Media sosial asal Surabaya “Koncoan” luncurkan messengger

Media sosial asal Surabaya Koncoan luncurkan messengger

Salah satu media sosial asal Kota Surabaya koncoan.com meluncurkan messenger atau aplikasi percakapan dan juga meluncurkan versi timeline android setelah sebelumnya menggunakan versi desktop.

CEO Koncoan.com, Muhammad Guntur Budiawan, di Surabaya, Kamis, mengatakan alasan diluncurkannya messengger karena banyak permintaan dari para pengguna media sosial yang menginginkan agar koncoan dapat diakses lebih cepat melalui aplikasi android.

“Koncoan lebih banyak mendengar feedback dari user (pengguna). Itu karena koncoan dibuat untuk para pengakses internet yang kesehariannya beraktivitas di sosial media,” katanya.

Menurut dia, koncoan baru meluncurkan perpesanan instan karena jumlah pesan

yang masuk di koncoan sangat tinggi yaitu nyaris menyentuh 7.000 per hari. Sistem perpesanan sendiri, lanjut dia, end to end artinya hanya penerima pesan dan pengirim yang tau pesannya.

“Kami tahu, data Kemkominfo bahwa setidaknya 65 persen informasi hoaks itu bersumber dari media sosial asing dan ada 7.000 kasus kejahatan seks anak (Paedofil) ada di sana,” katanya.

Mendapati hal itu, kata dia, koncoan membuat sebuah keamanan pengguna agar hal-hal semacam itu tidak terjadi pada situs sosial lokal. Dengan kehadiran messenger ini tentu kita harapkan koncoan tetap menjaga sisi keamanan dan kenyamanan.

Pria yang pernah mengenyam pendidikan di Universitas Pembangunan Nasional

(UPN) Veteran Jatim ini mengaku tengah mempersiapkan kematangan dalam sistem maupun konten yang positif. Ini dilakukan agar user dalam beraktivitas di sosial media lebih aman dan sesuai norma-norma yang berlaku di Indonesia.

“Koncoan beda dengan media sosial asing (facebook), maka tujuan kami yaitu bagaimana agar sekitar 80 juta pengakses sosial media asing bisa beralih ke koncoan.com dan beraktivitas di sana agar semua dapat tetap terpantau di Indonesia, bukan di luar negeri,” ujarnya.

Saat ini, kata dia,koncoan.com memang mengalami banyak kendala

, hal yang paling prinsip yaitu masalah pendanaan. Sebab, mengelola sosial media dengan jumlah pengguna besar itu butuh pendanaan besar.

 

sumber :

https://mhs.blog.ui.ac.id/abd.jalil/seva-mobil-bekas/