FRASE

FRASE

FRASE

A. Batasan Frase

Frase adalah satuan gramatikal yang merupakan kesatuan linguistik dan tidak melebihi batas fungsi atau jabatan kalimat (S, P, O, Pel, dan K).
Sebuah kalimat Adik saya sedang belajar di kamar dibagi menjadi beberapa frase:
-Adik saya : menduduki fungsi subjek.
-Sedang belajar : menduduki fungsi predikat.
-Di kamar : menduduki fungsi keterangan.
Kalimat : Adik sedang menulis surat.
-Adik : menduduki fungsi subjek (bukan frase karena hanya terdiri satu kata).
-Sedang menulis : menduduki fungsi predikat (frase).
-Surat : menduduki fungsi objek (bukan frase).
-Menulis surat : melebihi batas fungsi (bukan frase).

B. Perluasan Frase dengan ‘yang’

Sebuah frase diperluas menjadi bentuk yang lebih panjang asalkan tetap dan tidak melebihi fungsi atau jabatan kalimat.
Contoh:
– adik saya : adik saya yang cantik.
– buku bahasa : buku bahasa Indonesia yang baru.
– rumah Tono : rumah yang dibeli Tono kemarin.

C. Inti Frase

Unsur inti frase adalah unsur utama atau pokok yaitu unsur yang diterangkan (D), sedangkan atribut pewatas adalah unsur yang menerangkan (M).
Contoh:
gedung sekolah sedang dipugar.
    D               M              M             D
D : inti frase.
M : atribut frase.

D. Frase Ambigu

Istilah “ambigu” artinya bermakna ganda/ lebih dari satu. Frase ambigu berarti frase yang bermakna ganda.
Contoh:
Kambing hitam, orang tua, meja hijau.
Frase di atas bermakna ganda. Kambing hitam dapat bermakna:
(1) kambing yang berwarna hitam.
(2) orang yang dipersalahkan.
Orang tua dapat bermakna:
(1) orang yang sudah tua.
(2) bapak dan ibu.
Meja hijau dapat bermakna:
(1) meja yang berwarna hijau.
(2) pengadilan.
Makna pada nomor (1) di atas bukan merupakan makna baru. Frase yang demikian dinamakan frase biasa. Makna pada nomor (2) merupakan makna baru. Frase yang demikian disebut frase idiomatik.
 

E. Macam-macam Frase

Terdapat dua jenis pembagian frase, yaitu:
1. Berdasarkan distribusi unsurnya, ada dua jenis, yaitu:
a. Frase Eksosentris
Frase Eksosentris adalah frase yang memeiliki distribusi (penyebaran) yang tidak sama dengan unsurnya. Dalam bahasa yang sederhana frase eksosentris adalah frase yang tidak memiliki inti frase. Frase ini memiliki ciri selalu diawali kata depan dan kata sambung.
Contoh: di halaman, pada ibunya, ke perpustakaan.
b. Frase Endosentris
Frase Endosentris adalah frase yang memiliki distribusi yang sama dengan unsurnya, baik semua unsurnya maupun salah satu unsurnya. Dalam kalimat yang sederhana, frase endosentris adalah frase yang memiliki inti frase. Ada beberapa macam frase endosentris, yaitu:
1) Frase Endosentris Koordinatif, ialah frase endosentris yang terdiri dari unsur-unsur yang setara. Resensi Di antara unsur-unsurnya itu dapat disisipkan kata dan, atau.
Contoh: suami istri, tiga empat (bulan), pembinaan dan pelaksanaan, belajar atau bekerja.
2) Frase Endosentris Atributif, ialah frase endosentris yang terdiri dari unsur-unsur yang tidak setara karena ada salah satu unsur inti dan bukan inti/ atribut.
Contoh:
halaman      luas
    inti        atribut
3) Frase Endosentris Apositif, ialah frase endosentris yang atributnya berupa aposisi atau keterangan tambahan.
Contoh:
Rudi, temanku sekelasku, menjadi juara satu dalam perlombaan itu.
             Frase apositif
Jadi, frase endosentris umumnya dapat diketahui berdasarkan kalimatnya.
2. Berdasarkan kategori atau jenis katanya, dengan menitikberatkan pada jenis kata yang menduduki unsur intinya, frase dibedakan:
a. frase nomina (kata benda), contoh: gedung sekolah, siswa SMA, keadilan sosial.
b. frase verbal (kata kerja), contoh: akan belajar, sedang belajar.
c. frase adjektiva (kata sifat), contoh: sangat besar, panjang sekali.
d. frase adverbial (kata keterangan), contoh: bulan depan, tadi pagi.
e. frase presposisional (kata depan), contoh: di rumah, ke sekolah, dari pasar.
f. frase numerial (kata bilangan), contoh: tiga anak, sederet kursi, semua orang.