Terumbu Karang

Terumbu Karang

Terumbu Karang
Terumbu Karang

Definisi Terumbu Karang

Dalam membicarakan mengenai ekosistem Terumbu Karang ada beberapa istilah yang kedengarannya sama, namun maknanya berbeda. Ada empat istilah yang berkaitan dengan kata karang, yaitu: terumbu Karang, karang, batu karang dan karang batu. Terumbu Karang adalah bangunan kapur besar yang dibentuk dan dihasilkan oleh binatang karang dan organisme berkapur lainnya, sehingga membentuk suatu ekosistem yang kompak sebagai habitat bagi biota-biota laut. Karang adalah suatu kelompok organisme dari filum Coelenterata, kelas Anthozoa, terutama dari ordo Scleractinia yang merupakan pembentuk karang batu dan karang lunak. Karang batu adalah karang hidup yang khusus berkapur,biasanya disebut juga sebagai karang hermatipik.sedangkan batu karang adalah karang yang sudah mati berupa batu kapur.

Terumbu Karang merupakan suatu ekosistem khas yang terdapat diwilayah pesisir daerah tropis. Terumbu terbentuk dari endapan masif kalsium Karbonat yang dihasilkan oleh organisme karang hermatipik yang hidup bersisbiosis dengan Zooxanthellae. Zooxanthellae dapat menghasilkan bahan organik melalui proses fotosintesis , yang kemudian disekresikan sebagian kedalam usus polip sebagai pangan.

Fungsi dan Manfaat Ekosistem Karang

Beberapa fungsi dan manfaat Terumbu Karang bagi kehidupan manusia baik dari segi ekonomi maupun penunjang kegiatan pariwisata, diantaranya:
1. Tempat tinggal, berkembang biak dan mencari makan ribuan jenis ikan, hewan dan tumbuhan yang menjadi tumpuan kita
2. Indonesia memiliki Terumbu Karang terluas di dunia, dengan luas sekitar 600.000 km2. Hal ini dapat menjadi sumber daya laut mempunyai nilai potensi ekonomi yang sangat tinggi
3. Sebagai laboratorium alam untuk penunjang pendidikan ddan penelitian
4. Dari segi fisik terumbu karang berfungsi sebagai pelindung pantai dari erosi dan abrasi, struktur karang yang keras dapat menahan gelombang dan arus sehingga mengurangi abrasi pantai dan mencegah rusaknya ekosistempantai lain seperti padang lamun dan mangrove
5. Keindahan Terumbu Karang sangat potensial untuk wisata bahari. Masyarakat di sekitar Terumbu Karang dapat memanfaatkan hal ini dengan mendirikan pusat-pusat penyelaman, restoran, penginapan sehingga pendapatan bertambah.

Kerusakan dan degradasi ekosistem karang

Terumbu karang mengalami banyak tekanan sebagai akibat dari pola pemanfaatan yang tidak ramah lingkunagan. Hasil pengamatan Suharsono menyatakan bahwa terdapat 325 stasiun yang tersebar di seluruh Indonesia, bahwa hanya 7 % Terumbu Karang Indonesia dalam kondisi sangat baik. Sebanyak 22 % dalam kondisi baik, 28 % dalam kondisi sedang dan 43 % dalam kondisi miskin. Wilkinson menempatka Terumbu Karang Indonesia dalam kategori kritis dan terancam.(Ambon:2011,dalam PENGENDALIAN EKOWISATA PESISIR DAN LAUT )

Berdasarkan data Departemen kelautan dan Perikanan, saat ini sekitar 70 % terumbu karang di laut Indonesia kondisinya sudah rusak parah dan hanya 30% yang masih relatif bagus.

Padang (ANTARA News) – Dinas Keluatan dan Perikanan (DKP) Sumatera Barat mencatat sekitar 70 persen dari 37 ribu hektare lebih luas terumbu karang di perairan Sumatera Barat (Sumbar) mengalami kerusakan.
“Umumnya kerusakan terumbu karang di Sumbar disebabkan terjadinya pengendapan dan peningkatan kekeruhan perairan dalam ekosistem karang akibat erosi tanah di daratan, serta kegiatan penggalian dan penambangan di sekitar terumbu karang,” kata Kepala DKP Sumbar Yosmeri di Padang
Dari Jawa Tengah, kepulauan Karimun Jawa juga mengalami kerusakan cukup parah. Kepala Balai Taman Nasional Karimun Jawa, F Kurung menjelaskan,”Kerusakan terumbu karang itu selain disebabkan karena faktor alam, juga ulah manusia di masa lalu. “Kalau terumbu karang rusak, untuk merehabilitasinya butuh waktu pulihan tahun,” terangnya. Keberadaan terumbu karang tiu sangat vital sebagai ekosistem laut. Selain membuat ikan betah tinggal dan berkembang biak, juga merupakan objek wisata bahari paling diminati wisatawan. “Kalau terumbu karang terawat, maka efek positifnya sampai juga ke masyarakat,” terangnya kepada Suara Merdeka. (Aji Wihardandi:2012)

Dari data Dinas Kelautan dan Perikanan Sulsel, tingkat kerusakan kawasan terumbu karang mencapai 55%. Kerusakan terparah di tiga daerah yaitu Kepulauan Spermonde di Selat Makassar, Taka Bonerate di Kabupaten Selayar, dan Pulau Sembilan di Kabupaten Sinjai.


Sumber: https://lakonlokal.id/jasa-penulis-artikel/