Zaman Milenial, Bahasa Inggris Harus Jadi Gaya Hidup

Zaman Milenial, Bahasa Inggris Harus Jadi Gaya Hidup

Zaman Milenial, Bahasa Inggris Harus Jadi Gaya Hidup
Zaman Milenial, Bahasa Inggris Harus Jadi Gaya Hidup

Bahasa asing di zaman milenial dan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) menjadi jembatan dunia. Tentu bahasa yang paling penting untuk diaplikasikan adalah Bahasa Inggris. Kesulitan masyarakat Indonesia khususnya anak muda, malu dan takut saat mencoba berbicara dengan orang lain, apalagi orang asing. Latihan dan latihan serta membiasakan berbicara dalam bahasa Inggris dapat dimulai sebagai gaya hidup.

Tak usah ragu atau takut salah bahkan dianggap sok tahu saat berani berbicara dengan bahasa Inggris. Pasalnya, semahal-mahalnya kursus yang diikuti, jika tak diasah atau diaplikasikan tetap akan sulit. Apalagi jika kursus sudah selesai, tetap saja ilmu yang diperoleg terbuang percuma.

“Kami berupaya untuk membantu masyarakat Indonesia agar dapat berkomunikasi secara efektif dan penuh percaya diri dengan menggunakan bahasa Inggris. Bagaimana berbicara bahasa Inggris sama lancarnya saat berbicara Bahasa Indonesia. Tentu harus tetap latihan dan latihan sekalipun selesai dari kursus,” tegas President Director Wall Street Indonesia, Kish Gill dalam konferensi pers, Rabu (2/8).

Sehingga, kata Gill, berbicara bahasa Inggris dapat menjadi gaya hidup

khususnya bagi generasi milenial. Metode yang diajarkan yakni “Blended Learning Method” dan “Flipped Classroom” yakni memadukan tatap muka oleh para ahli berkualitas hingga native speaker.

“Caranya mencoba speaking dulu. Ketika salah maka kami benarkan hingga grammar. Kami start umur 16 tahun anak-anak milenial tetapi enggak menutup kemungkinan usia 60 tahun juga bisa. Anak-anak muda ini betul-betul ingin diasah kemampuan berbahasanya,” papar Gill.

Perkembangan dan potensi pasar kursus bahasa Inggris semakin luas dengan

jumlah penduduk Indonesia keempat terbesar di dunia. Bahkan berbagai perusahaan asing yang masuk menuntut Sumber Daya Manusia di dalam negeri agar memahami dan tak menemukan kendala dalam berkomunikasi khususnya bahasa Inggris.

“Indonesia negara berkembang. Investasi banyak yang masuk. Jangan sampai negara kita dikuasai asing dan kita enggak bisa apa-apa,” kata Gill.

Catatan Wall Street English, hingga saat ini rata-rata siswa atau mahasiswa

yang memahami bahasa Inggris dengan lancar adalah mereka yang pernah kursus atau berasal dari sekolah favorit dan sekolah internasional. Sedangkan siswa yang tidak pernah kursus bahkan takut untuk mencoba, akan kesulitan dalam berbicara bahasa Inggris.

 

Sumber :

https://www.buzzfeed.com/danuaji/signs-of-the-cat-infected-with-rabies-6gklbipwse