Zoom Akui Salah Langkah Soal Keamanan dan Privasi Data Pengguna

Zoom Akui Salah Langkah Soal Keamanan dan Privasi Data Pengguna

 

Zoom Akui Salah Langkah Soal Keamanan dan Privasi Data Pengguna
Zoom Akui Salah Langkah Soal Keamanan dan Privasi Data Pengguna

CEO Zoom Eric S. Yuan menanggapi temuan masalah keamanan dan privasi yang muncul beberapa waktu belakang ini dan mengakui dirinya salah langkah.

Hal ini disampaikan dalam sebuah wawancara yang dikutip The Verge, Minggu (5/4/2020).

Yuan mengatakan, “kami bergerak terlalu cepat dan kami salah langkah. Kami telah mempelajari dan kami telah mengambil langkah mundur untuk fokus pada privasi dan keamanan.”

Sebelumnya, dalam wawancara kepada Wall Street Journal, Yuan mengatakan bahwa dia benar-benar kacau sebagai CEO. Dia juga merasa berkewajiban untuk memenangkan kembali kepercayaan pengguna.

Penggunaan Zoom meningkat tajam ketika orang-orang, yang harus berada di rumah untuk memutus rantai penyebaran pandemi virus corona, menggunakannya untuk tetap terhubung dengan pekerjaan maupun kegiatan belajar mengajar.

Yuan menyebutkan bahwa penggunaan Zoom mencapai 200 juta peserta rapat harian pada Maret, naik dari hanya 10 juta peserta rapat pada Desember, sebagaimana dikutip dalam unggahan blog pada Rabu (1/4/2020).

Zoom menjadi target iseng atau Zoombombing yang memungkinkan orang

tanpa diundang masuk dalam rapat. Perusahaan yang berbasis di Amerika Serikat itu kemudian bertekad untuk menyelesaikan masalah keamanan, dengan mengumumkan pada Kamis (2/4/2020), penghentian pembaruan fitur selama 90 hari untuk fokus pada privasi dan keamanan.

Kekhawatiran keamanan pada Zoom telah membuat sejumlah sekolah di AS, termasuk di kota New York, untuk melarang penggunaan platform konferensi video itu dalam kelas online.

Departemen Pendidikan kota New York kepada para guru mengatakan bahwa mereka tidak boleh menggunakan Zoom, dan menggelar kelas online menggunakan layanan pesaingnya, Microsoft Teams.

“Kami masih dalam proses bekerja sama dengan mereka,” kata Yuan mengacu pada pihak sekolah di New York.

“Kami ingin Zoom menjadi perusahaan yang mengutamakan privasi dan

keamanan,” dia menambahkan.

Sebelumnya, Jaksa Agung New York, Letitia James, mengirim surat kepada Zoom pada Senin, 30 Maret dan mempertanyakan langkah perusahaan dalam memastikan privasi dan keamanan pengguna.

Pada hari yang sama, FBI memperingatkan bahwa aktivitas meeting di Zoom berpotensi untuk diserang peretas. FBI meminta pengguna yang ‘diserang’ untuk melaporkan hal itu.

Pada Selasa, 31 Maret lalu, The Intercept dalam sebuah laporannya mempublikasikan bahwa Zoom tak sepenuhnya aman lantaran tidak didukung enkripsi ujung-ke-ujung.

Terkini, SpaceX, perusahaan teknologi AS yang dinahkodai oleh Elon Musk,

meminta karyawannya untuk tak menggunakan Zoom terkait masalah itu, sebagaimana diwartakan CNET.

“Silakan gunakan email, teks, atau telepon sebagai alat komunikasi alternatif,” imbauan SpaceX kepada karyawannya melalui email.

 

Baca Juga: