Teknik analisis kondisi ekosistem Terumbu Karang 

Teknik analisis kondisi ekosistem Terumbu Karang

Teknik analisis kondisi ekosistem Terumbu Karang 
Teknik analisis kondisi ekosistem Terumbu Karang

a. Survei Manta Tow

Survei Manta Tow dapat digunakan untuk mengamati perubahan yang terjadi pada komunitas bentik pada ekosistem Terumbu Karang. Teknik survei ini dapat digunakan untuk menentukan lokasi Terumbu Karang yang masih baik atau yang telah rusak. Survei manta tow menggunakan prinsip pendugaan visual, sehingga dapat memberikan gambaran secara cepat mengenai kondisi daerah Terumbu Karang pada suatu areal yang luas. Teknik ini juga dapat digunakan untuk mengamati perubahan kondisi Terumbu Karang yang berlangsung cepat, misalnya akibat gangguan alam seperti badai Siklon, Tsunami, kematian masal Karang, dan peledakkan populasi Acanthaster.

Manta Tow menggunakan papan manta yang ditarik oleh perahu motor. Penarikan dilakukandengan kecepatan konstan pada daerah batas terluar suatu terumbu. Penarikkan dibgi kedalam beberapa seri penarikan dimana lama setiap penarikan berlangsung dua menit.selama kegiatan penarikan dilakukan pengamatan terhadap beberapa variabel, seperti presentase tutupan Karang hidup, karang mati dan karang lunak. Variabel-variabel ini dicatat pada kertas data sebagai kategori ataupun angka bulat. beberapa informasi tambahan dapat dikumpulkan, tergntung pada tujuan survei, seperti presentase tutupan air dan dan rubble, lokasi bom dan banyaknya kerang Trida cnadae, Diadema, dan Achantaster.

Kelebihan dari teknik mata tow adalah dapat digunakan untuk mengamati areal yang luas dengan cepat, dapat dilakukan dengan baik setelah mengikuti pelatihan, tidak mahal dan tidak membutuhkan peralatan yang terlalu spesifik danpengamatan dapat mencangkup areal yang luas tanpa terlalu melelahkan.
Kekurangan dari teknik manta tow ini adalah pengamatan dapat melenceng keluar areal pengamatan yang diinginkan karea arah penarikan ditentukan oleh pengemudi perahu yang hanya melihat Karang dari permukaan, pengamatan bias atau luput jika organisme yang diamati kurang nampak, pengamat terlalu banyak dituntut untuk mengingat sebelum dicatat, dan teknik ini tidak cocok digunakan pada perairan yang kecerahannya kurang.

b. Teknik Transek Garis

Pengamatan kondisi terumbu karang yang lebih detail dapat dilakukan dengan menggunakan teknik transek garis. Teknik ini pada mulanya dikembangkan untuk pengamatan ekologi tumbuhan darat. Teknik ini pertama kali diterapkan pada ekologi terumbu karang oleh Loya (1978), kemudian disusul oleh Marsh et al (1984). Teknik transek garis digunakan untuk mengamati komunitas organisme bentik pada ekosistem terumbu karang. Komunitas dikarakterisasi dengan menggunakan kategori lifeform yang ditetapkan berdasarkan deskripsi morfologi komunitas karang.

Kelebihan teknik inni adalah memungkinkan seseorang mengoleksi data penting meskipun kurang berpengalaman dalam hal identifikasi komunitas bentik Terumbu Karang. Transek garis merupakan teknik yang akurat dan efisien untuk mendapatkan data kuantitatif tentang tutupan Karang. Teknik ini tidak membutuhkan banyak peralatan dan relatif simpel.

Kekurangan teknik transek garis terletak pada sulitnya menstandarisasi beberapa kategori lifeform. Data yang dapat dikumpulkan terbatas pada presentase tutupan dan kelimpahan relatif. Teknik ini kurang baik untuk menentukan aspek demografi, seperti pertumbuhan, rekrutmen dan mortalitas. Kelemahan llainnya adalah meskipun dapat memberikan informasi tentang distribusi spasial, namun tidak dapat memberikan gambaran mengenai perubahan temporal.

c. Sensus Visual Ikan Karang

Ikan karang mempunyai nilai estetik dan ekonomi yang sangat penting untuk menunjang ekowisata. Oleh karena itu, kondisi dan keanekaragaman ikan karang perlu dijaga pada kawasan ekowisata. Kebadaan ikan karang tergantung pada kondisi Terumbu Karang. Ikan Karang memiliki kecenderungan melimpah pada Terumbu Karang dengan presensi tutupan yang tinggi. Tujuan survei ikan karang pada kawasan ekowisata adalah untuk mendapatkan data-data mengenai kecenderungan pertumbuhan populasi, apakah meningkat atau menurun, serta sebaran dan kelimpahan ikan Karang.
Keunggulan dari teknik sensus visual ikan karang adalah:
1. Teknik ini cukup efektif, baik secara kuantitatif maupun kualitatif
2. Cepat, tidak merusak dan relatif murah
3. Tidak membutuhkan tenaga kerja manusia yang banyak dan tidak memerlukan peralatan khusus
4. Dapat diulang pada area yang sama setiap saat
5. Pengumpulan data dapat dilakukan secara cepat
Kekurangan dari teknik sensus visual ini adalah:
1. Pengamat harus benar-benar terlatih dan berpengalaman
2. Pengamat bisa tertarik pada objek tertentu yang diminati

d. Sensus Rekrutmen Ikan Karang

Metode sensus ini kurang baik untuk kelompok anak ikan yang jarang dijumpai seperti Lutjanidae. Jenis ikan yang tidak mudah terlihat dan jarang tidak dapat diamati dengan adaptasi teknik manapun. Demkian juga untuk jenis ikan yang terlalu cepat gerakkannya.(English et al,1994)

Baca Juga: