Tarik Minat Mahasiswa, Politeknik Harus Kolaborasi dengan PT Asing

Tarik Minat Mahasiswa, Politeknik Harus Kolaborasi dengan PT Asing

Tarik Minat Mahasiswa, Politeknik Harus Kolaborasi dengan PT Asing
Tarik Minat Mahasiswa, Politeknik Harus Kolaborasi dengan PT Asing

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohammad Nasir meminta para Direktur Politeknik seluruh Indonesia, agar bisa bekerja sama dengan Perguruan Tinggi (PT) di luar negeri. Hal itu untuk mempersiapkan anak didik agar bisa masuk kampus luar negeri sekaligus terjun ke industri.

Nasir juga menyebutkan bahwa pihaknya telah mendapatkan tawaran yang sangat baik bagi para mahasiswa politeknik. Tawaran tersebut datang dari Taiwan yang menawarkan beasiswa dengan kuota hampir 6000 mahasiswa.

“Para Direktur saya minta untuk berkolaborasi dengan perguruan tinggi di Taiwan dan anak didiknya agar disiapkan untuk masuk ke Taiwan baik di perguruan tinggi maupun industri disana,” ujarnya saat memberi arahan pada Rapat Koordinasi Forum Direktur Politeknik Se-Indonesia (FDPNI) di Kota Batu, Senin (12/3) malam.

Selain itu, Nasir juga mengajak agak Politeknik berbenah diri. Hal itu untuk semakin minat para calon mahasiswa. “Cara pandang masyarakat terhadap politeknik kedepan harus berubah. Selama ini politeknik seolah seperti perguruan tinggi kelas dua. Padahal, lulusan politeknik saat ini sangat kompeten dan dibutuhkan pasar kerja,” ujar Nasir.

Nasir mengatakan, kebutuhan dunia industri yang menuntut kompetensi lulusan politeknik harus di match dengan learning outcome yang ada di politeknik.

Beberapa cara yang ditempuh pemerintah bersama dengan politeknik

diantaranya yakni dengan merancang program Multi Entry Multi Outcome (MEMO) bagi mahasiswa politeknik. “Nantinya, mahasiswa dapat memilih berbagai altetnatif perkuliahan yang memungkinkan mereka untuk langsung bekerja di industri dengan tetap dapat kembali lagi ke kampus (kuliah),” kata dia.

MEMO diharapkan dapat mempercepat kebutuhan industri dan memutus mata rantai kemiskinan. Jadi lulusan politeknik akan selalu siap kerja bukan siap training.

“Tahun pertama misalnya, (mahasiswa) dapat sertifikat KKNI (Kerangka

Kualifikasi Nasional Indonesia) level 3, terus mau bekerja, kembali lagi dia (ke kampus) itu bisa melanjutkan ke tahun kedua. Tidak ada DO (drop out), istilahnya zero DO,” jelas Nasir.

Ketua FDPNI, Rahmat Imbang menambahkan, kajian skema MEMO ini masih membutuhkan beberapa penyesuaian dan penyelerasan peraturan. Diantaranya penyesuaian kurikulum, instrumen penilaian BAN PT, pangkalan data pendidikan tinggi (untuk menjamin keabsahan ijazah), dan sebagainya.

Terkait penilaian akreditas, Nasir menyebutkan banyak politeknik yang

sebenarnya berkualitas namun belum mendapat akreditasi yang baik.

“Instrumen yang digunakan BAN PT adalah instrumen pada akademik. Sementara politeknik aspek akademiknya hanya 30 persen, 70 persennya adalah praktek. Ini gak nyambung. Jadi harus ada instrumen khusus untuk penilaian politeknik,” imbuhnya.

 

Sumber :

https://nashatakram.net/kalimat/