Pengukuran Kerja

Operasi setiap peusahaan disebut efesien atau tidak biasanya didasarkan atas lama waktu untuk membuat suatu produk atau melaksanakan suatu pelayanan (jasa). Pernyataan khusus tentang jumlah waktu yang harus digunakan untuk melakasanakan kegiatan tertentu dibawah kondisi kerja normal ini sering disebut standart tenaga kerja (labor standart). Standart-standart yang telah ditentukan dan “reasonable” mempunyai sebagai kegunaan, termasuk pemuasan kebutuhan karyawan, penyediaan ukuran prestasi bagi organisasi, dan mempermudah operasi-operasi organisasi (misal, dalam scheduling produksi). Tanpa adanya pertunjuk waktu standart, akan mengakibatkan :[6]

  1. Biaya-biaya tidak dapat diperkirakan, dan oleh karena itu, harga-harga tidak dapat ditetapkan.
  2. Anggaran-anggaran tidak dapat dibuat.
  3. Evaluasi prestasi atau pelaksanaan suatu kegiatan tidak akan mungkin dilakukan karena tidak akan ada basis pembandingannya.
  4. Rencana-rencana insentif dan program balas jasa menjadi tidak dapat diperkirakan.

Ada lima metode penentuan waktu kegiatan yang dapat di gunakan sebagai dasar penetapan standart-standart :

  1. Pendekatan historikal
  2. Studi waktu (time study)
  3. Data standar (standard data)
  4. Data waktu standart yang ditetapkan sebelumnya (predetermined time-standard data).
  5. Pengambilan sampel kerja (work sampling)

Masing-masing metode ini mempunyai berbagai kelebihan dibanding lain dan mempunyai bidang-bidang aplikasi tersendiri. Ltabel 7-9 menunjukan nhubungan metoda-metoda tersebut dengan tipe-tipe pekerjaan. Dalam hal ini penggunanaan pendekatan pertama (historikal) untuk mengestimasi pelaksanaan kegiatan di waktu yang akan datang pada umumnya merupakan praktek yang jelek karena hanya berdasarkan data-data historik yang sering subyektif, tidak konsisten, dan tidak  memperhatikan  “rating factors” dan penundaan-penundaan (mudah bias). Atas dasar alasan ini, perusahaan sebaiknya menggunakana metode-metode pengukuran yang lebih formal, dan berdasarkan data-data yang lebih terorganisasi. Berikut ini akan di bahas empat metode pengukuran kerja secara formal.

Pengukuran kerja dapat digunakan untuk berbagai maksud yang berbeda. Oleh karena itu, teknik-treknik dan standar-standar yang digunakan hendaknya sesuai dengan maksud pengukuran kerja. Ini merupakan tanggung jawab para manajer operasi untuk merumuskan tujuan dan menetapkan penggunaan teknik-teknik pengukuran kerja yang tepat.[7]

Secara lebih terperinci teknik-teknik kpengukuran kerja dapat digunakan, untuk maksud-maksud sebgai pberikut:

  1. Mengevaluasi pelaksanaan kerja karyawan. Ini dilakukan melalui pembandingan keluarga nyata selam periode waktu tertentu dengan keluaran standar yang dikeluarkan dari pengukuran kerja.
  2. Merencanakan kebutuhan tenaga kerja. Untuk setiap tingkat keluaran tertentu di waktu yang akan datang, pengukuran kerja dapat digunakan untuk menentukan berapa banyak masukan tenaga kerja diperlukan.
  3. Menetukan tingkat kapasitas. Untuk suatu tingkatan tertentu tenaga kerja dan peralatan yang tersedia, standar-standar pengukuran kerja dapat dapat di gunakan untuk menetukan ltingkat kapasitas yang harus tersedia.
  4. Menentukan tingkat harga atau biaya suatu produk. Berbagai standar tenaga kerja, yang dihadapkan melalui pengukuran kerja, adalah salah satu unsur sistem penentuan harga dan biaya. Dalam banyak organisasi, keberhasilan penetapan harga produk adalah krusial bagi berlangsung bisnisnya. Kegiatan ini sangat tergantung pada pengukuran kerja bila biaya merupakan basis untuk penetapan harga.
  5. Memperbandingkan metode-metode kerja. Bila berbagai metoda yang berbada untuk suatu pekerjaan sedang dipertimbangkan, pengukuran kerja apat memberikan dasar pembandingan  ekonomikn metoda-metoda. Ini merupakan esensi manajemen ilmiah- menemukan metode terbaik atas adasar studi waktu dan gerak yang diteliti.
  6. Memudahkan scheduling operasi-operasi. Salah satu masukan data untuk semua sistem scheduling adalah estimasi waktu kegiatan-kegiatan kerja. Estimasi-estimasi ini diperoleh dari pengukuran kerja.
  7. Menetapkan upah insetif. Dengan upah intensif, para karyawan menerima pembayaran lebih untuk keluaran yang lebih besar. Standar waktu melatar belakangi rencana-rencana insentif ini dengan menentukan keluaran 100 persen.

Karena ada banyak penggunaan pengukuran kerja yang berbeda, manajemen harus memutuskan mana yang akan dipilih. Bila pengukuran kerja digunakan untuk insentif, sebagai contoh, salah satu metode yang lebih akurat, seperti studi waktu dengan stopwatch, harus digunakan dan standar-standar harus selalu diperbaruhi. Bila pengukuran kerja digunakan untuk estimasi kapasitas atau perencanaan kebutuhan tenaga kerja, estimasi waktu setiap individu tidak perlu terlalu akurat dan metode-metode pengukuran kerja lainnya dapat digunakan.[8]

 

sumber :
https://bengkelharga.com/seva-mobil-bekas/