Pendapat 4 Madzhab Sunni Tentang Perkawinan Lintas Agama

Pendapat 4 Madzhab Sunni Tentang Perkawinan Lintas Agama

Pendapat 4 Madzhab Sunni Tentang Perkawinan Lintas Agama
Pendapat 4 Madzhab Sunni Tentang Perkawinan Lintas Agama

MADZHAB HANAFI

Para ulama Hanafi mengharamkan seorang laki-laki mukmin mengawini perempuan ahli kitab yang berdomosili diwilayah yang sedang berperang dengan islam. Karena mereka tidak tunduk terhadap hukum orang-orang Islam sehingga bisa membuka fitnah. Seorang suami muslim yang menikah dengan perempuan ahli kitab dikhawatirkan akan patuh terhadap sikap istrinya. Sedangkan mengawini ahli kitab Dzimmi (yang berada di negara dan perlindungan pemerintahan Islam) hukumnya makruh, sebab mereka tunduk pada hukum Islam.

MADZHAB MALIKI

Pendapat madzhab maliki ada 2:

Ø Mengawini perempuan ahli kitab baik di dar al-harb maupun dzimmiyah hukumnya makruh mutlak. Hanya saja kemakruhan yang di dar al-harb kualitasnya lebih berat.

Ø Memandang tidak makruh mutlak sebab dzohir/membolehkan secara mutlak. Tetapi tetap saja makruh karena digantungkan kemakruhannya berkait dengan dar al-Islam, sebab perempuan ahli kitab tetap boleh minum khomr, memakan babi dan sebagainya.

MADZHAB SYAFI’I

Para fuqaha madzhab syafi’i memandang makruh mengawini perempuan ahli kitab yang berdomisili di dar al-Islam, dan bahkan sangat mengharamkan (tasydid al-karohah).[2] Ulama syafi’iyah memandang kemakruhan tersebut apabila terjadi dalam peristiwa berikut:
Ø Calon suami tidak ada niat untuk mengajak calon istri untuk masuk Islam.
Ø Masih ada perempuan muslimah yang sholihah
Ø Apabila tidak mengawini perempuan ahli kitab ia akan terperosok kedalam perbuatan zina.

MADZHAB HANBALI

a) Laki-laki muslim diperbolehkan mengawini perempuan ahli kitab.
Bahkan tidak dimakruhkan sama sekali, hal ini di dasrakan pada surat al-Maidah ayat 5. Dengan syarat perempuan ahli kitab itu merdeka (tidak budak), karena lafadz al-muhshonat yang dimaksudakan adalah perempuan merdeka
b) Perempuan muslim dengan laki-laki nonmuslim.

Semua ulama bersepakat bahwa perempuan muslimah tidak diperbolehkan (haram) kawin dengan laki-laki non muslim, baik ahli kitab maupun musyrik. Pengharaman tersebut selain didasarkan pada surat al-Baqarah : 221 juga didasarkan pada surat al Mumtahanah: 10.

Artinya: Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun Dia menarik hatimu. dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun Dia menarik hatimu. mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.(QS.Albaqarah:221), yang Artinya: Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, Maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka;maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman Maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka. dan berikanlah kepada (suami suami) mereka, mahar yang telah mereka bayar. dan tiada dosa atasmu mengawini mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya. dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir; dan hendaklah kamu minta mahar yang telah kamu bayar; dan hendaklah mereka meminta mahar yang telah mereka bayar. Demikianlah hukum Allah yang ditetapkanNya di antara kamu. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.(QS. Mumtahanah:10)

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/khutbah-hari-raya-idul-fitri-menjaga-hati-tiga-pesan-ramadhan/