Peran Guru di Sekolah dalam Pendidikan Karakter

            Guru adalah profesi yang mulia, mendidik dan mengajarkan pengalaman baru bagi anak didiknya. Apa yang membuat guru dikatakan hebat? Kualitas apa yang diharapkan pada diri seorang guru? Berikut adalah beberapa tips bagaimana menjadi guru berkarakter yang hebat.[6]

  1. Mencintai anak. Cinta yang tulus kepada anak adalah modal awal mendidik anak. Guru menerima anak didiknya apa adanya, mencintainya tanpa syarat dan mendorong anak untuk melakukan yang terbaik pada dirinya. Penampilan yang penuh cinta adalah dengan senyum, sering tampak bahagia dan menyenangkan dan pandangan hidupnya positif.
  2. Bersahabat dengan anak dan menjadi teladan bagi anak. Guru harus bisa diguru dan ditirunoleh anak. Oleh karena itu, setiap apa yang diucapkan dihadapan anak harus benar dari sisi apa saja. Keilmuan moral, agama dan budaya. Cara penyampaianya pun harus “menyenangkan” dan beadab. Ia harus bersahabat dengan anak-anak tanpa ada rasa kikuk. Anak senangtiasa mengamati perilaku gurunya dalam setiap kesempatan.
  3. Mencintai pekerjaan guru. Guru yang mencintai pekerjaannya akan senagtiasa bersemangat. Setiap tahun ajaran baru adalah dimulainya satu kebahagiaan dan satu tantangan baru. Guru yang hebat tidak akan merasa terbebani dan bosan.
  4. Luwes dan mudah beradaptasi dengan perubahan. Guru harus terbuka dengan tekhnik mengajar baru, membuang rasa sombong dan selalu mencari ilmu. Ketika masuk kelas, guru harus dengan pikiran terbuka dan tidak ragu mengevaluasi gaya mengajarnya sendiri, dan siap berubah jika diperlukan
  5. Tidak pernah berhenti belajar. Dalam rangka meningkatkan profesionalitasnya, guru harus selalu belajar dan belajar.

Gambar: Ciri Guru Berkarakter

            Apabila ciri-ciri tersebut dimiliki oleh guru alih alih disbut sebagai guru berkarakter, tentu keresahan di dunia pendidikan tidak akan terjadi. Keresahan yang paling menonjol akhir-akhir ini adalah kekerasan terhadap siswa. Sekedar contoh, yang masih diingatan kita adalah kasus seorang guru yang menendang siswanya hingga geger otak, kasus seorang guru yang memukuli satu persatu siswanya yang terlambat masuk kelas. Mengapa demikian? Beban tugas guru yang berat, kesejahteraan yang belum baik, dan rendahnya”kecerdasan” emosional merupakan salahsatu sebab mengapa guru bisa berbuat khilaf dengan jalan menebarkan aroma kekerasan didalam kelas.

            Menurut Carl Witherington, ada empat hal yang harus diketahui guru untuk mengetahui emosi siswanya, yaitu

1)      Aspek emosi yang terlihat oleh mata seperti gemetar, takut sehingga matanya terbelalak, menggeretakkan gigi unruk mengepresiasikan rasa marah dan sebagainya.

2)      Emosi yang ditunjukkan oleh sikap kurang senang, senang, benci.

3)      Ungkapan-ungkapan atau umpatan dari siswa, dan

4)      Kecenderungan emosi yang bersifat kualitatif, misalnya dirangsang oleh individu lain hingga timbul rasa senang, benci, jijik, malu, marah dan sebagainya

sumber :
http://linux.blog.gunadarma.ac.id/2020/06/06/7-jenis-kinemaster-pro/