental itu menimbulkan dampak negative berupa ketidakprofesionalan aparatur birokrasi dalam bekerja, sehingga mereka tidak mampu (incapable) dalam menjalankan tugas secara baik.

  1. Mentalitas Masyarakat

Sikap mental masyarakat juga banyak yang tidak mendukung bahkan menghambat berfungsinya tugas birokrasi secara baik. Diantara sikap itu adalah :

  1. Sikap apatis (non partisipatif dan permisif)
  2. Mentalitas menerabas (hedonistic dan pragmatis)
  3. Rasa ketergantungan yang berlebihan terhadap birokrasi

Sikap mental masyarakat yang demikian menyebabkan semakin suburnya berbagai penyelewengan yang ada dalam tubuh institusi birokrasi.

Adapun struktur merupakan kerangka yang dipergunakan sebagai tata aliran proses bagaimana kultur itu bisa diterapkan dan diwujudkan dalam suatu pemerintahan itu.  Kultur dalam lembaga pemerintahan seringkali muncul dan dipakai adalah kultur yang menjamin kebiasaan asal bapak senang ABS, kultur yang membiasakan partisi[pasi rakyat yang menjamin kebiasaan demokrasi dan responsive. Inilah yang harus dipilih dalam strategi pembaharuan kelembagaan. Sebagaimana yang dikatakan oleh (Mifta, 2004) bahwa kita harus menumbuhkan kultur yang demokratis, responsive, partisipatif dan terbuka. Hal ini akan bisa melahirkan tata kepemerinthan yang baik.

baca juga :