Teori produksi

Dalam aktivitas produksi Sadr, mengklasifikasikan dua aspek yang mendasar terjadinya aktivitas produksi. Selain itu menurut Sadr sumber asli produksi dijabarkan dalam tiga kelompok yang terdiri atas alam, modal dan kerja. Dalam rangka menghujudkan pertumbuhan produksi Sadr menawarkan dua strategi.

  1. Strategidoctrinall/intelektual

Strategi ini bertolak pada asumsi bahwa manusia termotivasi untuk berkeja keras dipandang ibadah jika dilaksanakan dengan memahami niat seperti yang dinyatakan dalam Al-Quran.

  1. Strategilegeslative/hukum

Untuk keberlangsungan strategi doktrinal di atas, maka diperlukan aturan hukum. Beberapa strategi atau aturan hukum yang ditawarkan oleh Sadr, antara lain :

  1. Tanah yang menganggur dapat disita dan mestribusikannya kepada orang lain yang mampu dan mau mengarapnya.
  2. Larangan terhadap hima
  3. Laranan kegiatan transaksi yang tidak produktif
  4. Melakukan regulasi pasar dan mengkontrol sutuasi pasar
  5. pelangaran riba
  6. Distribusi kekayaan

Dalam pemikiran Sadr, distribusi kekayaan berjalan pada dua tingkatan, yang pertama adalah distribusi sumber-sumber produksi dan yang kedua adalah distribusi kekayaan produktif.

  1. Tanggun jawab pemerintah dalam bidang ekonomi

Menurut Sadr, fungsi pemerintah dalam bidang ekonomi terdapat beberapa tanggung jawab. Tanggung jawab dalam bidang ekonomi antara lain berkenaan dengan pertama, penyediaan akan terlaksananya jaminan sosial dalam masyrakat, kedua berkenaan dengan tercapainya keseimbangan sosial dan ketiga keterkaitan adanya intervensi pemerintah dalam bidang ekonomi, yang dapat dijelaskan sebagai berikut :

1)    Jaminan sosial di tengah-tengah kehidupan masyarakat

2)    Menghujutkan keseimbangan sosial

  1. Pandang beliau tentang larangan Riba dan perintah Zakat

Muhammad Baqir As-Sadr tidak banyak membicarakan riba, penafsiranya pada riba terbatas pada uang modal. Sedangkan mengenai zakat , zakat adalah solidaritas umat Islam untuk menghujudkan jiwa saling tolong menolong di krhidupan social, ini adalah inovasi yang baik bagi mereka yang sedang mengalami kemandekan dalam berekonomi. Ini juga merupakan sarana untuk menolong mereka yang tidak mampu, yang sakit, para yatim piatu sehingga terhujud persamaan, kesetabilan kondisi dan ketentraman jiwa. Diatas semua itu, zakat adalah sesuatu yang tidak pernah hilang dalam pikiran umat Isalm. Beliau memandang hal ini sebagai tugas negara. [3]