Teori tentang akal

            Teori psikologi Aristoteles telah lama terkenal sederhana dan tepat, dan sebagai suatu studi objektif, ia tidak kurang diperhatikan. Pengelompokan Aristoteles akan unsur-unsur jiwa adalah yang pertama akan hal ini.ia menekankan kesatuan meski terdapat kejamakan unsur jiwa dan menjelaskan pertaliannya dengan tubuh. Ia telah mengupayakan teori tentang akal, meski tak memadai sehingga menimbulkan masalah yang membingungkan yang modern dan yang kuno. Tetapitulisannya ”perihal jiwa” merupakan karya terbaik diantara karya kuno psikologi, bahkan melebihi karya modern, pada abad-abad pertengahan, ia merupakan epepuler  organon.[11]

            Buku ini diperkenalkan kepada orang Arab melalui terjemahan bahasa Syria dan bahasa Yunani, berikut komentar kuno terutama komentar Alexander daari Aphrodisias, themestius, simplicius. Ia merupakan subyek studi extensif filosof muslim yang memberikan komentar dan uraian tentangnya. Terpengaruh oleh aristoteles dan karyanya, para filosof ini menulis berbagai dalil dan berbagai uraian tentang psikologi, mereka terutama memusatkan pada masalah akal yang merupakan salah satu masalah-masalah yang dipelajari oleh para filosof skolastik.

            Al-farabi menyadari sepenuhnya arti masalah ini, melibat didalamnya suatu rangkaian dari 10 teori ilmu pengetahuan. Ia dengan baik mengidentifikasikannya dengan filsafatnya sendiri, karena berkaitan dengan teori 10 intelegensi, dan juga merupakan pondasi teori kenabian. Ia telah membahas masalah akal di berapa tempat dalam karya-karyanya, dan ia telah mengupayakan suatu karya yang menyeluruh, “perihal aneka makna akal”. Karya ini tersebar luas dikalangan sarjana Timur dan Barat abat pertengahan dan diterjemahkan ke bahasa latin.

            Al-farabi mengelompokan menjadi akal praktis, yaitu yang menyimpulkan apa yang akan dikerjakan, dan teoritis yaitu yang membantu menyempurnakan jiwa. Akal teoritis ini dibagi jadi 2 yaitu yang fisik(material), yang terbiasa (habitual) dan yang diperoleh (aqhuiret).

  1. Teori tentang kenabian

            Dasar setiap agama langit adalah wahyu dan inspirasi. Seorang Nabi adalah seorang yang dianugrahi kesempatan untuk dapat langsung berhubungan dengan Tuhan dan diberi langsung untuk menyatakan kehendaknya.[12] Islam, sebagaimana agama-agama langit lainnya, mempunyai Tuhan sebagai penguasanya. Al-Qur’an mengatakan: “ia tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan Tuhan yang maha kuasa telah mengajarnya”. Q.S 53: 4-5. Adalah sangat perlu bagi filosof-filosof muslim memberi penghormatan kepada kenabian, merujukkn rasionalitas dengan tradisionalisme, dan mengawali bahasa-bahasa bumi dengan firman-firman. Hal ini telah diusahakan oleh Al-farabi. Teori tentang kenabian dapatlah dianggap sebagai usaha yang paling berarti dalam merujukkan agama dan filsafat. Bahkan dapat juga dianggap sebagai bagian utama dari sistem yang disusunnya, dengan landasan psikologi dan meta fisika dan hal itu berkaitan erat dengan ilmu politik dan etika.

 

sumber :