Syed Muhammad Naquib Al-Attas

       Beberapa hal yang melatar belakangi perlu dilakukannya Islamisasi ilmu pengetahuan  oleh  Syed M. Naquib Al-Attas adalah :

1)  Pandangan dunia Barat yang bersifat dualistic akibat dari kenyataan bahwa peradaban Barat tumbuh dari peleburan historis dari berbagai kebudayaan dan nilai-nilai, yaitu peleburan dari peradaban, nilai, filsafat  dan aspirasi Yunani,  Romawi kuno dan perpaduannya dengan ajaran-ajaran Yahudi dan Kristen yang kemudian dikembangkan lebih jauh oleh rakyat Latin, Jermania, Keltik dan Nordik. Paduan dari unsur-unsur yang berbeda tersebut, pada saatnya juga dimasuki oleh semangat rasional  dan ilmiah Islam. Namun  pengetahuan dan semangat rasional serta  ilmiah ini,  ketika di Barat, telah dibentuk dan dipolakan kembali untuk disesuaikan dengan pola kebudayaan Barat. [3]

 2)Pengetahuan modern yang diproduk Barat  tidak bersifat netral, tetapi telah dituangi dan dicemari oleh watak dan peradaban barat yang dualistis; suatu watak dan peradaban yang tidak Islami, karena Islam tidak mengenal dualism dalam sesuatu. [4]

       3)Epistemologi skeptisisme yang diagungkan Barat, sesungguhnya tidak bisa mengantarkan kepada kebenaran, dan kenyataannya tidak ada bukti bahwa keraguan bisa mengantarkan kepada kebenaran, sebaliknya ia justru menyebabkan kebenaran tertutup dalam perdebatan dan percekcokan tanpa akhir. Menurut Naquib, kebenaran hanya bisa dicapai lewat Hidayah (petunjuk Ilahi), bukan keraguan.  Keraguan adalah pergerakan antara dua hal  yang saling bertentangan  tanpa ada kecenderungan pada salah satunya. [5]

     4) Islamisasi ilmu sebagai upaya untuk mengenali, memisahkan dan mengasingkan unsur-unsur peradaban barat yang dualistic, sekularistik, dan evolusioneristik yang pada dasarnya bersifat relativistic dan nihilistic, dari tubuh pengetahuan sehingga pengetahuan bersih dari unsur-unsur tersebut. [6]

sumber :

https://situsiphone.com/seva-mobil-bekas/