Pemerintah larang operator yang menunggak untuk tambah pelanggan

Pemerintah larang operator yang menunggak untuk tambah pelanggan

Kementerian Komunikasi dan Informatika melarang operator yang masih menunggak Biaya Hak Penggunaan (BHP) frekuensi 2,3 GHz untuk menambah pelanggan.

“PPI (Ditjen Pos dan Penyelenggara Informatika) sudah memanggil, sudah

diminta untuk tidak menambah pelanggan,” kata Rudiantara saat ditemui di acara TELSOM TELMIN 2018 di Ubud, Bali, Kamis (6/12).

PT First Media (KBLV), PT Internux (Bolt) dan PT Jasnita menunggak BHP frekuensi 2,3GHz yang jatuh tempo pada November lalu. Jumlah tunggakan biaya pokok dan denda First Media dan Bolt masing-masing sekitar Rp364 miliar dan Rp343 miliar.

Sementara itu Jasnita menunggak BHP frekuensi 2,3GHz sebesar Rp2,197 miliar. Jasnita menyatakan akan melunasi kewajiban mereka dan mengembalikan surat izin penggunaan frekuensi 2,3GHz karena tidak lagi menggunakan frekuensi tersebut sejak beberapa waktu belakangan.

Jasnita sudah tidak melanjutkan layanan Broadband Wireless Access (BWA)

sejak ada rencana konsolidasi dari Kominfo, dengan pertimbangan bisnis tersebut tidak bisa berkompetisi dengan operator nasional.

First Media dan Bolt, keduanya merupakan anak perusahaan Grup Lippo, berjanji akan melunasi tunggakan tersebut dengan cara mencicil.

Meski pun First Media dan Bolt akan mencicil tunggakan mereka, pemerintah

menilai pelanggan mereka perlu mendapatkan kepastian pelayanan ketika operator seluler sedang tersangkut masalah.

Salah satunya, operator diminta untuk membuatkan kebijakan bagi pelanggan yang masih memiliki pulsa atau kuota internet.

 

sumber :

https://www.kakakpintar.id/seva-mobil-bekas/