Kisah Relawan Komunitas Dinding Mendidik Anak-Anak Pedagang Pasar Manado

Kisah Relawan Komunitas Dinding Mendidik Anak-Anak Pedagang Pasar Manado

Kisah Relawan Komunitas Dinding Mendidik Anak-Anak Pedagang Pasar Manado
Kisah Relawan Komunitas Dinding Mendidik Anak-Anak Pedagang Pasar ManadoKisah Relawan Komunitas Dinding Mendidik Anak-Anak Pedagang Pasar Manado

Setiap akhir pekan, sekelompok anak muda ini merelakan waktu mereka untuk mengajar anak-anak usia sekolah di Kompleks Pasar Bersehati Manado. Para relawan yang rata-rata masih mahasiswa ini tergabung dalam Komunitas Dinding. Mereka rela tidak dibayar untuk memberikan pendidikan kepada anak-anak itu.

Windy Fahruddin berhenti sejenak dari kesibukannya menata ruangan kecil di Kawasan Megamas Manado, Rabu, 1 Mei 2019 sore. “Kami akan menggelar gathering malam ini bersama anak-anak didik Komunitas Dinding,” ujar alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Univeritas Sam Ratulangi Manado ini.

Baca Juga

Anak Anggota TNI di Kendari Jadi Korban Penculikan oleh Mantan Rekan
Kisah Cium Tangan Jokowi Saat Bertemu Gus Dur
Adu Otot Tanpa Ngotot pada Peringatan Hari Buruh di Medan

Windy saat ini dipercayakan untuk memimpin Komunitas Dinding, sebuah perkumpulan relawan yang mengajar anak putus sekolah serta anak yang tak pernah mengecap pendidikan formal. “Gathering ini diisi juga dengan lomba mewarnai. Ada 15 anak yang kami ikutkan dalam kegiatan ini,” ujar Windy yang sekarang sudah bekerja di sektor swasta.

Rekrut Relawan melalui Medsos

Wanita cantik ini mengaku mengelola Komunitas Dinding yang berisi para relawan mempunyai dinamika tersendiri. Karena, ketika sudah menyelesaikan kuliah, ada kemungkinan relawan itu akan berhenti mengajar sebab pindah kota atau kesibukan lainnya.

Hal ini terkait dengan bagaimana kesinambungan proses pembelajaran bagi

anak-anak. “Karena para pengajar ini adalah relawan, maka kita sepakati agar kepengurusan Komunitas Dinding ini diganti setiap tahun. Supaya program bisa berjalan aktif,” ujarnya.

Dengan pola seperti itu, Komunitas Dinding tetap bertahan hingga hampir satu dekade. Sejak berdiri pada tahun 2010 silam, sudah begitu banyak relawan yang ikut meluangkan waktu mengajar di Komunitas Dinding.

Meski para pengajar itu tidak dibayar, tetapi banyak anak muda yang ternyata tertarik dengan kegiatan tersebut. “Cara merekrut relawan, ya informasi dari mulut ke mulut. Juga melalui media sosial khususnya Facebook dan Instagram. Ternyata cukup banyak yang berminat untuk menjadi pengajar,” ujar Windy.

Saat ini, relawan yang terdata berjumlah 15-20 orang. Sedangkan, yang datang

setiap akhir pekannya untuk mengajar ada 10 orang.

Windy mengatakan, agar proses belajar mengajar berjalan dengan lancar, maka sebelum materi dimulai akan didahului dengan memberikan pembekalan kepada para relawan. Hal itu dimaksudkan agar para pengajar mengetahui kondisi anak-anak peserta didik, dan juga terkait dengan materi yang akan diberikan.

“Hal ini mengingat para relawan ini bisa bergantian datang setiap minggu.

Sehingga kami kawal bagaimana metode pembelajaran dan materi ajar,” Windy menambahkan.

Dalam pertemuan setiap hari Sabtu itu, selain belajar ada juga waktu untuk bermain. Setelah itu, dilakukan evaluasi oleh pengurus Komunitas Dinding terkait kegiatan hari itu.

 

Sumber :

https://www.emailmeform.com/builder/form/8wHKntbcBONZPy7ou450zI9A