Kisah Umeir bin Sa’ad

Kisah Umeir bin Sa’ad

Kisah Umeir bin Sa'ad
Kisah Umeir bin Sa’ad

Umeir bin Sa’ad

Dengan Rambut yang kusut dan tubuh penuh debu, seorang laki – laki melangkah terseok-seok di jalanan kota madinah. ia nampak kelelahan karena suatu perjalanan jauh dan tenaganya terlihat habis terkuras.

diatas pundak kanan laki – laki itu terdapat buntil kulit dan sebuah piring, sedang dipundak kirinya berisi air. langkahnya yang gontai bertumpu pada sebuah tongkat.

laki-laki itu tiba-tiba memasuki

Dan laki-laki itu tiba-tiba memasuki gedung kekhalifahan dengan mengucapan salam.

“Assalamu’alaikum ya Amirul Mu’minin!”

Khalifah Umar membalas salamnya. Ketika dilihatnya siapa laki-laki yang datang dengan keletihan dan kepayahan itu, hati Khalifah menjadi trenyuh.

“Apa kabar hai Umeir?” kata Khalifah Umar.

“keadaaanku sebagaimana yang adan lihat sendiri. Bukankah anda melihat aku dalam keadaan sehat tak kurang suatu apapun?” jawab Umeir bin sa’ad.

“Apa yang kamu bawa itu?” tanya Khalifah Umar lagi.

“Yang kubawa ini buntil atau bungkusan tempat membawa bekal, piring tempat aku makan, kendi tempat aku minum dan wudhu, kemudian tongkat untuk menahan tubuhku atau guna melawan musuh jika datang menghadang. Demi ALLAH, dunia ini tak lain hanyalah pengikut bagi bekal kehidupanku..”

“Apakah kamu datang dengan berjalan kaki?”

“Benar” jawab Umeir bin Sa’ad

“Apa tak ada orang yang mau memberikan atau meminjamkan kepadamu hewan tunggangan sebagai kendaraanmu?” tanya Khalifah Umar.

“Mereka tak menawariku dan aku pun tak memintanya,” jawab Umeir bin sa’ad.

“Bagaimana tugas yang telah kuberikan kepadamu itu?” Tanya Khalifah lagi.

“Aku telah mendatangi suatu negeri yang anda perintahkan itu. orang-orang shalih di antara pendudukanya telah kukumpulkan. Kuangkat mereka mengurus pemungutan pajak dan kekayaan negera. Setelah terkumpul, kupergunakan kembali untuk keentingan yang semestinya. Dan kalau ada kelebihan, akan kukirimkan ke mari..”

“Lalu kau tak membawa apa-apa untuk kami?”

“Tidak.”

“Tetaplah kembali pada jabatanmu sebagai gubernur. wahai Umerir!” seru Khalifah Umar dengan tertawa dan bangga.

“Wahai Khalifah Umar, masa seperti itu sudah berlalu bagiku, aku tak ingin menjadi pegawai anda lagi, atau pegawai penjabat sesudah anda,” Jawab Umeir menolak perintah Khalifah Umar.

Umeir bin Sa’ad adalah seorang gubernur di Homs. Sebenarnya ia telah menolak jabatan tersebut, tetapi khalifah Umar bin Khatab Radhiyallahu ‘anhu terus mendesak dan memaksa Umeir, sehingga terpaksa ia harus menerimannya.

Alasan Khalifah Umar menunjuk Umeir sebagai gubernur Homs, karena dianggap bahwa dia yang pantas untuk jabatan itu. Memang Khalifah Umar selalu berhati-hati dalam memilih gubernurnya, seolah-olah ia memilih orang-orang yang sama mutunya dengan dirinya.

Khalifah selalu memilih dari orang-orang yang zuhud dan shalih, dan orang-orang yang dipercaya dan jujur, yang tidak mengejar pangkat atau kedudukan, bahkan tak ingin menerima jabatan tersebut kecuali karena Amirul Mu’minin memaksa untuk menjabatnya.

Sekali pun pandangannya tajam dan pengalamannya luas, namun dalam memilih gubernur-gubernur dan pembantu-pembantu uatamanya, Khalifah Umar selalu menimbangnya dalam waktu yang cukup lama dan mengamatinya dengan teliti.

Khalifah Umar selalu mengulang-ulang pesan atau fatwanya.

“Aku menginginkan seorang laki-laki yang bila berada dalam suatu kaum, padahal ia adalah rakyat biasa, tetapi menonjol seorang-oleh dialah pemimpinnya. Dan bila ia berada di antara mereka sebagai pemimpinnya, ia menampakan diri sebagai rakyat biasa.

Yang kuhendaki adalah seorang gubernur yang tidak membedakan dirinya dari manusia dalam soal pakaian, makan, dan tempat tinggal, Ditegakannya shalat di tengah-tengah mereka. Berbagi rata dengan mereka berdasarkan yang haq dan tak pernah menutup pintunya untuk menolak pengaduan mereka…”!.

Dan setelah Umeir bin Sa’ad terpaksa menerima jabatan gubnernur itu, ia memohon kepada ALLAH petunjuk dengan shalat istikharah, dan kemudian melaksanakan kewajibannya.

Umeir bin Sa’ad menggariskan tugas kewajiban seorang kepala pemerintahan islam dalam ucapannya selalu diutarakan ketika menggembleng kaum Muslimin.

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Islam mempunyai dinding teguh dan pintu yang kokoh. Dinding islam itu ialah keadilan, sedang pintunya adalah kebenaran. Maka apabila dinding itu telah dirobohkan, dan pintunya didobrak orang, islam pun akan dapat dikalahkan.

Islam akan senantiasa kuat

“Islam akan senantiasa kuat selama pemerintahannya kuat. Kekuatan pemerintahan tidak terletakan pada angkatan perang, atau keperkasaan prajuritnya. Tetapi dalam pelaksanaan pemerintahan, yang melaksanakan segala ketentuan dengan jujur dan benar disertai tegaknya keadilan.”

Setelah berjalan setahun masa jabatan Umeir di Homs itu tak ada hasil pungutan pajak yang sampai ke madinah, bahkan tak ada sepucuk surat pun yang datang kepada Khalifah Umar dari Umerir bin Sa’ad, hingga hari itu ia datang dan langsung menyerahkan jabatannya.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/bacaan-tawasul-ringkas-dan-lengkap-hadhorot/