Faktor Yang Mempengaruhi Struktur Lembaga 

Faktor Yang Mempengaruhi Struktur Lembaga

Faktor Yang Mempengaruhi Struktur Lembaga 

  1. Struktur Kelembagaan

Berbicara pada tataran struktur kelembagaan, maka sudah pasti kita tidak bisa lepas dari struktur birokrasi. Dalam konteks lembaga pemerintahan di Indonesia, sampai saat ini sebagian besar masih menggunakan struktur birokrasi weberian yang sifatnya masih sangat hierarkis, terkotak-kotak pada satuan yang kecil, sempit, gagal membangun interkoneksi yang efektif serta berorientasi pada control dan prosedur yang berlebihan.

Struktur lembaga (organisasi) yang demikian itu, sering kali gagal dalam merespon  dinamika sosial dan ekonomi yang terjadi  di dalam masyarakat secara wajar. Kegagalan lembaga publik untuk merespon dinamika lingkungan sosialnya secara wajar, kadang-kadang bahkan sering kali mendorong warga dan pemangku kepentingan kebutuhan pelayanan cepat mencari jalan dengan cara-cara yang kurang patut.

Menurut Agus Dwiyanto (2015: 167) bahwa salah-satu sumber kelemahan lembaga pemerintah yang paling menonjol dan mendorong terjadinya transaksi korupsi adalah struktur kelembagaan birokrasi yang salah karena sampai saat ini masih mempertahankan struktur lembaga yang kental dengan Weberian, yang sering menghalangi terjadinya interaksi mudah dan sederhana. Proses kerja dalam lembaga pemerintah menjadi sangat kompleks dan panjang.

Dengan proses kerja yang panjang dan kompleks itulah, maka para pejabat birokrasi dalam lembaga pemerintah terbuka peluang untuk menjual kekuasaan mereka dan menukarkannya dengan resources lainnya dari warga masyarakat dan pemangku kepentingan yang memiliki kebutuhan untuk menyuap. Dengan demikian, struktur kelembagaan yang buruk dapat membuka dan mempermudah terjadinya transaksi korupsi dengan mempertemukan antara aktor yang memilki kesanggupan membayar pungli dan aktor pemburu rente.

Maka menjadi sangat penting harus dikenali dan dipahami menurut Iwan Purwanto (2012: 234-237) struktur lembaga (organisasi) yang cocok dengan model birokrasi ala Indonesia untuk mencegah terjadinya penyimpangan-penyimpangan atau penyakit-penyakit birokrasi.

Dalam realitas yang ada, setidaknya ada lima jenis struktur lembaga (organisasi) yang bisa menjadi pilihan yaitu:

(1) Struktur lembaga/organisasi sederhana.

(2) Struktur lembaga/organisasi fungsional.

(3) Struktur lembaga/organisasi devisional.

(4) Struktur lembaga/organisasi SBU.

(5) Struktur Lembaga/organisasi matriks.

Dari pilihan-pilihan struktur lembaga (organisasi) yang ada itu, Agus Dwiyanto (2015: 168-169) mengatakan kalau struktur model matriks yang paling ideal menjadi pilihan dalam mengubah struktur kelembagaan pemerintah,  karena   dengan  model   struktur  matriks dapat mengendorkan adanya sekat-sekat birokrasi yang rigid dan kompleks. Pola hubungan yang selama ini hanya bersifat vertikal dapat diperkaya dengan pola hubungan yang bersifat horizontal.

Struktur lembaga (organisasi) matriks juga dapat menciptakan kebersamaan dan memperjelas komitmen pada misi kelembagaan (organisasi). Dalam lembaga (organisasi) matriks, orientasi anggota terhadap pencapaian misi lembaga (organisasi) dapat diperkuat melampaui komitmennya pada tugasnya sendiri. Struktur lembaga (organisasi) yang berbasis matriks dapat pula memperkuat interkoneksi di antara unit-unit yang terdapat di dalamnya.

Namun demikian dalam menentukan struktur lembaga (organisasi) tersebut, analisis strategis terhadap pilihan model lembaga (organisasi) tentukan harus dilakukan lebih dahulu dengan tetap memperhatikan faktor-faktor  yang dapat mempengaruhi struktur lembaga (organisasi) itu. Faktor-faktor yang dimaksud dalam perspektif Daryanto, dkk (2013: 50-51) adalah antara lain:

sumber :

Beli Mobil Bekas Tanpa Ke Dealer Ke Seva.Id Aja