Wajah buram guru honor di Indonesia

Wajah buram guru honor di Indonesia

Wajah buram guru honor di Indonesia
Wajah buram guru honor di Indonesia

Guru honorer di Depok menuntut upah yang layak kepada Pemerintah Kota. Dengan waktu lamanya mengajar belasan tahun tetapi mereka hanya memperoleh gaji Rp500 ribu hingga Rp700 ribu.

“Kami menuntut Wali Kota Mengakomodir kami. Karena selama ini kami terus dinjanjikan untuk diangkat menjadi PNS, tetapi selalu diingkari dan diabaikan,” kata Nur Komar, salah satu pendemo, di Balai Kota Depok, Senin (17/6/2013).

Diceritakan dia, tahun 2005 sebanyak 320 honorer kategori 1 (K1) dijanjikan diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), namun janji itu diingkari tanpa kabar berita.

Selanjutnya, pada tahun 2009 janji kembali datang dari Dinas Pendidikan Kota Depok, namun mereka tak kunjung diangkat. “Terakhir 2012 lalu (dijanjikan), tetapi sampai sekarang tak ada penjelasan sama sekali,” ucapnya.

Potret menyedihkan itu kembali diungkapkan oleh seorang guru bernama Ida yang sudah mengajar 15 tahun di sebuah sekolah SD negeri di Sukmajaya, Depok. Ida mengaku, ia mengajar sejak tahun 1998, dengan gaji hanya sebesar Rp75 ribu per bulan.

“Zaman sekarang gaji hanya Rp500 ribu sampai Rp700 ribu

mau makan apa, barang-barang sudah makin mahal, UMK (Upah Minimum Kota) saja sudah Rp2 juta, bagaimana nasib kami, belum lagi tekanan dari sekolah, beban kerja kami disamakan dengan guru yang pegawai negeri,” paparnya kepada wartawan.

Ida juga mengaku miris dengan nasib guru honorer

yang belum juga diangkat menjadi Calon PNS. Bahkan anak didiknya saat ini yang berprofesi menjadi guru, sudah menjadi CPNS.

“Banyak anak-anak yang dulu kami ajar, saat datang ke sekolah bercerita sudah diangkat, sudah lebih mapan dari gurunya, itu membuat kami sedih,” ungkapnya.

Guru honorer dibagi menjadi tiga kategori

. Pertama yakni K1 guru honorer yang bekerja sejak lama sampai tahun 2005 berjumlah 320 orang. Sementara kategori 2 (K2) guru honorer yang bekerja dari tahun 2005 sampai sekarang berjumlah lebih dari 500.

“Yang paling menyedihkan nasib guru honorer K1, dan banyak guru honorer yang baru bekerja lebih baru daripada kami dimanipulasi datanya seolah sudah lama bekerja dan layak diangkat, ini kami menduga pasti ada permainan jatah orang dalam, dan kami seolah diadu dengan sesama guru honorer,” tukasnya.

 

Baca Juga :