Sejarah Berdirinya Kerajaan Usmani

Sejarah Berdirinya Kerajaan Usmani

Sejarah Berdirinya Kerajaan Usmani

Nama kerajaan Usmaniyah itu diambil dari

dan dibangsakan kepada nenek moyang mereka yang pertama, Sultan Usmani ibn Sauji ibn Arthogol ibn Sulaiman Syah ibn Kia Alp, kepada kabilah Kab di Asia Tengah.

Tatkala bangsa Tartar menyeru ke Dunia Islam, menakluk, membakar, membunuh dan merampas, maka Sulaiman Syah, Datuk dari Sultan Usman, melihat bahaya itu bagi negerinya di Mahan. Bermupakatlah ia dengan anggota persukuannya yang besar itu, supaya lekas pindah ke negeri lain yang lebih aman, yaitu tanah Anatolia di Asia kecil. Kehendaknya itu dituruti oleh anak buahnya. Merekapudn berangkatlah menuju Anatolia di Asia kecil. Meninggalkan kampung halamannya yang kelak akan menjadi padang terkukur saja, bila tantara Tartar masuk dan tidak akan dapat mereka pertahankan. Adapun banyak anak buahnya yang mengikuti dia itu adalah 1000 orang berkuda. Kejadian ini adalah dijaman abad ketujuh hijrah, abad ketiga belas Masehi.

Beberapa lamanya mereka berhenti di negeri Akhlat. Tetapi tidak lama kemudian, tantara Tartarpun telah dekat pula sampai ke negeri itu, sehingga dengan segera mereka pindah pula ke negeri Azerbijan. Kemudian terdengarlah berita, bahwa gelombang bangsa Tartar itu telah jauh dari negeri meraka Mahan, dan negeri yang telah kosong itu tidak jadi mereka masuki. Maka terniatlah di hati Sulaiman Syah hendak pulang dan membangunkannya kembali. Dalam perjalanan itu seketika lamanya mereka berhenti di benteng Ja’bar dalam wilayah Orga. Setelah itu mereka seberangilah sungai Ephart. Tiba-tiba sedang menyeberang itu, air menjadi besar, sehingga Sulaiman Syah, kepala kabilah itu tenggelam dalam sungai yang besar itu dan tidak dapat ditolong. Jenajahnya dikebumikan di dekat benteng Ja’bar itu.

Beliau meninggalkan empat orang putra; Sankurtakin, kuntogdai, Arthogrol dan Dandan. Dan anak yang pertama melanjutkan maksud ayahnya, pulaang kembali ke kampung, dan anak yang berdua lagi, yaitu Arthogrol dan Dandan meneruskan niat ayahnya yang kedua, yaitu melanjutkan perjalanan ke daerah Anatolia, mencari daerah yang subur. Mereka memiliki tanah Erzerum. Arthogrol diangkatlah oleh pasukannya menjadi kepala kabilah.

Adapun yang pulang ke negerinya itu tidaklah terdengar kabar beritanya lagi dalam sejarah. Setelah kedua saudara yang kecil sampai ke daerah Anatolia, maka Arthogrol mengutus putranya Sauji menghadap Sultan ‘Alaed-Din Kaikubaz, Sultan Saljuk Rumi, memohon supaya sudi memberikan izin berdiam di dalam wilayah kekuasaannya, dan mohon untuk diberi tanah untuk bercocok tanam dab mengembalakan binatang ternak mereka. Permohonan itu diperkenankan oleh Sultan ‘Ala ed-Din. Dan dalam perjalanan pulang hendak menyampaikan berita ini kepada ayahnya, meninggallah Sauji. Setelah selesai mereka menguburkan jenajah Sauji dalam keadaan girang mendapat tanah dan sedih karena kematian., merekapun meneruskan perjalanan menuju tanah yang telah dihadiahkan itu. Tiba-tiba di tengah perjalanan mereka melihat dua angkatan tantara tengah bertempur hebat. Yang satu pihak besar jumlahnya sedang pihak lawannya bilangannya kecil.

Maka timbullah semangat keadilan pada pihak arthogrol, sehingga dengan segera ia menyerukan anak buahnya suapaya segera menyerbu ke medan perang itu dan berdiri di pihak yang lemah. Dan semangat mereka bertambah bergelora, demi mereka ketahui, bahwa pihak yang lemah itu adalah tantara Mongol, musuh besar mereka, dan pihak yang lemah itu adalah tantara Sultan ‘Ala ed-Din Saljuk yang mempertahankan negerinya dari serangan bangsa Mongol. Dan yang telah memberikan hadiah tanah terhadap mereka. Maka oleh karena bantuan yang tiba-tiba itu, keadaanpun berbaikalah. Serangan Mongol dapat ditangkis, dan akhirnya kedudukan tantara Saljuk bertukar dari bertahan kepada menyerang. Dengan segera tantara Mongol mengundurkan diri.

Sangat gembira Sultan Alaed- Din mendengar berita kemenangan itu. Diundangnyalah Arthogrol dan diterimanya dengan serba kehormatan, diberinya pakaian persalinan dan diberinya pula tanah dan wilayah kekusaan, lebih luas daripada apa yang telah dijanjikan kepada putranya Sauji. Dan apabila terjadi peperangan dengan pihak musuh, senantiasalah Arthogrol membawa anak buahnya memberikan bantuan kepada Sultan Alaed-Din dengan penuh kesetiaan. Dan setiap mencapai kemenangan,Sultan memberinya hadiah juga wilayah tanah yang baru, di tambah dengan harta benda yang banyak. Kemudian itu tantara Artthogrol diberi gelar oleh sultan “Muqaddamah Sultan”, (tantara pelopor baginda), karena bila berperang, tantara Arthogrol juga yang dibarisan muka.

Pada tahun 687 H, 1288 M, mangkatlah Arthogrol. Untuk gantinya Sultan Alaed-Din menunjuk cucunya yang sulung, Usman, putera Sauji.

Usman terus setia berkhidmat, sebagai kepala perang tantara Sultan Alaed-Din Kaikubaz, dan tetaplah tantara asuhannya menjadi tantara “pelopor sultan”.

Pada tahun 699 H, 1300 M, tiba-tiba dating sekali lagi serangan hebat bangsa Tartar ke Asia kecil. Dengan gagah perkasa usman mempertahankan wilayahnya dan wilayah Sultan Alaed-Din yang telah berjasa menaikkan bintangnya, sehingga serangan bangsa Tartar dapat digagalkan. Tetapi belum selang beberapa lama sehabis perang, tiba-tiba mangkatlah Sultan Alaed-Din, dan keturunannya sendiri tidaklah ada yang pantas menjadi menjadi raja (700 H). Sehingga putuslah kerajaan Saljuk Rumi dengan sebab kematian itu. Maka terbukalah jalan bagi Usman untuk naik lebih tinggi. Diperteguhnya kedudukannya dan diperkuatnya pertahanan tanah-tanah wilayah yang sah itu, ditambah lagi dengan pusaka Sultan Alaed-Din, dan dimulainyalah memakai gelar “ padisyah Aal Usman” (Raja Besar Keluarga Usman). Dipilihnya negeri iskisyihar menjadi pusat kerajaan. Tentara diperkuat, negeri dimajukan dan pertahanan dikokohkan.

Setelah menduduki kerajaan besar, kemudian ia mengirimi surat kepada raja-raja kecil yang belum islam, yang memerintah di negeri-negeri Asia kecil, memberitahu bahwa dialah raja yang terbesar sekarang. Raja-raja itu memilih satu diantara tiga perkara: pertama Islam, kedua mebayar jaziyah, ketiga perang!

Setelah menerima surat itu, setengah langsung masuk islam dan menggabungkan diri dengan baginda, dan sebagiannya lagi sudi membayar jaziyah. Akan tetapi ada pula yang bertahan pada agamanya yang lama, dengan jalan meminta bantuan kepada bangsa Tartar. Tetapi Sultan Usman tidak merasa gentar perbantuan tantara Tartar itu, sebaliknya tantara untuk menghadapi serangan itu dibawah pimpinan putranya Ourkhan. Ourkhan berperang melawan bangsa Tartar dengan gagah berani, sehingga bangsa Tartar kocar-kacir. Setelah itu ia kembali mengepung kota Bursa pada 717 H, 1317 M, dan dapat dimasukinya kota itu setelah menaklukkan satu demi satu benteng yang ada di sekelilingnya.

Dari Usman inilah sebagaimana yang kita terangkan terdahulu diambil dari nama keturunan kerajaan Bani Usman itu.


Sumber: https://ntclibya.com/evolve-apk/